PUISI-PUISI HIDAYAT TF







Sebuah Arah Yang Sungguh




Kemana kau mengarahkanku sungguh--iyakah kau sungguh menuntunku

Padahal satu kalimatmu yang kuhapal sungguh--



Lihatlah aku, begitu ragu dengan diriku

Juga meragukan kalimat terangmu

Walau kau mengisyaratkan tentang tujuan

Namun itulah akhir dari perjalanan



Katamu, "Kau itu peragu, sangat peragu!

Beranilah, ambilah resiko, setiap langkah punya mata yang terarah.

Yakinlah dengan-Nya, kita pun akan kembali kepada-Nya; dan kau paham itu 'kan?"



Jawabku, "Mengapa juga 'si ragu' begitu melekat pada diriku? Dan aku, laksana tak berdaya membuang dalam diriku;

Kiranya ini adalah ketentuan-Nya, bagaimana aku bisa menghindar dari takdir-Nya."



Katamu, "Kau berani berkata-kata tentang-Nya.

Jika kau sungguh berani: buanglah diri-Nya.

Urusilah dirimu. setelah itu, barulah kau berbicara tentang ketentuan juga takdir-Nya.

Aku pikir, kau 'meremehkan' dengan menegembeli atas nama-Nya.

Aku pikir, kau 'begitu' melekatkan-Nya dalam dirimu,

Tapi kau lupa bahwa kau melekatkan-Nya."



Jawabku, "oh kini aku tahu arahanmu. mengajakku berkata-kata, guna mengobati luka yang mendera dalam dadaku. Benarlah kiranya aku melekatkan-Nya, namun lupa bahwa aku melekatkan-Nya."



Katamu, "Begitulah takdir-Nya; dan lukamu itu terjadi karena 'salah-paham' kau mengenali pemikiranmu. Dan aku adalah tabib yang sesuai untuk luka-lukamu, dan itu sebabnya, kau berjumpa denganku. Dan tiada yang sempurna pengobatannya kecuali karena-Nya."



Sekarang, tancapkan dalam kening-pemikiranmu tentang-Nya

Tiada arah kecuali mengarah pada-Nya

Seluruh arah adalah bias-bisa kepada-Nya

Seluruh arah adalah ranting, cabang, daun yang mengarah tetap kepada-Nya

Itulah keimanan kita

Itulah kepercayaan kita



Yakinlah dengan apa yang kau percaya

Tak ada catat kau mempercayainya



Bila pun nyatamu luka dan sarat duka

Bukankah itu suatu kewajaran dan ada hikmahnya

Tidakkah kau percaya bahwa dia telah merencana?

Tidakkah kau percaya bahwa dia telah menentukan arahnya?



Pahamilah, arah dari segala arah adalah kepada-Nya

Jika jalannya teramat sukar, kembalilah pada dunia nyata

Bertanyalah tentang arah yang hendak kau arahkan

Dan sungguh, ending dari arah adalah mengarah kepada-Nya



Dan aku mengulang-ulangi diksiku

Guna kau ingat dari tiapan langkahmu



Kau memang harus mempunyai arah

Dan akhir dari segala arah

Tiada arah yang lebih pasti kecuali kembali pada-Nya

Itulah keimanan kita

itulah arah kita.

2017


PERTEMUAN


Kami berjumpa di ujung masa aku dalam kuasanya

Setelah itu adalah rindu yang ganjil tercipta

Laksana tiada kata yang tepat sebagai obat kecuali kata-katanya

Walau faktanya katanya lebih mengajakku berpikir yang berpasrah



Dan kelebatan rindu tidak pernah kurasa kecuali kepadanya

Rindu yang ganjil, tanpa gairah tapi ingin bersama

Dan serbuan cinta tidak pernah kurasa kecuali kepadanya

Cinta yang ganjil, yang menjadikanku bertanya: apa arti dari cinta yang sesungguhnya



Kami berjumpa pada masa yang tak pernah kuduga

Laksana menyeretku untuk selalu datang kepadanya



Kini, dia adalah motivasi tiap-tiapan langkah

Yang kepadanya segala soal pecah

Katanya, “di terima, terima saja.”



Kini, aku mengikatkan diri kepadanya

Yang darinya kudapatkan kemudahan berkata-kata

Kataku, “ini darinya, lewat jari-jemariku dia menuntunku.”

Saat jariku selesai merangkai kata, saat kubaca ulang:

Inilah pertemuan baru, aku dengannya.



Dan kami berjumpa pada kata-kata

Yang dari jemariku kusampaikan maksudnya

Yang dari maksudnya, kukembalikan padanya

Dan atas kehendak-Nya, kami berjumpa.



2017



Pembicaraan Tentang Keistimewaan


Jika ada yang bertanya tentang apa keistimewaanmu kepadaku

Aku pasti tersenyum, lalu berkata: dia menjadikan aku-ada.

Jika ada yang mengorek tentang: "apa itu maksud dari 'menjadikanmu ada'?"

Jawabku, saat bersamanya 'aku' benar-benar ada, dan dia bersembunyi dari 'keadaanku'

Dan aku tidak bisa menghelak atau mengalihkan ketiadaanku

Aku selalu ditarik keluar untuk kedirianku, untuk pengakuanku

menjelma keakuanku.



Dan bersamanya, aku laksana didekatkan dengan filsuf perancis

Rene Descartes yang berlabel rasio dengan klaim:

Aku berpikir maka aku ada.

Dan bersamanya, aku tak sanggup menyembunyikan 'keakuanku'

Laksana dipaksa berkata: Inilah aku...! Aku ini...! Inilah aku..!



Jika ada yang bertanya tentang apa keistimewaanmu kepadaku

Aku pasti tersenyum, lalu berkata: dia itu sederhana; dia memang pengasuh, tapi dia bersikap sederhana.

Jika ada yang mengejar, "Apa itu maksud dari sederhana?"

Jawabku, penampilannya tidak layaknya syeikh atau bergaya kearaban



Jika ada yang bertanya kenapa engkau mengistemewakannya?

Jawabku, karena kalimat tanyanya merekat dalam diriku.



Jika ada yang mengejar, "kalimat apa maksudmu itu?"

Jawabku: "Apa tujuanmu sesungguhnya? Sesungguhnya apa tujuanmu? Ya! Apa tujuanmu?"



Jika ada yang mengejar, "Mengapa kalimat itu bisa merekat dalam dirimu?"

Jawabku, "Karena itulah esensi dari seluruh-waktuku. Itulah esensi dari perjalanan waktuku, dan dia menanggap tentang titik-sakit diriku."



Jika ada yang bertanya, jadi, apa keistemewaannya kepadaku

Jawabku, dia mengantarkanku pada tempat yang itu juga adalah tujuannya.

Jika ada yang mendesak dengan bertanya, 'tujuan apa yang kau maksud?"

Jawabku, tujuan dari segala tujuan, yakni kembali pada-Nya.



Bersama itu kami berjalan bersamanya.



2017




Selubung Dunia Kata-Kata



Bersama kesatuanku kepadamu

Aku tuliskan rangkaian kata untukmu

Menangkap diksi menjaring kata

Dalam dunia kata-kata



Mencurahkan gumpalan rasa

Atau mengeksiskan keakuanku

Melucukan sekali lagi keduniaanmu

Yang menjalin ikatan denganku

Sebab aku dibekali tanya olehmu

Diserang oleh kata-kata

Kukembalikan menjelma kata



Bersama kata aku tuliskan diriku

Meluncurkan diri kepadamu

Yang tak bersayap atau berpindah tempat

Aku datang kepadamu

Ke tempatmu yang paling sunyi dan sendiri

Jika ada yang menyaksi

Kataku, bukankah mereka sekedar menyaksi



Bersama kata aku serahkan diriku

Beginilah keakuaku, tanpamu:

Jadikah aku seperti sekarang ini?



Kiranya aku duduk dengan para penyair

Jadikan puisiku semacam ini?



Kiranya aku tak berjumpa denganmu

Jadikah puisiku semacam ini?



Bersama keakuanku yakni bersatu denganmu

Jadilah puisiku, adalah puisimu

Jadilah kataku, ya! itu katamu



Bersama dengan itu: aku matai kata-kataku

Mencari petunjuk dari diksi-diksi yang mencurah

Lewat jari-jemariku

Dan aku berpikir: inikah darimu?

Jawabku, apalah arti kalimat itu:

Kiranya puisi ini adalah petunjuk

Mengapa kusibukkan tentang siapa yang menunjukkan?

Tidak! Aku telah percaya:

Bahwa seluruh puji dikembalikan pada-Nya

Seluruh kata diserahkan kepada Dia yang menguasai semesta.



2017



MENYURAHKAN PUISI



Jika ada yang bertanya, 'mengapa kau curahkan puisi kepadanya?'

Jawabku, aku memang menyurahkan puisi padanya, tapi yang lebih kencang membaca adalah diriku, entah dirinya

Jika ada yang bertanya, 'mengapa kau tampakan diri melaluinya?'

Jawabku, aku memang selalu menunjukan diri kepadanya, apa masalahnya dengan penampakan ini, dengan puisi ini:

Puisi adalah wujud yang lain dari rahasia aku bersamanya

Puisi adalah wujud yang lain perjumpaanku dengannya



Jika kau berkata, 'apa arti sopan bagimu?'

Jawabku, sopan adalah penghindaran untuk bertemu.

Sayang, saat aku berjumpa dengannya:

Dia laksana mengebom pemikiranku, mengubah persepsi makna sopan dalam diriku



Jika kau berkata, 'apa arti puisi buatmu? Sehingga harus sampai kepadanya?'

Jawabku, 'apa artinya diriku, bagimu, sehingga kau bertanya kepadaku.'



Jika kau mendesak, 'apa arti puisimu buatmu? sehingga, harus, benar-benar sampai kepadanya?'

Jawabku, 'seperti saat aku bersamanya, yang diajak mewujudkan 'keakuanku': begitulah makna puisiku:

Menunjukan 'keberadaanku'

Menyatakan 'keadaanku'

Mengabarkan, 'Aku ini memang ada! Benar-benar ada!

aku ini penting. Benar-benar penting! ya, aku pun penting aku pikirkan"



Jika kau mengorek lebih dalam dan berkata, "Apakah sejauh ini engkau laksana tidak-ada, dan benar-benar tidak dipikirkan oleh dirimu?"

Jawabku, benar! karena itu, aku bertemu dengannya. Sebab itu, aku gembira saat bersamanya. Ya! Bersamanya aku ada."



Jika kau menggali lebih dalam dan berkata, "Sesunguhnya apa yang menjadikanmu laksana tidak-ada, dan laksana tidak penting dipikirkan oleh dirimu?"

Jawabku, "Karena aku lahir dalam serba keadaan, serba kecukupan, dan digiring ke serba kemapanan, sehingga apalah yang penting bagiku, untuk diriku sementara aku telah tercukupkan dengan seluruh apa-pun yang menyelimuti keadaanku.



Tapi ternyata, aku tidak mempunyai apa-apa

Semua itu adalah selimut buat tubuhku

Dan dia mengetahui itu

Semua itu adalah selimut buat jasadku

Dan dia mengetahui itu

Semua itu adalah baju-baju dalam akal dan hatiku



Dan aku lupa bahwa aku penting menjalankan seluruh gerak-gerikku

Membajui diriku

Menyelimuti tubuhku

Dan dia memperingatkanku, mengajarkanku, berkata penuh:

"Kau harus mementingkan dirimu! Kau penting menyelamatkan keakuanmu."



Dan jika kau bertanya ulang, “Mengapa engkau menyurahkan puisi kepadanya?”

Jawabku, aku memang menyurahkan puisi padanya, yang sebenarnya aku menyurahka puisi buat diriku.



Demikianlah kepentinganku.



2017


Belum ada Komentar untuk "PUISI-PUISI HIDAYAT TF"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel