Nasihat tentang Manusia-Pengajar (Menggurui)



Taufik, kalau pemikiranmu mengajakmu untuk mengajar, maka engkau harus giring sikapmu sebagai pengajar Taufik.

Kamu mulai berani mengajari sesuatu, maka terapkanlah bahwa kamu menjadi cermin dari pihak yang kau ajarkan itu.



Kamu menjadi panutan terhadap yang kau ajar itu; ingatlah itu, Taufik, kenanglah tentang ayat-Nya yang selalu membayangimu:

ya ayyuhaladinaamnu lima taqulu ma la tafalun. apakah kau persis seperti ayat tersebut?

Ingatlah, mengapa ayat itu senantiasa membayangimu, sesungguhnya ayat itu ingin menyatu padamu, hanya saja, sejauh ini engkau selalu suka 'dibayangi' mengapa tidak engkau kerjakan: apa yang dikerjakan, yakni sesuatu yang engkau sampaikan.



Jangan begitu tergoda untuk 'mencerdaskan' dengan pola metode Socrates, atau metode dialog, banyak metode, Taufik; dan engkau telah mengetahui ragam-ragam metode, engkau juga telah membacai tentang buku-buku psikologi, maka setiap peserta ajar, bisa kau beri dengan berbagai macam-macam metode belajar-- maksud saya, jangan terfokuskan pada metode dialog. Kenanglah, metode dialognya Socrates terjadi karena memang zaman itu menuntut untuk didialogkan, selanjutnya dilejitkan lagi dengan muridnya, Plato: masih serupa, namun berbeda. Berbedanya adalah tentang teks. Jika Socrates berdialog secara langsung, maka Plato berdialog melalui teks, yakni tawaran dialog, supaya setiap individu mampu membaca dialog yang disajikan. Namun engkau telah mengetahui metode-metode dari filsafat, maka gunakanlah itu, Taufik.



Pahamlah! Bahwa filsafat adalah induknya pengetahuan. yakinlah dengan itu. sungguh, kaum muslim pun mempercayai itu; jika pada perjalanan dapat hambatan, semisal Imam Ghozali menantang keras tentang filsafat, itu berbeda ceritanya, yang pasti beliau (Imam Ghozali) membaca atau belajar tentang filsafat. Ringkas kata, Imam Ghozali pun mereguk air filsafat, oleh karenanya, kajiannya luas dan mendalam dan bisa diterima secara umum, sekali pun dulu banyak pertentangan: dalam ilmu, hal itu wajar, Taufik.



Kembali tentang ayat yang menyambangimu.



Sebagai seorang yang berani mengajar, maka engkau harus berani:

menjalankan apa yang engkau sampaikan!

menjaga apa yang telah engkau ketahui.

ingatlah, bahwa tatkala engkau menggurui, berarti engkau telah sah menjadi guru (Sekali pun bukan hal formal): Ingat, manusia muslim itu dipertanggung jawabkan secara individu. kau sangat ingat akan hal itu.



Terlebih lagi, saat engkau menjalankan apa yang engkau ajarkan, tentu, pengetahuanmu akan bertambah, akan melesat tajam, dan jangan lupa hapalkan tentang apa yang engkau hapalkan. demikian itu, lebih baik untukmu.



Karena engkau berani mengajar, maka engkau harus menjadi contoh buat yang engkau ajari, contoh yang seperti apa: tetaplah engkau berpegang teguh kepada Ahlak Kanjeng Nabi, jangan ahlakku, tapi kepada Kanjeng Nabi. kau boleh mengagumiku, kau boleh menghormatiku, tapi yang penting engkau tiru adalah Kanjeng Nabi, itulah patokan utama. Jika engkau terlalu berat mengikuti patok kanjeng nabi, maka tirulah akhlak kiai kampungmu, sungguh itulah yang lebih mudah menyikapi kaummu.



Dan untuk lebih mudahnya, saya kasih saran, atau jalan untuk mempermudahkan yang engkau laksanakan:



Pertama, jagalah ibadahmu

Kedua, jagalah bicaramu --bicara adalah ucapan bibir yang nyata.

Ketiga, perhatikan perkumpulanmu

Keempat, senantiasa bersandar pada gurumu

Kelima, jangan koarkan engkau adalah pengajar, tapi yakinlah bahwa kau adalah murid.



Akhir kata, ingatlah ayat yang menyambangimu itu, ya ayyuhaladilimataqulu ma la tafalun: mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? jadikan ayat itu dalam tubuhmu, simpanlah ayat itu dalam dadamu. sekali lagi, lebih kuat.



Simpanlah...

Belum ada Komentar untuk "Nasihat tentang Manusia-Pengajar (Menggurui) "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel