Dalam Beragama: Penting mana ‘Ilmu alat’ atau ‘melaksanakan ilmu’? (bagian 1)


Latar Belakang Manusia Indonesia

Saya terdidik untuk melaksanakan ilmu, tidak begitu dididik untuk begitu jeli terhadap ilmu-alat. Ilmu alat-menyusul tatkala saya telah sering melaksanakan-ilmu. Namun, kalau ilmu-alat dikedepankan, maka pelaksanaannya kurang disiplin.

Para pendidik berusaha menyesuaikan tempat, apalagi statusnya Negara Indonesia. Indonesia subur dengan tanahnya. Subuh dengan alamnya. Karena subur alam, maka tentu, banyak airnya. Melimpah. Banyak pulau, dan pulau itu dikitari air. Dan air adalah sumbernya kehidupan. Indonesia cukup untuk menghidupi diri dan mempunyai prinsip sendiri, karena telah tercukupi oleh kebutuhaan pangannya.

Kehidupan bermula dari pangan, tatkala pangan tercukupi, maka telah sah untuk menjalani prosesi kehidupanan. Itulah titik awal proses kehidupan. Adanya pangan. Dan Indonesia telah sah untuk dikatakan itu.

Selanjutnya, karena orang-orang sibuk dengan pangannya, sibuk dengan mengolah tanahnya, namun ternyata hidup bukan tentang perkara makan, hidup bukan sekedar tentang makan dan mencari makan.

Tatkala penduduk menetap, maka mereka menjalin hubungan dengan manusia yang lainnya, sehinggalah dari sana terciptalah peraturan. Dan kegunaan peraturan adalah memudahkan ‘pola’ kehidupan bersama-sama itu. Sekali pun, banyak waktu dipergunakan untuk mengolah tanah.

Anggap saja, setengah hari, mulai dari jam enam pagi sampai jam enam petang, manusia bekerja, lalu malamnya mereka bertemu dengan manusia-manusia lain, disitulah peraturan di buat. Disitulah peraturan di gunakan.

Manakah yang lebih penting: ilmu alat atau ilmu-praktek?

JAWABNYA:

Karena banyaknya mengolah alam (tanah, kebun, laut) maka ilmu yang diterapkan adalah ilmu-praktis: mengajarinya dengan ketekunan bekerja, lalu disaat itulah si pekerja di ajari bagaimana baiknya bekerja.

Dengan hipotesis seperti itu, maka teramat jelas bahwa yang paling diutamakan adalah ilmu praktisnya. Ilmu kelangsungan, dan ilmu alat menyusul. Dengan tujuan, memperindah, mempersingkat, mempermudah tentang apa yang dikerjakan.

Kalau mereka ‘si pekerja awal’ menjalankan kerja tanpa menggunakan ilmu, maka dia bekerja dengan keras menggunakan akalnya. Dia sembarangan, mencari cara mudah dengan membiasakan, mencari cara untuk bagaimana memperindah dengan kebiasaan-kebiasaan (bermodal pengalaman).

Begitu juga dengan agama islam, yang peting dikabarkan adalah tentang pelaksanaannya. Lamat-lamat diajari tentang alat-alatnya, gunanya untuk memperindah keagamaan. Untuk mempermudah bagaimana beragama.

Itulah yang lebih mendarah daging buat manusia-indonesia tentang keagamaan. Mereka bermodalkan keyakinan.

Rasa yakin: Rasa yakin dengan mudah diterapkan, karena sekedar yakin.

Yakin terhadap apa yang diyakini, Allah: siapa Allah? Yakni yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan asal-usul manusia.

Seringkas itu jawabannya. Dan orang-orang yang berstatus tukang-kerja –pekerja, karena memang daerahnya adalah sarat untuk dikerjakan—maka orang-orang tidak perlu mencari lebih lanjut tentang: mengapa harus kepada Allah kita menyembah? Mengapa harus kalimat Allah? Dan pertanyaan detail ala-ala orang-orang yang mempunyai tradisi-keilmiahan-lebih lanjut (Kaum eropa: sejenak diingatkan, bahwa orang-orang eropa, dari generasi yunani, lebat dengan sesuatu yang disebut ilmu. Penggunaan bahasa ilmu adalah dari bahasa arab, yakni tahu. Tentang tahu. Alim adalah orang yang menjalankan, ketahuannya. Dan alam adalah wujud dari kebaradaannya. Dan bangsa eropa: sarat menggunakan ilmu, karena ada kesempatan untuk berdialektika dengan keilmuan, dan bisa jadi, karena geografisnya mendukung untuk berdialek dengan sesuatu yang berada di dalam diri manusia: benak, pikiran).

Alasan tidak perlu-ditindak lanjuti karena tercukupkan dengan materi. Tercukupkan dengan apa-apa yang dibutuhkan manusia.

Belum ada Komentar untuk "Dalam Beragama: Penting mana ‘Ilmu alat’ atau ‘melaksanakan ilmu’? (bagian 1)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel