Tentang Guru (bagian 1)

Saya mempunyai dua guru—walau sebenarnya banyak, banyak orang yang berinteraksi denganku, banyak orang yang mengajariku, banyak orang yang menuntun langkahku, banyak orang yang menitah kehidupanku, dalam ilmu maka ada dua orang guru yang begitu berpengaruh – yang satu pada ranah pemikiran yang satu pada ranah praktek.

Satu pada area aqidah, satu para area fikih. Dia bernama, Haidar Buchori, dan Mashudi al-Jailani. Mengapa saya katakan demikian, beginilah alasannya:

Seperti kapas aku bercerita, kepada Haidar Buchorilah itu orangnya, seakan bersamanya, tanpa malu, tanpa ada tameng—sekali pun statusnya adalah guru, sekali pun statusnya adalah pengasuh, sekali pun statusnya adalah dosen: namun bagiku, dia melampaui itu, dia menjadi teman akrabku, dia menjadi karibku, seakan baru kali itu saya mendapati seseorang yang mampu menerimaku, yang mampu berinteraksi denganku. Yakni, kami bertanya-tanya. Saya bertanya, beliau bertanya. Saya bertanya, beliau bertanya. Di saat itulah saya menemukan sesuatu yang lain, bahwa:

Sejauh ini saya kurang memperhatikan kesayaan pribadi

Sejauh ini saya sering perhatian kepada lawan bicara

Saya sangat perhatian kepada lawan bicara tapi saya tidak perhatian besar kepada saya pribadi

Saya tidak perduli kepada saya pribadi


hidayat tf_dialog


Bersama dengannya, saya dibuat untuk konsentrasi kepada saya pribadi. Saya harus perduli dengan tujuan saya pribadi. Saya dibuat untuk perduli kepada saya pribadi. Bersamaan dengan itu, maka saya semakin akrab dengannya. Semakin akrab mengunjungi dirinya, tujuannya, tentu berbicara dengannya.

Dengan ringan saya bercerita. Karena memang sebelum ini, saya jarang berinteraksi-penuh kepada orang yang disebut ‘Kiai’, berbagai alasan terjadi:

Satu, tidak punya alasan bercerita-diri kepada sosok yang disebut kiai

Dua, tidak mempunyai persoalan yang layak diadukan kepada sosok yang disebut kiai

Tiga, terlalu malu bertemu dengan sosok yang disebut kiai karena tidak punya alasan harus bertemu

Keempat, karena tidak mempunyai bahan untuk diceritakan kepada kiai

Saat datang kepada Haidar Buchori, tujuan saya sederhana, memberikan kopi dan gula yang diperintahkan ibu. Katanya, berikan ini kepada pengasuhmu? Kalimat itu memaksaku harus bertemu dengan sosok yang disebut pengasuh, yang sebelumnya, saya memang tidak dekat. Tidak dekat. Sama sekali.

Namun saat saya ketok pintunya. Beliau menerima dengan lapang. Gayanya, pakaiannya, bajunya, tidak membuatku merasa minder. Beliau tidak dandan selayaknya pengasuh. Biasa saja. Beliau menerima dengan biasa—hal ini, jarang sekali saya dapati tatkala berkunjung kepada kiai-kiai lain, yang berdandan dulu sebelum menerima tamu: sekali pun saya ‘jarang’ berkunjung (berkunjung biasanya tanpa sendiri, selalu ada teman atau ramai-ramai), entah mengapa, klaim saya, seperti itu, kiai tatkala dikunjungi tamu bakal gregah untuk memasang pakaian-alimnya, andai ia sedang bersantai—lalu diksi yang beliau gelontarkan juga biasa-biasa saja.

Malah jauh dari kalimat-kalimat yang berteks islami, padahal statusnya pengasuh (maksudnya mengeluarkan dalil-dalil teks arab, atau menyelipkan dalil dengan bahasa selain arab, diterjemahkan). Terlebih lagi, entah mengapa, saya berpikir, bahwa beliau menyikapiku selayaknya teman, bahasanya biasa, layaknya seorang teman, teman dekat, kami berbicara, basa-basi layaknya teman dan saya sangat menikmati—entah mengapa saya hamper terlupakan bahwa beliau statusnya pengasuh— kayaknya tak ada istimewanya pembicaraan kami.

Beliau bertanya, saya bertanya. Saya bertanya, beliau bertanya: ringkasnya begitu. Ada jawab, namun kami banyak menyodorkan kalimat Tanya. Hal itu terjadi karena alasan karakter bawaan saya: yakni lebih condong penyuka introgasi. Ingin tahu dia. Dilalah, beliau juga begitu. Wal-hasil kami renyah berbicara.

Berjalannya waktu. Akhirnya beliau menemukan titik-dasarku:

Apa tujuanmu? Saya menjawab, bla… bla... bla...

Apa tujuanmu sesunguhnya? Saya menjawab, bla.. bla.. bla..

Sesungguhnya apa tujuanmu?

Saya terdiam. Saya bertanya balik: jadi, apa sesungguhnya tujuanku? Kalimat ini menyerangku. Laksana bom buat pemikiranku. Sejak saat itu saya gencar berpikir. Melesat berpikir. Keras berpikir, tentang kalimat yang sebenarnya sangat simpel itu. Sangat sederhana itu. Sangat sepele itu.

Kemudian kami harus berpisah. Karena jarak menjadikan rindu, itulah rindu teraneh yang kualami. Rindu kepada sosok dirinya, yang tidak bisa kudapati dari sosok-sosok lain.

Pikirku, padahal sekedar dialog.

Padahal sekedar ngobrol.

Padahal sekedar berbicara.

Padahal sekedar obrolan ringan.

Padahal sekedar ah…

Dan aku selalu tidak menemukan sosok seperti dirinya. Hanya dia sosok yang seperti itu, dan cocok buatku. Hanya dia.

*Cie…
info:
tetang guru fikih 'tentang guru bagian 2'

Belum ada Komentar untuk "Tentang Guru (bagian 1)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel