Mempertanyakan Rindu


Kau tertekan lagi dan merasakan perasaan yang entah berantah lagi. Merasa jenuh akan hidup. Lelah akan perasaanmu. Sontak terpikirkan, gurumu. Segeralah kau melajukan dirinya ke gurunya. Mengetuk kamarnya lagi. Memeluk lagi. Menangis lagi.

“Aku persis diombang-ambingkan waktu.”

“Mengapa kau turuti hal itu?”

“Aku tak mampu menahan diriku. Betapa lelah!”

“Mengapa kau izinkan lelah memperbudakmu?”

“Kalau ia pamit, manalah mungkin kuizinkan,” Katamu masih terbata-bata. Terdengar juga isakmu. “Mengapa aku selalu ingin datang kepdamu? Hanya kau pelampiasan akan perasaan entah-berantah diriku?”

“Bukankah itu kamu yang merasakan? Harusnya kamu mengetahui itu.”

“Mengapa engkau selalu menjawab seperti itu. Tidak memuaskan hatiku.”

“Aku tahu kamu itu cerdas, terlebih lagi, rasa-hausmu yang dalam. Manalah mungkin tercukupkan dengan jawaban sederhana dan simpel. Bukannya begitu?” katanya masih tetap dengan nada tenang dan santai. “Kau pun sesungguhnya mengetahui jawabnya ‘kan?”


***






“Aku ingin ke tempatmu, bersamamu. Aku rindu kepadamu.”

Tak ada rumus spesial perihal kerinduan, hanya perasaan ingin bertemu dan merasa nyaman dikala bersama. Begitulah kira-kira orang menyatakan tentang kerinduan. Mendefinisikan tentang rasa rindu, pokoknya ingin bersamanya, puas hati kalau bersama orang yang dirindu. Itu pun yang di alamimu. Kau memendam kerinduan. Sangat memendam perihal kerinduannya, karena jauh di lubuk hatinmu masih mempersoalkan apakah aku merindukannya?

Kau laksana mempunyai keanehan.

Di Jawa, yang ingin kau datangi adalah orang laki-laki, tak ada sangkut pautnya perihal saudara. Dia gurumu. Pendek kata, dia pengasuhmu.

Padahal sewaktu di sana, kau tidak begitu dekat dengannya. Tidak begitu rekat kepadanya. Hanya kilasan waktu yang membuatmu semakin merindu.

Sebuah tanya yang ditambahi pertanyaan. Apa tujuanmu? Kamu itu tidak mempunyai tujuan. Kata beliau kepadamu yang begitu mengena dan nempel di tubuhmu. Nempel bagi akalmu, melekat dalam hatimu. Dimana kau pergi selalu terngian akan kalimat itu. Walau kau seringkali menyatakan, tujuan adalah suatu apa yang dituju. Masak aku tidak punya? Kalau lapar, maka tentu tujuanku kenyang: bagaimana prosesnya, maka harus makan. Maka terobatilah perasaan lapar. Lapar adalah sesuatu yang alami. Agaknya sebuah tujuan adalah sesuatu yang alami. Jika aku mengaitkan dengan unsur islami, maka tujuan orang hidup pasti bakal ‘hidup’ kembali. Hidup ditempat yang berbeda, yakni alam akhirat. Begitulah singkatnya, begitulah pendek katanya. Tanpa harus dipikirkan perihal tujuan, maka secara otomatis bakal kembali pada-Nya.

Sayangnya perjalan waktu berkata lain, seringkali sabda gurumu itu melekatkan kembali. Menjadi misteri kembali. Tapi kali ini tidak, kali ini malah kau mempertanyakan hal sederhana.

“Benarkah aku merindukannya?” katanmu pada cermin, pada wajahmu yang telihat dalam cermin.

Kau duduk di kursi santai. Duduk jegang yang kalem. Sesekali membuang asap dari mulutmu.

“Mengapa aku tidak begitu gregah datang kepadanya jika aku benar-benar merindukannya? Kukira aku tidak begitu merindukannya! Inikah napsu ingin bertemu dan duduk bersama? Atau aku ingin melancong ke jawa dan menghamburkan uang dengan sia-sia. Haha aku hanya terheran dengan diriku! Apakah dengan seperti ini aku bakal mengatakan kepada ibuku, meminta uang lebih supaya sampai ke sana! Andaikata ibuku kaya raya, tentu aku akan segera ke sana.”

Seketika kau menempatkan ibumu kaya raya. Telah diberikan uang untuk ke jawa. telah memesan tiket menuju ke tempatnya. Antara sumatera dan jawa adalah jarak yang dekat untuk dikunjungi. Sontok kau mengetuk pintu gurumu. Menguluk salam. Melihatnya, lalu segera di peluk.

“Dulu saat ibuku miskin, aku sangat ingin bersamamu, melihatmu, hanya itu.”

“lalu,” katanya, tenang.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya berkeinginan untuk melihatmu.”

“Sekarang sudah melihat. Apa yang kamu mau?” katanya datar.

“Aku tidak tahu. Aku berharap engkau memberikan sesuatu?”

“Aku tidak tahu apa yang layak kuberikan padamu. Kamu minta apa?”

“Mana kutahu. Aku sungguh tidak tahu alasan apa datang padamu.”

“Ya sudah, aku tidak punya apa-apa.”

Kau terdiam sesaat. Kedatanganmu laksana tak berguna.

“Apakah kedatanganku tidak membuatmu bahagia?”

“Oh sungguh aku bahagia.”

“Mengapa engkau bersikap dingin seperti itu?”

“Jadi apa yang kau harap dariku?”

Kau terdiam sesaat. Merasa tak berguna.

“Apakah kamu berharap mendapatkan ilmu dariku?” kata beliau tetap tenang.

Kau menggeleng pelan. “Mungkin,”

“Sekarang! Apakah kau puas hati tatkala bersamaku?”

Kau mengangguk. Seketika menangis. “Aku memang benar-benar tak punyai tujuan. Benar-benar orang bodoh. Sangat bodoh. Tapi kurasa, kalau tidak punyai tujuan, tinggal menaruh tujuan, kalau mengaku bodoh, tinggal belajar. Tapi sesungguhnya aku tidak mengerti dengan perasaanku, tidak mengerti bagaimana dengan sakitku,” Katamu, suaramu, terbata-bata. Isak tangismu pun terdengar. Sesekali menyerot air hidungmu, perlahan. Pilek mendadak. Air matanya mengucur.

“Sabar, nikmatilah prosesnya. Belum tentu orang sepertimu. Adakalanya orang berharap seperti dirimu. Ingatlah itu.”

“Tapi aku... aku...”

“Sudahlah, tak usah kau paksakan menjadi orang lain. Nikmatilah dirimu apa adanya, bila masamu dikejar-kejar kangen, terimalah. Itu wajar kok. Wajar.”

Keesokan harinya kau pamit. Undur diri. Rasa kangennya hilang. Jawabannya simpel, hanya ilmu yang mampu mengantarkannya menuju sana, syarat menanggalkan kebodohan, ya tentu belajar. Uangmu banyak, di dompet ada, di ATM ada, tak ada yang kurang perihal harta.

Lima hari kemudian. Kau tertekan lagi dan merasakan perasaan yang entah berantah lagi. Merasa jenuh akan hidup. Lelah akan perasaanmu. Sontak terpikirkan, gurumu. Segeralah kau melajukan dirinya ke gurunya. Mengetuk kamarnya lagi. Memeluk lagi. Menangis lagi.

“Aku persis diombang-ambingkan waktu.”

“Mengapa kau turuti hal itu?”

“Aku tak mampu menahan diriku. Betapa lelah!”

“Mengapa kau izinkan lelah memperbudakmu?”

“Kalau ia pamit, manalah mungkin kuizinkan,” Katamu masih terbata-bata. Terdengar juga isakmu. “Mengapa aku selalu ingin datang kepdamu? Hanya kau pelampiasan akan perasaan entah-berantah diriku?”

“Bukankah itu kamu yang merasakan? Harusnya kamu mengetahui itu.”

“Mengapa engkau selalu menjawab seperti itu. Tidak memuaskan hatiku.”

“Aku tahu kamu itu cerdas, terlebih lagi, rasa-hausmu yang dalam. Manalah mungkin tercukupkan dengan jawaban sederhana dan simpel. Bukannya begitu?” katanya masih tetap dengan nada tenang dan santai. “Kau pun sesungguhnya mengetahui jawabnya ‘kan?”

Kau mengangguk. Kalian terus melakukan dialog seperti biasa. Panjang dan menggembirakan. Sampai dini hari, kau terkapar di ranjang Pak Kiai.

Ketika mentari mulai menyala, Pak Kiai sibuk dengan statusnya. Mengecek para santri, lalu mengulang ngaji. Kau merasa jenuh harus ngaji seperti itu. Kau sengaja tidak ikut pengajian. Kau mengurung diri di kamar Pak Kiai. Sementara beliau masih sibuk dengan statusnya, membacakan kitab, dan ketika mentari agak menyala, terang. maka diskusilah dengan para pengurus, diskusi sederhana atau mendengar santri yang mengeluh seraya berjalan.

Pukul tujuh telah tiba. Pagi yang indah, bagimu dan Pak Kiai. Makan bersama, spesial berdua. Tidak berlama-lama. Pak Kiai perlu persiapan mengajar kuliah. Setidaknya membuka kembali referensi kitab demi kitab menuju temanya, juga membaca buku demi buku.

Pukul delapan tiba. Pak Kiai pergi mengajar. Kau diam di kamar. Lalu main, sesuka hatimu, sampai lelah, sampai jenuh juga menyikapi hidupnya. Seakan-akan adalah kesia-siaan kalau lama-lama di sini, yang memang bukan tempatnya. Kau memesan tiket untuk pulang. Makan di restoran super mahal. Mengunjungi super-market. Beli ini-itu. Hari yang padat, menyumbang-sumbang pembelianmu. Kau melongok dompet, mempet. Hah! Uangku bakal habis. Mengecek ATM berkuras juga. Mepet juga.

Kalau hidup sekedar pengeluar, maka tidak seimbang, harus ada pemasukan. Aku butuh kerja. Tapi ibuku kaya, tapi sampai kapan ibuku ada. lama-lama hartanya bakal habis kalau aku berpoya-poya. Arggg..... apa yang kurasakan. Aku ingin segera hari esok. Kembali pulang.

Segala khayalan pecah. Kau berusaha tegar menjalani hidup seraya dalam akalmu melekat istilah rindu. Kau berjalan dengan perasaan itu. Sering mempertanyakan dalam dirimu.

“Ini rindu secara akal atau rindu secara hati? Memangnya adakah rindu secara akal, juga rindu secara hati. Istilah macam apa itu. Ah bodoh sekali aku ini, mengizinkan akal dan hatiku untuk memikirkan nestapa ini. Ah aku pasrah. Beginilah perasaanku. Beginilah diriku,” katamu yang mengurai-urai dari dalam dirimu. Lalu kau mengeluarkan sepeda motormu. Melajukannya, mengawasi rumah demi rumah, perangai manusia dan apupun yang terpandang dari matanya.

“Kenapa aku ingin ke Jawa,” katamu lagi, membatin, sepada motormu perlahan. Sesekali tersenyum tanda menyapa orang yang duduk nyore di tepi jalan.

“Benarkah aku kangen berat kepadanya? Jangan-jangan aku kangen dengan kawan-kawan lama dan mengatasnamakan beliau, supaya keren. Tapi kayaknya kawan-kawanku mulai habis: kepada siapa aku bakal bicara selain beliau? Tapi jika benar aku kangen sama dia? Alasan apa aku kangen sama dia?”

Seketika azan magrib terdengar. Buyar lagi kekangenanmu. Muncul lagi tanya kangen yang baru. “Apakah aku merindukan shalat jamaah? Padahal tadi, kemarin, juga sudah melaksanakan. Hahaha atau akukah kangen akan surga? Di sanakah kelak masih punyai perasaan kangen? Aduh mengapa aku harus bertanya itu dan yang lebih parah bertanya ini: apa itu kangen? Ah aku tidak harus mempertanyakan itu jalani saja. Beginilah keadaannya. Beginilah pertemuanku. Aku harus wudhu.”

Telah kau bersihkan dhohirmu, itulah harapan. Bersih hati dan pikiran, itulah tujuanmu. Kau melangkah menuju pintu masjid. Masuk dengan perlahan. Terkejutlah bukan main, tatkala melihat sesosok punggung dan gaya duduk yang menyerupai gurumu.

Kau tersenyum. Mengelus dadamua. Berjalan santai, tatapan fokus, tenang. Mendekatinya, shalat sunah disebelahnya. Dan aku tidak tahu apa yang kau rasakan saat di sampingnya: aku tidak tahu, bayangan apa yang menculat dalam pikiranmu. Imajenasi apa yang tergambar dalam pemikiranmu, aku tidak tahu. Itu urusanmu.



Ditulis 2015-01-17 di edit 2017

Belum ada Komentar untuk "Mempertanyakan Rindu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel