Dunia Pemikiranmu









Suatu siang yang menyala. Akhirnya kau keluar dari dunia pemikiranmu. Menyuguhkan kalimat tanya, padaku..

“Bagaimana kamu menyikapi ilmu?” katamu kepadaku. Ya, kau sudah merasa tidak betah dengan perasaanmu, tertekan sungguh dalam duniamu (Dunia ketidak-tahuan).

“Aku...” jawabku, “Ya biasa saja.”

“Apakah kamu merasa terbodohkan selama ini?” katamu lagi.

“Iya...”

“Jadi kamu merasa terbodohkan?”

“Iya...”

“Lalu apa yang kamu lalukan bersama kebodohanmu?”

“Belajar...”

“Apa yang kamu pelajari untuk melepaskan kebodohanmu?”

“Apa?” jawabku, “Ya, tentu apa yang aku tidak tahu.”

“Lalu bagaimana kamu mengerti bahwa kamu tidak tahu?”

“Bagaimana?” jawabku, sambil senyum, “Kamu kok aneh. Kan banyak ilmu yang belum kumengerti, makanya aku belajar.”

“Apakah kamu merasa tertekan akan kebodohanmu?”

“Mengapa saya harus tertekan?” jawabku,“Bodoh itu kewajaran!”

“Ya... ya... kebodohan itu kewajaran,” jawabmu sambil manggut-manggut.

Kau memang sungguh salah menyikapi sesuatu. Semestinya kau menganggap kebodohan adalah wajar. Kebodohan adalah manusiawi. Caranya ya harus belajar. Dan mengapa kau harus tertekan akan kebodohanmu. Seakan kau memaksa untuk pandai. Jangan-jangan target untuk pandai adalah perkara yang menyulitakanku. Itukah napsu yang tersembunyi dalam pikiran? Yang namanya memaksa tentu tidak baik. Ah mengapa kau serba salah dengan dirimu.



Oh Tuhan, selamatkanlah pemikiranku dari godaan napsu keserakahan.



Maka kau pergi sekali lagi. Mendatangi teman yang lain.



“Mengapa kamu ingin belajar?” katamu aneh. Tentu, aku menjawab dengan logat bibir yang persis mengejek. “Tentu ingin pandai.”

“Sebenarnya,” kata yang lain, “Apa yang salah denganmu? Maksudnya, ada masalah apa sehingga kamu bertanya tentang itu?”

Kau membuang napasmu.

“Begini... saya merasa ada yang salah dengan diriku menyikapi ilmu, bahwasanya saya merasa tertekan sangat akan keluasan ilmu. Saya merasa terbodohkan yang dalam. Seakan benar-benar membutuhkan ilmu ini dan ilmu itu. Sialnya. Karena sangking banyak ilmu yang perlu kuketahui menjadikan tubuhku sering didera angin kemalasan dan sekedar keperakuan kebodohan.”

“Saya rasa kamu mengetahui jawabnya...”

“Saya mengetahui?” katamu sambil mengangkat bahunya.

“Iya...” balasku ringan.

“Bukannya yang menderamu adalah pemikiranmu?”

“Benar...”

“Menurutmu, siapa yang mengetahui pemikiranmu?”

“Tunggu... tunggu...” katamu menahankan diri, “Sesungguhnya apa yang ingin kamu cari dariku?”

“Lho... saya tidak ingin mencari. Saya hanya berusaha mendengar apa yang hendak kamu sampaikan. Kupikir, dengan karakter sepertimu maka kata-katamu adalah jawaban atas persoalanmu. Bukankah persoalan utama dirimu adalah pemikiranmu?”

“Benar...”

“Kendala utama adalah kamu sering malas dan sekedar mengaku bodoh. Pertanyaannya: mengapa kamu tidak membelajari apa yang kamu bodohkan?”

Mereka tertawa. Menertawai diri masing-masing juga. Dengan pertanyaan yang di gelontarkan rupanya menimbulkan suatu jawaban yang sederhana. Kepada semuanya: poinnya, kalau merasa mengaku bodoh, maka pelajarilah apa yang membuatmu bodoh. Jangan sekedar mengeluh lewat kata-kata, tapi solusinya kerjakanlah kebodohanmu. Seperti sebuah masalah, maka janganlah menghindar dari masalah, tapi selesaikan masalah.

Setelah kau kenyang akan diskusi wara-wiri kepada teman-temanmu. Akhirnya kau mengurung kembali dalam duniamu, dunia pikiranmu. Mengumpulkan kebodohan demi kebodohan yang mendera. Lama kau menulis satu demi satu kebodohan. Berlembar-lembar. Rupanya kau menemukan kembali suatu masalah besar yang sangat menyita. Maka kau kepakan lagi sayap lidahmu. Kau datangi lagi teman yang lain.

“Apakah kamu menyimpan pengetahuan yang kamu dapatkan?” katamu.

“Iya...”

“Bagaimana kamu menyimpannya?”

Aku merasa ‘aneh’ atas pertanyaanmu. Kita tersenyum aneh. Agaknya ingin tertawa. Tapi tertahan. Mungkin karena dirimu juga sulit mengungkapkan bagaimana dirimu menyimpan suatu pengetahuan.

“Memangnya bagaimana kamu menyimpannya?” kataku.

“Lho kok malah balik bertanya?”

“Saya sih secara manual mengingat. Misal, gelas. Maka shhhhppp,” kataku sambil mengisyaratkan gelas ke otakku, “Memangnya kamu bagaimana?” tambahku, yang penasaran dengan gaya mikirmu itu. Penasaran karena seumur-umur baru saja mendapatkan pertanyaan aneh yang nyelkit di akal.

“Sejauh ini saya persis membuat peta garis besar ilmu itu: tepatnya seperti membuat pohon, dan dari pohon itu banyak cabangnya, dan dari cabang banyak rantingnya dan dari rantingnya banyak daunnya—pokoknya begitulah. Sayangnya pohon-ingatanku sangat sedikit. Sedikit sekali.”

Aku tentu memandangmu dengan aneh dan takjub. Bibirku senyum yang bagaimana. Malah ingin mengetahui lebih lanjut tentang pohon ingatanmu itu. Tapi aku urungkan, karena hal itu membuatku pusing. Kataku, “Ah pemikiranmu ribet sekali sih?”

“Ribet bagaimana?”

“Lha itu barusan... kamu menjelaskan, aku menyimaknya saja kewalahan.”

“Makanya saya bertanya, berapa banyak kapasitas ilmu yang kamu miliki?”

Aku terbengong. Gelegatku aneh. Risih mengakui kebodohan. Pikirku, masak harus diakui kebodohan. Karena yang dikatakan bodoh adalah orang yang tidak tahu. Dan kalau sudah ada justise kebodohan, maka harus ada ukurannya. Sementara kau, mengukur kapasitas pandai adalah orang-orang yang sarat akan kepandaian. Pendek kata, pandai di atas rata-rata. Maka kau memilih menjawab. “Sedikit... sedikit sekali.”

“Apakah ada upaya untuk menambahkan pengetahuanmu?”

“Tentu..”

“Sesungguhnya... ada apa denganmu?”

Kau menundukan kepala. Menarik napasmu. Mengutarakan apa yang kau pikirkan lebih, dan berdurasi lama.

Kami memberikan dukungan. Sangat hati-hati menyampaikan tatanan kata-kata. Sangat teliti memilih kata-kata untukmu yang mengerikan itu akan pertanyaanmu. Walau terkesan sederhana, tapi sungguh sangat realistis.

Kau memang seorang pemicu untuk belajar lebih. Sayangnya, tidak sedikit temanmu yang merasa tertekan tatkala diberikan tanya. Apalagi tatkala bertemu denganmu. Banyak yang khawatir mendapatkan sebuah tanya. Walau sekali lagi, pertanyaanmu adalah hal-hal sederhana.

Dan akhirnya, melihat respon teman-temanmu. Kau memilih untuk diam dalam waktu lama. Diam dalam arti mengumpulkan data demi data. Pikirmu, kelak aku akan bertanya bukan lagi tentang dasar-dasar ilmu. Ya, aku telah menemukan jawaban untuk bab dasar. Tidak perlu lagi mengungkit tentang hal itu. Yang terpenting bagiku adalah menguraikan kedasaran mencapai kepada puncaknya. Tidak gegabah untuk puncak. Perlahan-lahan menguatkan tiap-tiap yang mengarah puncak. Oleh karenanya aku memilih untuk kembali terjun dalam duniaku. Dunia Pengetahuan bukan Dunia Kebodohan. Selamat datang Dunia Pengetahuan...!

**

“Sebenarnya ia itu masih bertanya-tanya akan dirinya,” katamu kepada yang lainnya.

“Iya... aku memahami itu,” balasnya, “Namun tipikal sepertinya adalah sulit ditunjukan kecuali waktu yang menyadarkannya.”

“Benar. Sikap skeptisnya pada dirinya menjadikannya mengunci tabir-tabir ilmu.”

“Saya pernah menyarankan dia dengan bahasa yang terang lagi jelas, detail dan teliti. Faktanya ia sendiri yang menyukai akan dunianya.”

“Tuhanlah yang punya rencana. Kita telah berupaya,” jawabmu.

“Kita lihat saja pekembangannya, yang diguncang akan waktu; mengoyak moyak pemikirannya, lalu kemudian hari tatkala tersadar, adalah menjadi pemicu dalam ilmu itu sendiri. Ilmu laksana hujan yang jatuh kepada pemikirannya. Kali ini ia masih membuat celah-celah rinai-ilmu memasuki dirinya.”

“Benar. Kita tunggu saja sampai ia mampu menikmati lezatnya madu ilmunya. Mungkin kelak, kitalah yang mendengar lidahnya berkata-kata.”

“Kayaknya bukan mungkin lagi. Pasti.”

“Ya... waktu menjadikan keterbalikan. Kita yang renta, ia yang mempunyai daya untuk berbicara.”

Maka kau a yang dibicarakan, berjalan di antara mereka. Bersalaman. Tersenyum.

“Apa yang kamu kerjakan?” katamu.

“Bersantai, Pak.”

“Bersantai. Di sini. Ada apa?”

“Oh tidak ada apa-apa. Sekedar ingin berjalan lewat sini saja, Pak. Kangen saja melihat suasana,” jawabnya, kemudian pergi lagi.

Di tatapnya langit yang biru. Terang. Dan ia pun kembali lagi ke goanya, ke rumah dirinya, ke dunia pemikirannya. Ditulis 2015 diedit 2017

Belum ada Komentar untuk "Dunia Pemikiranmu "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel