Surat buat guru: TENTANG MEMBACA BUKU

Ternyata, aku benar-benar bukanlah penghobi membaca, sekedar melintasi buku demi buku atau ditemani buku-buku yang tebal. Buku-buku yang tebal lalu dikutip sebagian. Lalu saya tidak teringat jelas terhadap kutipan tersebut. Padahal itu sebuah kutipan kecil.

Tatkala saya mengamati. Sejak kapan aku menyelesaikan teks-buku, dan apa yang saya incar dari sebuah pembacaan. Apa yang benar-benar ingin saya raih tatkala membaca, ternyata, sejauh ini adalah peraihan yang tidak seraih-raihnya.

Membaca karena tuntutan waktu harus membaca, karena yang lain menutut untuk membaca, karena ujian akan tiba. Selain itu, adalah kutipan-kutipan belaka. Dengan seperti itu, bagaimana mungkin kuaku aku orang pandai dalam keilmuan?

Bahkan al-quran yang sejauh ini, selama ini, mempunyai nilai tertinggi dari pembacaan, tidak dibaca secara benar-benar, al-quran dibaca menurut kualitas hukum-hukum tajwidnya, berlintas pada itu, itu pun masih belum sepenuhnya benar, masih jauh dari kalimat benar-benar benar. Yakni mendapat nilai 100, karena harus dijujurkan, saya tidak hapal benar tentang hukum-hukum tajwid, namun saya memahami ini harusnya membaca ini, harusnya membaca ini.

Saya memang mengerti tentang macam-macam mad, yakni yang dipanjangkan, namun kalau dilebih lanjutkan, maka tidak benar-benar mengerti. Tidak hapal benar. Seharusnya, kalaulah saya hapal tentang hukum-hukum tajwid, tentu saya hapal beberapa kitab tajwid: sayangnya, sejauh ini, saya tidak merasa hapal kitab-kitab tajwid, terlebih lagi, siapa yang mengarangnya!

Apakah harus dihapalkan tentang pengarang kitab? Namun, bagaimana aku bisa menyebutkan itu adalah kitab kalau saya tidak mengetahui siapa pengarangnya. Bahkan kitab dasar tajwid tidak memahami. Bahkan buku kecil itu, kitab tajwid itu, saya tidak pernah membaca secara keseluruhan, pembacaan kitab adalah dibacakan oleh kiai atau guru mengaji, lalu saya mempraktekkan dan tatkala membaca al-quran dibenarkan sedikit demi sedikit tentang hapalanku.

Bahkan membaca al-quran secara penuh, tidak pernah dalam sekali baca. Bahkan secara keseluruhan saya belum pernah membacanya. membaca, langsung tamat.

Tajwidnya saja kurang, apalagi tentang maknanya. Bahkan pengetahuan bahasa-al-quran saya tidak memahami: kalau dipikir, bagaimana saya mendapat pentunjuk kalau saya tidak mengetahui kitab petunjuk?

Memang buku petunjuk adalah buku panduan, layaknya buku panduan praktis tatkala membeli sesuatu, harus sesuai dengan prosedur. Ternyata, untuk membaca itu yang paling penting adalah memhami. Ternyata, sejauh ini, kepemahaman saya sangatlah dangkal. Dangkal sekali.

**

Telah jelas. Jelas sekali. Bahwa dengan membaca maka akan menjadi pandai. Menjadi cerdas. Sayangnya, pembacaan saya sejauh ini, sekedar pembacaan yang bukan secara teks, sedikit sekali tentang teks—seperti yang telah saya sebutkan diatas-- namun pembacaan realitas, realitas yang lingkupannya kecil, paling mentok cangkupannya adalah desa tempat tinggal, kemudian dikerecutukan kepada hati orang-orang. Lalu dikrucutkan menjadi kumpulan teman. Dari teman di krucutkan lagi menjadi istilah teman-dekat. Pembacaan saya sedangkal itu.

Seringkali saya tidak membaca tentang rumah-rumah, tentang bangungan-bangungan, tentang sosial, tentang pasar-pasar, tentang anak-anak gelandangan, tentang kendaraan-kendaraan, semua itu adalah sampiran belaka, saya tidak benar-benar memahami apa yang telah terpampar di depan mata saya. Apakah itu harus dibaca? Kalaulah saya tahu, bahwa membaca adalah cakrawalanya dunia. Maka penting dibaca.

Sebab rumah-rumah terpengaruh dengan kondisi yang ada. Sebab bangunan-bangunan terpengaruh kondisi yang yada. Dan tentang pasar-pasar adalah penjualan produk-produk yang populer. Dan anak-anak gelandangan akibat dari kemajuan zaman, dan kendaraan-kendaraan adalah wujud teknologi yang semakin marak dan layak dimiliki.

Saya berpikir, bahwa saya enggan untuk melihat dunia. Saya lebih memilih menjadi orang yang sedikit pengetahuan dibanding yang banyak. Saya berpikir, enggan untuk lebih lanjut medayakan akal saya. Saya berpikir, bahwa dengan bekerja mendapatkan upah lalu ibadah, itu adalah cara ringkas yang muh.

Cara yang sesuai dengan kondisi yang ada. Yakni sarat akan realitas yang sesungguhnya.

Memang tidak ada yang salah kalau saya mengikuti kondisi yang ada. Tidak ada yang salah kalau saya lebih memilih untuk lebih bersantai dan bermalam-malasan.. asal saya mampu mempertahannakan hidup saya, asa saya bisa makan, maka hidup benar-benar menjadi empelan belaka.

Namun tujuan saya kemari, adalah membcicarakan tentang pembacaan saya yagn dasngkal. Mungkin bagimu berat, karena mempunh.

Cara yang sesuai dengan kondisi yang ada. Yakni sarat akan realitas yang sesungguhnya.

Memang tidka ada yang salah kalau saya mengikuti kondisi yang ada. Tidka ada yang salah kalau saya lebih memilih untuk lebih bersantai dan bermalam-malasan.. asal saya mampu mempertahannakan hidup saya, asa saya bisa makan, maka hidup benar-benar menjadi empelan belaka.

Namun tujuan saya kemari, adalah membicarakan tentang pembacaan saya yang dangkal. Mungkin bagimu berat, karena mempunyai murid yang tak rajin, dan mungkin engkau emoh karena mempunyai murid yang minim gairah keilmuan.

Dan murid yang engkau perdulikan adalah mereka yang mempunyai kecerdasan secara realitas. Mereka mempunyai prestasi dan guru senang tatkala murid meraih tingkat akan kecerdasaannya. Sayangnya, saya tidak seperti itu. Saya tidak mempunyai prestasi. Tidak.

Saya teramat jarang membaca. Sangat. Dan engkau dihadapkan murid yang seperti itu.

**

Kalau membaca pun saya tidak punya tujuan, tentu itu yang lebih berbahaya. Kalaulah membaca mempunyai tujuan. Itu akan terasa ringan. Terasa mudah. Dan saya baru menyadari itu. Baru menyadari hal itu, bahwa saya kurang dengan pembacaan.

Mohon doa restunya…

Belum ada Komentar untuk "Surat buat guru: TENTANG MEMBACA BUKU "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel