WEJANGAN Realitaskanlah Al-quran Dalam Pemikiranmu





Taufik, cara merealitaskan al-quran, tentu dengan cara mengetahui apa-apa yang ada di dalam al-quran, ringkas kata, kamu harus memahami isi dari al-quran; oleh karenanya, berlatihlah untuk menuangkan isi dari al-quran—aku tahu engkau mampu menuangkan isi dari al-quran yang itu sesuai untuk dirimu, bukankah pada dasarnya; tujuanmu untuk menempatkan al-quran sebagia pola-pemikiranmu, yakni awalnya, terkhusus kepada pemikiranmu, sendiri. Maka syaratnya, engkau harus berlatih merealitaskan al-quran dengan bahasa ibumu, atau pakailah dengan bahasa Indonesia.

Sudah, jangan sibuk-sibuk menghafalkan yang itu dengan bahasa-arab, dan kamu telah merasakan, jika sekarang kamu menghafalkan langsung menggunakan bahasa arab, maka itu teramat buat buat dirimu; dadamu seakan merasa terberatkan karena berdesakan dengan puitisnya bahasa al-quran, dan rasiomu berjalan kencang, ringkas kata: kamu sarat berpikir karena menggunakan ‘bahasa arab’—tancapkanlah, kelak, kalau engkau hafal secara makna, barulah kembali ke redaksi utama, yakni bahasa arab.

Sekarang, pahamilah makna dari al-quran.

Bukalah terjemahan al-quran, sisipkan dalam pemikiranmu.

Masukkan ‘makna’ yang tersirat dalam pikiranmu.

Tangkaplah al-quran secara keseluruhan, yang kau kejar adalah berpikir secara al-quran.

Al-quran atau isi dari al-quran adalah menjadi tempat berhibur untuk berpikir.

Jangan dulu menggunakan bahasa arab, tapi pakailah bahasa Indonesia.

Kalau engkau telah hafal makna, maka engkau akan berpikir kencang tentang al-quran, dan al-quran akab benar-benar menjadi ‘pola-pikirmu’:

Ingatlah, dahulu kala al-quran itu turun sesuai dengan bahasa yang digunakan orang-orang di mekah dan madinah. Jadi, orang membaca al-quran, persis seperti ngomong sendiri. Persis seperti bercakap-cakap sendiri. Seperti mendendangkan sesuatu; dan engkau tahu bahwa al-quran sangat puitis, dan engkau mengetahui bahwa tradisi orang-orang arab dahulu kala sarat dengan syair. Dan engkau juga tahu, bahwa al-quran pun dituduh syair, tapi jawabnya: syair itu tidak cocok buat al-quran, syair itu lebih rendah untuk al-quran, karena rantaian kata-kata al-quran mampu menyihir. Itulah sebabnya, al-quran disebut juga dengan sihir. Karena rangkaian kata-katanya, dan engkau mengetahui, mengajak manusia memasuki dunia yang ‘direka’ dan itu harus diterima, sebab awalnya adalah tentang realitas yang sangat nyata, hingga kemudian kepada dunia ‘akhirat’ sebagai balasan orang-orang yang ada di dunia realitas. pendek kata, untaian al-quran begitu indah yang mampu menyihir, dan engkau sering mengamalami itu, saat engkau membaca al-quran sekali lagi, lebih lama, yang tujuannya menghafalkan, eh malah engkau bermain fantasi dengan teks al-quran, engkau malah menjalain surat ke surat yang lain, kisah ke kisah yang lain, dan sesekali terjebak pada keindahan untaian al-quran, dan kemudian terjebak bahwa kamu harus lebih dalam mengetahui al-quran, padahal kamu pun sedang proses mendalami al-quran, hingga ternyata, rupanya kamu sudah berjam-jam memandangi al-quran, dan kamu baru menyadari rupanya telah berjam-jam memandangi al-quran. Begitulah al-quran, Fik. Begitulah kedahsyatan al-quran, Fik.

Sekarang, bacalah sekali lagi lebih lama, terjemahan al-quran, bila perlu, buatlah teks-teks yang itu demi kepentingan hafalanmu: kenanglah, hapalanmu itu berguna guna pemikiranmu, gunanya, supaya ‘akalmu’ itu ngerangkeng tentang makna al-quran. Ingat, dulu di zaman kanjeng nabi, al-quran itu adalah sesuai dengan bahasa yang digunakan. Oleh karenan itu, gunakanlah bahasa yang engkau gunakan. Ketika engkau lancar, barulah kembali ke redaksi asal: yakni bahasa arab.

Lihatlah, Taufik:

Ada langit, ada bumi,

Ada malam, ada siang,

Ada matahari, ada bulan,

Ada bintang, ada cahaya

Ada petunjuk, ada peringat,

Ada pasrah, ada menyerah

Kira-kira begitulah, tancapkanlah dalam cangkang-pikirmu. Realitaskan al-quran dalam pemikiranmu, Fik.

Laksanakanlah…

Belum ada Komentar untuk "WEJANGAN Realitaskanlah Al-quran Dalam Pemikiranmu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel