Penjaga Kitab-Nya



Akhirnya terhapal juga ayat-ayat-Nya dan kepada-Nyalah segalanya dikembalikan, keterhapalanmu memang karunia-Nya, sekiranya Dia tidak menjadikanmu untuk hapal, manalah mungkin kau mampu menghafalkan. Kau berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk. Mudah-mudahan dengan hapalnya Al-Quran, semakin bertambahlah resapan tiapan ayat-Nya dalam setiap langkah, tidak menjadikanmu fanatik akan agama. Mudah-mudahan menjadi orang yang bijak terhadap sesuatu, termasuk terhadap manusia yang menganut agama. Sebagaimana dahulu kala, yang mana awam terhadap agama. Karena-Nya kau ditunjukan jalan untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Mudah-mudahan ayat-Nya berjalan sesuai apa yang Dia kehendaki.

“Aku tidak percaya bahwa dia dahulu kala ingin menghafalkan al-quran,” katamu.

“Tapi apalah daya, faktanya dia sekarang manggung ikut pengesahan.”

“Kayaknya dahulu kala ia adalah yang biasa...” katamu.

“Benar... ia memang orang yang biasa. Tapi setidaknya tatkala ia mondok di sini (Pondok Al-Quran) pastinya termotivasi untuk menghapalkan al-quran ‘kan?” bela yang lain.

“Seenggaknya kalau termotivasi menghapal al-quran, maka harusnya masuk kelas Tahfid, tidak seperti yang lainnya.”

“Kalau di pikir-pikir, dia itu kan nggak serajin amat mendarus al-quran ‘kan?”

“Iya... dia tidak serajin itu mendarus al-quran.”

“Berbicaralah kenyataan,” kata yang lain, “Sekarang ‘kan, pokoknya dia telah hapal.”

Maka datanglah dirimu yang dibicarakan. Gayamu tetap santai. Tenang.

“Wah panjang umur kamu.”

Kau tersenyum.

“Iya.. kami baru saja membicarakanmu.”

“Membicarakanku?” balasmu.

“Iya..”

Kau tersenyum.

“Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kamu kok bisa hapal al-quran?”

“Bagaimana?!” balasmu. Lalu duduk bersama mereka. Di ruang pengurus pondok pesantren, karena memang seangkatanmu kini menjadi pengurus-pengurus, malah bahkan banyak yang menjadi pengajar dan menetap di lingkungan pondok pesantren.

“Kok tanyanya bagaimana!?”

“Lha kayaknya dulu kamu tidak begitu-gitu amat dengan Al-quran. Bahkan terlihat seperti biasa-biasa saja.”

“Dapat dikatakan ngaji saja mbah-mbuh,” sambung yang lain, mesam-mesem.

“Ngaji yang mbah-mbuh...” sambungmu, tambag mimik senyummu, “Siapa-siapa itu orangnya? Hahaha” tambahnya.

Mereka semua renyah membalas. Mengenang kembali masa dahulu kala. Sesaat lamanya kembali ke tema awal tentang kehafalanmu.

“Memang dulu saya begitu, biasa-biasa saja, tapi perlu diketahui,” katamu. “Dalam pikiran alias dada saya. Hehe selalu saja kepingin untuk hapal al-quran. Tapi nyatanya, nyatanya lidah kok nggak berupaya keras untuk itu. Tidak semaksimal kayak penghapal yang lain untuk menghapal. Kalau dipikir-pikir memang serba-mbuh, mengapa saya terdidikasikan untuk menghapal al-quran. Tapi memang sejak dahulu kala, yang kutahu tentang islam paling banter adalah al-quran. Hingga agak besar, saya mondok di sini. Sesungguhnya dulu pun bukan kemauan keras saya untuk mondok. Saya sih, iya... iya saja. Entah apa-pun resikonya. Iya... iya...”

“Tapi bagaimana kamu bisa hapal al-quran?”

“Kalau soal bagaimana, jawabnya gampang, yaitu: ya dihapalkan. Di deras berulang-ulang. Di hapal-hapalkan. Seperti itu ‘kan?”

“Begini,” katamu, “Bagaimana kamu mendapatkan hidayah hehehe untuk gairah menghapalkan al-quran? Maksudnya, kok ingin-inginnya menghapalkan al-quran. Ceritanya bagaimana? Ceritanya?”

Waktu itu, selepas saya mondok, selepas saya jauh dari rutinas kesantrian. Yang berkumpul dengan masyarakat sekitar, di sanalah awal-mula sebuah deraan yang nyata kepadaku. Yang kemudian mempertanyakan kebelajaranku selama di pondok pesantren.

“Sesungguhnya,” batinmu, “Apa yang kudapatkan dari pondok pesantren? Apa?”

Saya terus mencari apa yang telah kudapati dari pondok pesantren. Rupa-rupanya disitulah saya merasakan kebodohan yang dalam. Pikirku, “Kok bisa saya merasakan bodoh yang dalam? Padahal, sejauh itu, saya seenggaknya mengaji, mengikuti sistem yang telah ada—seperti selepas bangun subuh mengaji sampai mentari menyala. Lalu pergi sekolah. Lalu pulang istirahat. Tatkala asyar mengaji lagi, lalu istirahat, kemudian sehabis magrib mengaji lagi sampai jam 9 nan malam. Kalau soal mbolos memang itu juga sering.

Saya tersenyum tatkala mengenang itu. Saya terharu mengenang itu. Pikirku, “Kok bisa-bisanya saya mbolos mengaji? Kok bisa-bisanya?” katamu sambil cengar-cengir. “Kemudian saya mempertanyakan, mengapa juga saya merasa tidak mendapati kitab-kitab yang selama ini dikaji itu. Mengapa? Mengapa? Jadi sejauh ini saya dipesantren ngapain? Sekedar numpang tidur dan makan yang jauh dari orang tua, merasakan sakit yang tidak ditemani orang tua. Dan sekedar berlalu lalang begitu saja.

Pokoknya saya merasa tidak punya apa-apa. Aku ingin mondok lagi, pikirku.

“Tapi katanya kamu telah mondok selama 7 Tahun?” sambung yang lain.

“Memang. Hahaha..” kataku mengenas juga kalau dipikir-pikir, selama 7 tahun laksana betapa kosong terhadap ilmu agama.

“Lalu...”

“Seperti yang kalian dengar: saya merasakan bodoh yang dalam. Bagaimana itu bahasa gampangnya untuk menyimpulkan bodoh yang banget? Ya sudahlah begitulah intinya. Yang kemudian memacuku untuk kuliah di jurusan pemikiran, alias Filsafat.”

“Wuih...” kata temanmu, haru.

“Di sana saya menemukan konsep demi konsep yang hebat. Tapi rupanya saya baru menyadari bahwa konsep islam kalau dipikir secar rasio alias akal, maka sungguhlah sangat luar biasa...”

“Wajarlah, islam datang karena wahyu,” potong yang lain.

“Konsep utama islam ada pada al-quran, dari itu saya semakin giat akan al-quran. Walau terkesan seperti menyelingkuhi pelajaran, artinya kuliahnya jurusan filsafat, tapi nyatanya sibuk juga terhadap Al-Quran, karena memang sebelum itu, al-quranlah yang senantiasa menjadi nomer satu di hatiku. Hanya Al-Quran. cie...”

Mereka tersenyum.

“Tapi sesungguhnya tidak sesimpel itu. Tidak seremeh temeh itu. Ribet. Ruwet.”

“Maksudnya?” serobot yang lain.

“Sebab mengkaji filsafat....”

“Kok sampai ke filsafat sih?” potong yang lain segera.

“Katanya mau mendengar kronologisnya? Begitulah urutannya? Kalau mendengar bagaimana, ‘kan sudah tak jawab. Ya dihapalkan.”

Mereka mengangguk. Mempersilahkan kembali sambil melambaikan tangannya.

“Dari filsafat maka lari kepada sistem islam. Saya mulai membaca lagi kitab-kitab dasaran agama, seperti fikih standar, ilmu kalam standar, tafsir standar dan apa-apun yang berkaitan dengan standar-standar keislaman. Rupanya dari sepersekian limpahan kestandaran dalam islam semuanya merujuk kepada satu naskah, yakni al-quran. Maka dari itu, saya kembali tertarik mendekati al-quran, sekali pun sebelumnya setiap hari selalu berkutat dengan al-quran, tapi kali ini, setelah mendapati konsep demi konsep dari filsafat, gaya mendekati al-quran menjadi berbeda—yakni al-quran yang menjadi bahan untuk berpikir. Jadi al-quran terfungsikan kepada sebuah renungan. Tentu, saya juga membawa kitab-kitab sejarah. Apakah tidak ribet? Tidakkah ruwet?”

“Saya rasa setiap para pengkaji selalu berkaitan dengan hal-hal itu untuk menguatkan kehafalannya?” balas temannya.

“Memang. Tapi sesungguhnya yang ingin saya sampaikan adalah uraian untuk sampai kepada saya menghapalkan al-quran. Terlebih lagi, bukannya setiap individu selalu mempunyai pengalaman untuk menemukan ‘sadar’ yang berbeda-beda. Begitulah saya. Menemukan kesadarannya melalui prosesi pemikiran yang berputar. Walau mungkin, kalian juga sama. Apakah begitu?”

Mereka tersenyum. Memanggutkan kepala.

“Dari itu saya terus mendarus, berupaya mendapakan kelancaran yang sempurna. Saya target-targetkan untuk mengejar kecepatan huruf demi huruf al-quran. Saya khatamkan al-quran berulang-ulang dengan kecepatan tinggi. Selain itu, diluangnya lembar al-quran, saya tambahkan juga pengetahuan sejarah demi sejarah. Lalu membaca percikan ayat demi ayat yang berserak di dalam kitab-kitab. Dan wuih... saya persis orang yang giat dalam agama sekali ‘kan?”

Mereka tersenyum. Memanggutkan kepala.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan hapalnya Al-quran?”

“Katamu. Apa yang aku lakukan? Tentu, menyempurnakan keal-qurananku lah. Menanamkan lebih dalam ke al-qurananku.”

“Caranya?”

“Kalian tentu tahulah...”

“Tapi bagaimana kamu akan melakukannya? Bagi-bagilah... saya kan ingin tahu resepnya.”

“Seperti biasa, saya akan menyusun kitab-kitab, dan kitab itu tentu saja khusus untukku. Dan yang lebih sering, menanamkan ke dalam pemikiran saat realitasku. Maksudnya, tatkala sedang ngumpul begini: diam-diam saya berupaya merangkai alur Al-Quran dalam seting akalku. Seperti ...”

Maka kau membacakan al-quran kepada temannya. Sedikit. Tapi mengena juga kepada mereka.

“Wuih... wuih orang yang suka mikir memang selalu berpikiran yang tidak terduga ya... ada-ada saja, ya... sibuk dengan pikirannya sendiri.”

“Ah kayak lupa saja dengan istilah, ilmu itu menghiasi pemiliknya. Hehe”

Suasana menjadi terbuka. Karena keberadaanmu, satu persatu temannya pun menceritakan kronologis dirinya seusai dengan aktifitas dirinya. Mengutarakan pengalaman demi pengalaman. Melihat kembali backgrone masing. Sampai larut malam mereka membagi cerita. Lalu satu persatu mulai undur diri. Dan kembali. Kau pun pergi. Menuju penginapan yang ditinggali keluargamu. Sambil berjalan kau membatinkan, “Sesungguhnya semua kembali pada-Nya, karena semua adalah milik-Nya. Dialah yang menguasai semesta raya. Semua ada pada kuasa-Nya.”



Ditulis 2015 diedit 2017

Belum ada Komentar untuk "Penjaga Kitab-Nya "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel