Dunia Yang Terbuka




Dunia memang telah terang-terangan dan blak-blakan, Fik, technology telah marak di desa-desa dan orang-orang desa pun bahagia, gembira, gegap gempita menyambutnya, jadilah kehidupan sekarang adalah persis kehidupan zaman postmodern—harusnya, engkau tidak khawatir dan resah dengan hal-hal tersebut, Taufik; bukannya kau telah membaca bagaimana orang-orang eropa bersikap tatkala zaman mulai menjelma zaman informasi dan setiap orang berkutat ketat pada keindividualnya:

Mengobral dirinya pada public

Menjadi artis-artis kearitasan

Menjadi main-mainan

Menjadi pendakwa-pendakwa

Menjadi penyampai-penyampai

Menjadi pedagang-pedagang

dan itu bukan pada jalinan realitas, realitas telah bergeser menjadi sesuatu tumpangan belaka, sekali pun sebagian masih menganggap realitas adalah pokok dari kebenaran. Harusnya engkau tenang dengan apa yang terjadi: sekarang, laksana kembali ke zaman ‘hati’ atau personal.

Kebenaran menjadi subjetif

Kebenaran objektif adalah kebenaran objektif

Kebenaran pun menjelma ‘relatif’

Sudah! Jangan pusing-pusing memikirkan orang-orang desa, orang-orang kampung, tatkala mulai meramaikan dunia sosial, dan setiap agenda kampung, atau agenda dirinya dipublikasikan; ini memang zamannya, engkau harus menerima zaman yang beginian dengan lapang.

Memangnya—biar kutugrup maksudmu, mengapa engkau tidak menerima tentang dunia yang telah tua ini? Terimalah, engkau tidak mampu mengubah zaman menjadi zaman dahulu kala, memang sekarang zamannya begitu Taufik.

Sesungguhnya apakah yang engkau resahkan? Katakan padaku, biar kujawab terang dan gamblang.

Apakah yang menjadikan tubuhmu-panas dingin? Katakana padaku, biar kujawab terang dan gamblang.

Yang kau khawatirkan tentang akhalak islami yang pudar—kamu jangan ikut-ikutan.

Khawatir karena setiap orang mampu menikmati apa yang ditawarkan—kamu jangan ikut-ikutan.

Berkumpullah dengan perkumpulan yang baik, lesatkan pengetahuanmu, sibukkan dirimu dengan pengetahuanmu; ketahuilah, kekhawatiranmu terjadi karena engkau begitu-perhatian dengan wujud-wujud atau penampakan-penampakan orang lain, engkau lalai bahwa engkau adalah bagian orang.

Awasilah dirimu sekali lagi, Taufik.

Telitilah dirimu sekali lagi, Taufik.

Dan ketahuilah, bahwa kelahiranmu pun telah berada pada masa era-teknology, hanya saja, waktu itu, belum sampai ke tempatmu; bahkan kelahiranmu telah ditandai dengan era –technology.

Yang pasti begini:

Jangan engkau terlalu cinta terhadap sesuatu tentang keduniaan, yang pasti, engkau mampu mencukupi tentang kebutuhan pokokmu, engkau mampu mencukupi tentang kebutuhan pokokmu, tidak harus kaya, yang pasti engkau cukup. Bekerjalah menurut kemampuanmu, jangan perdulikan efek-efeknya, kau telah menangkap bahwa manusia adalah mahluk yang merusak, efek itu bakal senantiasa ada. Pokoknya, engkau berfokus. Fokuslah terhadap apa yang engkau kerjakan.

Buatlah dirimu sesibuk mungkin, supaya engkau tenggelam dalam kesibukanmu;

Engkau ingat, sungguh beruntung orang yang bersibuk dengan ilmu.

Dan engkau telah mengetahui, bahagaiamana ‘status’ keilmuan di zaman informasi, di zaman blak-blakan ini, yang pasti teruslah berjuang dengan keilmuan. Jika sekarang, realitasmu buruk, bersabarlah, memang masih garisnya seperti itu: kenanglah, la yukalifu nafsan ila wus’aha …
2017

Belum ada Komentar untuk "Dunia Yang Terbuka "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel