Surat buat guru: Tentang Pembaacaan Al-quran: Laiknya Puitisasi

 
Dalam perjalanan waktuku, tatkala menulis, maka perlahan-lahan mengenal dunia kata-kata, berusaha mengenal lebih lanjut tentang makna-makna di balik kata. Mencari padanan kata. Sibuk dengan kata-kata. Membaca kamus bahasa. Mencari makna dari setiap kata. Mencari asal-usul kata. Tujuannya, tentu untuk mendapatkan esensi dari puisi itu sendiri.

Seletah itu, dalam dunia perpuisian, ada juga acara-lanjutan yakni pembacaan puisi. Membaca puisi harus menangkap pesan apa yang hendak disampaikan dari puisi. Menyampaikan pesan apa yang disampaikan puisi. Meresapi puisi tatkala pembacaan: tujuannya, tentu supaya penonton turut serta dalam puisi tersebut.

Hal itu yang sering saya lakukan tatkala membaca al-quran. Tatkala konser di speaker mushola atau speaker masjid. Bagi saya, azan, bukanlah sekedar menyeru kepada orang-orang namun menyeru kepada diri sendiri, dan bahasanya harus laiknya membaca puisi. Mengetahui makna. Menyampaikan makna. Oleh karenanya, sejauh ini, azanku selalu begitu: nada kurang dipentingkan, namun pesan yang dipentingkan.

Sebab saat membaca puisi, nada adalah efek lain, yang diutamakan adalah pesan dari nada. Bukan nadanya.

Begitu juga yang saya lakukan tatkala pujian, tatkala mendengugkan pujian. Tujuannya bukan nadanya, namun pesan dari apa yang saya nadakan. Begitu juga yang saya lakukan tatkala iqomat.

Hal itu juga saya lakukan tatkala membaca al-quran, yang diutamakan adalah pesannya, bukan nadanya. Oleh karenanya, mengajiku seperti yang telah Bapak ketahui. Tujuannya bukan nadanya, namun pesannya.

Namun akhir-akhir ini, saya merasa kewalahan. Dan sejauh ini, saya belum mampu membaca al-quran sebagai teks. karena pengetahuan bahasa-al-quran menambah, maka perpuitisasian membaca al-quran semakin menjadi. Efeknya, saya seringkali tidak mampu membaca cepat. Seringkali terganggu dengan pertanyaan:

“Hayo. Hayo. Apa yang engkau baca? apa yang engkau sampaikan? Sudahkah engkau mengetahui apa yang engkau bacakan?”

Sering juga saya menjawab:

“Bukankah tujuannya adalah membaca. Jangan tekan aku harus memaknai apa-apa yang aku baca. jangan.”

Namun sayang, jawabanku itu, tidak mempan, jawabanku selalu mental. Selalu terbang. Selalu kabur. Selalu yang datang adalah pengupayaan pemaknaan makna. Selalu itu yang terbesit. Seakan, dan mengharuskan mengerti makna. Kalau tidak, saya merasa diejek:

“Kamu laksana burung beo sedang berkicau, tidak mengetahui apa yang dikicaukan! Kamu laksana orang yang membual. Membual yang tidak tahu bualannya. Kamu laksana orang yang berbicara panjang, tapi tidak tahu apa yang dibicarakan.”

Wal-hasil, saya berusaha mengetahui makna-makna gampang isi dari al-quran, dengan pembacaan teks-indonesia. Terjemahan. Lalu diresap-resapkan dalam pikiran. Tujuannya tentu, untuk menjawab apa yang berkumandang di dalam diriku. Dan peresapan itu, berusaha mengetahui makna itu.

Bersama dengan pemaknaan, tatkala membaca al-quran, saya laksana membacakan puisitisasi al-quran. Yang terkhusus kepadaku, yang umumnya orang yang mendengar. Saya berusaha menyampaikan makna buatku, berusaha menyampaikan pesan buatku, dan jika orang-orang merasakan mendapatkan dari bacaanku, itulah keberuntungan mereka.

Saya lenggak-lenggukkan tentang akhir ayat. Hal itu juga, didukung dengan pengetahuanku tentang lagu-tilawah, maka jadilah pembacaanku seperti yang Bapak ketahui.

Namun jangan simpelkan, bahwa pemaknaanku sempurna. Belum. Pengetahuanku belum sempurna. Penangkapan maknaku belum sempurna. Bahasa al-quran belum menyatu dengan diriku. Makna suratan al-quran belum masuk dalam diriku. Masih sulit bagiku, untuk meresapkan kata-makna didalam pemikiranku.

Seringnya yang terjadi, adalah ayat demi ayat yang tertangkap, belum mampu benar menangkap keseluruhan surat. Suratan al-quran, masih sepotong-sepotong dalam bingkai pemikiranku. Terlebih parah lagi, saat membaca mungkin terngiang, setelah ditambah dengan ayat yang lain ayat sebelumnya laksana hilang.

dan puitisasi al-quran, saya sebutkan begini: akhir kalimat mirip-mirip. Kalau disusun laksana syair, empat-empat atau enam-enam, maka akan ketemu jalur pembacaannya. Hal itu, saya sadari tatkala saya berusaha mengamati surat assyuara. Suratan para penyair. Dengan suratan itu, tatkala pembacaan, merasakan betapa dahsyatnya rangkaian kalimat dalam al-quran, yang menjadikan pembaca bakal masuk ke dalam teks. dan bermain dalam keindahan teks al-quran.

Akhir kata, al-quran bukanlah syair, al-quran melampaui syair. dan saya melaporkan ini, kepadamu.

Mohon doa dan restu…

Belum ada Komentar untuk "Surat buat guru: Tentang Pembaacaan Al-quran: Laiknya Puitisasi "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel