PENCARIAN JATI-DIRI: Tentang Realitas yang Sesungguhnya

Selama proses mencari jati diri, tentu diselimuti oleh persepsi-persepsi dan pertanyaan-pertanyaan aneh yang datang, pertanyaan yang sangat menyentuh realitas, namun tidak sesuai dengan realitas: maka segala keindahan, segala sesuatu yang sempurna, atau harapan-harapan itu berada di dalam pikiran.

Berada di dalam imajenisi pemikiran.

Selain itu, tetap dibutuhkan realitas kehidupan. Sekalipun melangkah untuk mengerti tentang diri, selain itu juga harus berjalan kepada realitas. Realitas tetap juga harus dijalani.

Dan manusia membutuhkan sesuatu untuk mempertahankan dirinya, yakni tentang tabiat manusia yang membutuhkan makan. Makan itu demi kelangsungan hidup. Seperti manusia-manusia yang lain, yang membutuhkan asupan untuk kelanjutan hidup.

Janganlah berputus asa terhadap sesuatu yang disebut hidup.

Saya selalu menyandarkan kepada islam—saya berpikir bahwa ini adalah jalan terbaik untuk manusia sebab menjadikan manusia secara manusiawi—tentang realitas muslim yang harus dan bakal mengajak kepada realitas yang sesungguhnya: bukti terang adalah adanya wudhu dan shalat. Dari keduanya, akan mengantarkan kepada proses hidup yang sesungguhnya: yakni berinteraksi dengan manusia lain, berjumpa, saling menyapa, saling berbicara, lalu disana akan timbul konflik demi konflik.

Konflik adalah keniscayaan.

Konflik tidak bisa dihindari.

Apa-pun jenis perbedaan, dapat dikatakan konflik.

Konflik adalah perbedaan.

Perbedaan adalah keniscayaan.

Perbedaan adalah menyuguhkan, bahwa sebenarnya itu adalah satu. Kita adalah satu, manusia berkonflik dengan manusia, yang tujuannya adalah demi kemanusiaan itu sendiri. demi proses-proses kemanusiaan.

Watak manusia adalah kesempurnaan watak. Watak manusia memang seperti yang telah diurai oleh psikolog, oleh orang-orang dalam kajian manusia. Memang begitulah watak manusia. Tidak bisa disangkal begitulah watak manusia. Tujuannya apa? Demi proses kehidupan.

Ada yang rakus.

Ada yang ambisius.

Ada yang ingin menguasai.

Ada yang diam, menerima.

Ada yang baik.

Ada yang tidak perduli.

Rangkaian kalimat-kalimat yang lain, juga melanda pada diri manusia. Sangat wajar. Namun, tetap saja, tatkala pencarian jati-diri, manusia harus menjalani kehidupannya sebagai manusia.

Hidup bukan sekedar dunia-ide.

Hidup bukan sekedar tentang pencarian-jati diri.

Hidup bukan sekedar mencari kepuasan yang ingin ia capai.

Hidup adalah serangkaian kemanusiaan.

Hidup adalah proses dari kehidupan itu sendiri.

Oleh karenanya, tawaran agama islam, sangat baik: yakni, mengajak untuk melihat manusia-manusia yang lain, melihat tentang kekurangan-kekurangan manusia lain. Melihat tentang kemanusiaan, manusia yang lain, dan harus tunduk kepada sesuatu yang disebut realitas.

Tatkala kita mengurung diri dalam rumah. secara terus menerus. Pasti, bakal menemukan kejenuhan. Karena watak alami manusia adalah interaksi dengan manusia lain.

Kejenuhan bisa hadir karena pertemuannya itu-itu saja.

Diksi-diksi yang digelontarkan itu-itu saja.

Pemandangan yang dipandang, itu-itu saja.

Alam yang dipandang adalah alam itu-itu saja.

Hidupnya menjelma keringkasan. Padahal di luar, bertebaran jutaan manusia, bahkan triliunan: ingat, jutaan bahkan triliunan manusia. itu jumlah yang banyak. Kalau kita sekedar mengungkung diri dalam diri, maka akan mempersempit diri.

Sekali pun begitu, karena kita belum menemukan diri, maka keluar terasa membosankan. Tapi apalah daya, kita harus menjalani kehidupan, menjalani realitas.

Bagiku, begitulah kerumitan menemukan jati diri: namun kalau sudah menemukan, tentulah, bersama pengalaman yang melintas-lintas negeri asing, akan mendapati sesuatu yang sangat luar biasa.

Berjuanglah...

 
 
*Berita lain yang disarankan: 

Belum ada Komentar untuk " PENCARIAN JATI-DIRI: Tentang Realitas yang Sesungguhnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel