Surat Buat Guru: Realitas Muslim: Menjalankan Apa Yang Diajarkan



Aku persis seperti yang lain, menerima islam secara sederhana dan biasa. Menjalankan perintah agama sekedarnya, yakni tatkala waktunya shalat, shalat. Tatkala waktunya bekerja, bekerja. Jangan lupa membaca Al-Quran. Jangan lupa mengaji. Jangan lupa shalat jamaah di mushola. Jangan lupa besok, setelah lulus kuliah, bekerja.

Jalanilah hidupmu seperti orang-orang menjalankan. Janganlah sok sibuk memikirkan sesuatu tentang agama. Janganlah muluk-muluk terhadap sesuatu yang bernama intelektualitas. Pintarlah sekedarnya saja. Kalau bisa, kayalah. Kalau bisa bekerjalah yang layak. Kalau bisa jadi ‘orang’: jadilah guru atau jadilah orang-orang yang terhormat.

Syukur-syukur kalau menjadi Kiai. Syukur-syukur mulang mengaji. Janganlah berharap lebih terhadap keduniaan, apalagi tentang menggengam dunia. Janganlah sok menjadi pemikir, yang benar adalah realitas. Realitas adalah sesuatu yang nyata. Janganlah muluk-muluk tentang agama.

Kalau ada pengajian, hormatilah. Kalau ada pengajian, kalau bisa, bisa mengisi, atau menjadi pembawa acara, atau menjadi qiraah, atau membacakan shalawat. Kalau tidak mau, jangan dipaksakan. Syukur kalau mau, tentu kami senang. Janganlah berlebihan terhadap agama: janganlah sok-sok menjadi pembela tentang agama. Janganlah sok-sok menjadi pembela tentang kebenaran.

Jalanilah hidupmu dengan bekerja. Agama tidak melarang untuk bekerja. Janganlah sibuk-sibuk tentang agama orang lain, kalau bias, sibuklah kepada agama orang lain, tapi sibukkanlah bagaimana agama dirimu. Janganlah berakhlak yang buruk. Jangan mabok. Jangan maling. Jangan maling. Jangan main-judi. Lakukanlah hal yang baik-baik.

Kasihanilah orang miskin. Sayangilah orang yatim. Sayangi jugalah tetanggamu. Hidup rukunlah bersama saudara-saudaramu. Sebelum itu, perhatikanlah duniamu. Perhatikanlah bagaimana ekonomimu. Perhatikanlah pekerjaanmu.

Tak ada yang salah dengan semua itu.

Syukur-syukur kalau kau rangking di kelas. Dapat beasiswa dan dikatakan orang pandai. Orang pandai adalah orang-orang mengakui bahwa kamu pandai. Kamu dapat prestasi, dapat beasiswa dan kamu kelak menjadi guru. Begitulah kalau kamu menjadi orang.

Tapi kalau tidak, bekerjalah sebagaimana orang bekerja. Jangan lupakan ibadah. Jangan lupa shalat lima waktu. Jangan lupa kerabat-kerabatmu. Jangan irian dengan harta yang banyak. Anggaplah mereka sebagai motivasi tentang hidup.

Jangan anggap dirimu miskin. Miskin itu terjadi kalau kamu tidak bekerja.

Jangan muluk-muluk terhadap pemerintahan. Jangan gantungkan hidupmu dengan pemerintahan. Gantungkalah hidupmu kepada Gusti Allah. Yang mempunyai semesta raya. Percayalah kepada-Nya. Agama itu baik. Agama itu tidak melarang untuk bekerja.

Agama itu baik, maka pelajarilah. Lihatlah orang-orang yang bernaung dalam agama. Mereka disegani, mereka di hormati.

Orangtua bangga tatkala anaknya menjadi seperti itu. Orang tua bangga kalau anaknya hidup dalam lingkaran agama, tapi tidak kurang hartanya. Tidak kepayahan tentang ekonominya.

Segalanya memang uang. tapi uang tidak mampu membeli segalanya. Segalanya membutuhkan uang, tapi segalanya tidak mampu dibeli dengan uang. Namun, kalau manusia tidak punya, di zaman ini, maka dia akan kepayahan. Lebih-lebih mereka yang enggan bekerja. Oleh karenanya, bekerjalah menurut apa yang engkau mampu.

Syukur-syukur engkau bekerja sesuai dengan keahlianmu. Syukur-syukur engkau bekerja dengan caramu. Tidak diatur oleh orang lain, tapi diatur oleh dirimu. Berarti engkau menjadi bos. Jadiah bos, kalau bisa. Kalau tidak, maka jalanilah hidupmu dengan menerima keadaan. Yakni menjadi prajurit. Kalau bukan bos, maka menjadi anak-buah. Jadilah anak-buah, janganlah malu bekerja.

Tidak harus malu dengan bekerja, bekerja itu halal. Yang haram itu maling. Maka janganlah maling. Bekerjalah. Jangan lupa agamamu. Jangan lupa ibadahmu. Jangan lupa tuhanmu.

Music itu tidak haram. Maka nikmatilah duniamu. Jangan lupa ibadahmu. Jangan lupa Tuhanmu.

Budaya itu tidak haram. Maka nikmatilah duniamu. Jangan lupa ibadahmu. Jangan lupa tadarus. Jangan lupa Tuhanmu.

Tuhan maha perkasa. Maha mengetahui segalanya. Percayalah kepada-Nya. Sesimpel ini: percayalah kepada-Nya. Tuhan yang merajai seluruh semesta. Yang merajai setiap manusia. Percayalah.

Wal-hasil, aku persis seperti manusia pada umumnya, yang tinggal di Indonesia, tepatnya, yang tinggal di kampungku. Islamku adalah islamnya desaku.

Dan kepadamu, saya ceritakan tentang diriku.

Mohon restu dan doanya…

Belum ada Komentar untuk " Surat Buat Guru: Realitas Muslim: Menjalankan Apa Yang Diajarkan "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel