Pemikiranmu: Tentang Yang Satu

 
Malam itu, di rumahku, kau menyampaikan maksud hatimu, dengan caramu, “Bagaimana kamu berpikir?”

Orientasi pemikiran menuju yang satu.

“Menuju yang satu,” balasku, melambatkan intonasi diksiku.

Tentu, aku belum selesai akan segalanya.

“Bila selesai?” sambutku.

“Satu.”

Pemikiran satu. Maksudnya!?”

“Aku malu ingin menyatakannnya.”

“Mengapa harus malu, toh sekarang hanya kita berdua! Tidak ada yang lainnya,” balasku, penuh percaya diri, karena memang di rumah, hanya kami, tidak ada yang lainnya.

Namun seketika kau menelan ludahmu, payah. Teringat jelas dalam kenanganmu tentang pengaduan dirimu kepada manusia. Lidahmu mengutarakan tentang keluh-kesah. Dan aku membaca itu dari sorot matamu. Kemudian aku ingin mengetahui kebenaran yang kau lakukan.

“Oke... saya sarankan, itu pun kalau kamu mau,” Tambahku, menyadari betul bagaimana karaktermu, tidak bisa dipaksakan; mempunyai rencana, dan ambisius yang terkendali, “Ceritakanlah kepada yang layak kamu ceritakan.”

Balasmu, “Aku telah menceritakannya padamu, kuharap kamu mengerti!”

“Sekalipun tidak gamblang,” sambutku, cepat, “Apa yang kamu sampaikan!?

“Aku telah gamblang,” balasmu, cepat.

“Hal apa yang membuatmu ragu akan pemikiranmu?” sahutku.

“Sesungguhnya aku tidak ragu akan apa yang kupikirkan, tapi rupanya sekarang aku menjadi ragu yang dahsyat, aku merasa bahwa aku adalah orang peragu di seluruh dunia, karena aku meragukan diriku sendiri. Sekarang, siapakah yang akan mempercayaiku kalau aku tidak ada kepercayaan akan diriku sendiri?”

“Sudahlah jangan begitu di dramatisir, biasa saja menanggapinya. Masih ada yang percaya kok, yang didepanmu ini masih percaya padamu kok!”

“Sekali pun aku seperti ini,” katamu, meringis juga bibirmu.

“Ya memangnya kamu seperti apa? Bukannya kerap seperti ini?” balasku, santai.

Kami tersenyum. Tertawa sejenak. Lalu melanjutkan.

“Kukira hal itu sangat berat sekali kawan, biarkanlah aku bercerita, kali ini dengarkan dululah aku utarakan...”

Kau menerima. Sungguh bagimu, bersamaku adalah interaksi yang hebat dan menyenangkan, laksana tidak ada perdebatan yang ada persis diskusi. Kau sering dicap tukang debat, padahal kau berharap orang-orang mengatakan diskusi. Tapi yang terjadi, dikala telinga mendengar apa yang kau lontarkan persis sebuah perdebatan, karena intonasi nadanya terkesan serius dan saling memburu. Itulah kehebatanmu.

“Bila dipertimbangkan lebih matang, maka membentuk pemikiran yang satu maka sangatlah sulit dan ribet. Apalagi mengangkat unsur-islam, tentu itu sangat sulit. Bukannya kau ingin menyatukan orang-orang? Supaya tidak ada status di antara mereka, memukul sama rata!”

Kau tersenyum.

“Kenalilah, kalau kamu telah menguasai itu, kelak akan terbedakan sendiri statusmu. Maksudnya orang yang berpengetahuan luas akan kebjikasanaan dan yang mempunyai andil kuat terhadap ilmu-islam akan naik posisi. Jadi, kesamaan status selalu saja gagal, sekali pun kau berharap orang-orang yang sebutlah beriman mempunyai status lebih tinggi dengan lantaran, mereka berusaha keras jujur, amanah, juga tablig. Seenggak-enggaknya syarat-syarat yang diberikan tercukupkan. Tapi itu sangat sulit, Kawan.”

Kau tersenyum lagi. Menyeruput kopimu, perlahan. Lalu lidahmu mengeluarkan kata-kata:

“Apakah orang-orang tidak menyadari bahwa bumi adalah satu, dan atapnya juga satu dan seluruh manusia ada di atas bumi?” tanyanya mendadak persis dungu.

“Ah kamu mengabaikan realitas, Kawan, kau terlalu tenggelam ke dalam sejarah keberadaan. Bukannya kamu sering berjalan-jalan mengawasi kemanusiaan dan kerap membertanya kepada mereka? Tidakkah kamu dapati sesuatu tentang sifatnya kemanusiaan?”

“Sungguh aku sangat menyadari hal itu. Dikala aku berpikir lebih jauh, yang terjadi, aku malah semakin pusing dengan rakyat-rakyatku, bagaimana dengan rakyatku kelak. Aku masih sangat egois dengan ini: kuinginkan setiap rakyat sejahtera dengan memiliki pekerjaan yang mapan dan hatinya bahagia. Tapi rupanya, dikala aku semakin ketat memikirkan cara itu, aku semakin hilang dari kenyataan. Aku semakin hilang dalam kenyataan, sibuk dengan cara bagaimana dan bagaimana mensejahterakan. Selalu seperti itu. Apakah kamu tidak mempertanyakan bagaimana menyikapi hidup?”

Aku tersenyum. Memandangkan wajahku ke pintu belakang.

“Kau lihat itu kan,” kataku sambil memandang pintu yang menuju ruangan tengah, yang di sana ada anak dan isterinya, “Hidupku lebih ringkas dan tenang dengan keberadaan mereka. Tidak muluk-muluk menjadi lebih baik dan sangat realistis. Manusia itu membutuhkan yang lain. Kuakui kau memang cerdas, tapi soal hidup kurasa engkau belum mengetahui apa itu hidup, sekali pun kuliahmu selalu membicarakan tentang itu; sekali pun rangkaian ide-mu selalu membicarakan tentang hidup. Bukannya begitu?”

Kau tersenyum. Masih mendengarku persis ceramah. Dan kau bangga.

“Kusarankan dengan agak terpaksa,” sambungku. Kau tertawa. “Menikahlah segera!”

Ekspresimu berubah drastis. Dalam benakmu seketika teringat apa itu cinta? Aku membaca itu.

“Jangan dipersoalkan tentang apa itu cinta? Ya, aku sering membaca tulisanmu dan kau begitu menteorikannya. Batinku, mengapa harus diteorikan lebih dalam, kau telah mengetahui, baiknya dilangsungkan.”

“Sesungguhnya aku pun mengetahui itu, adakalanya ada keingininan untuk menjadikan orang-orang mengerti akan makna cinta yang kutawarkan; aku terdorong untuk melakukan itu, aku tidak bisa menahan diri untuk seperti itu. Dorongan hatiku, naluri, sangat kuat. Aku geram.”

Seketika putraku datang menghampiri. Lenggak-lenggok jalannya membuatmu tersenyum. Pecahlah pemikiran yang persis ketinggian itu.

Aku memangkunya, dan kukatakan:

“Dengan ini saya berpikir lebih simpel dan sederhana, perlahan-lahan mulai menerima dunia atas setingan-Nya. Hanya itu. Bermain dengan ide boleh-boleh saja, tapi kebanyakan ide lamat-lamat itu menjauhkan diri dengan realitas. Tidakkah kamu ingat Al-quran?”

Kau tersenyum. Lalu menggaruk-garukkan kepala. Kau sangat teringat al-quran. Tentang ke-alquranan yang mana hal itu dahulu kala, al-quran lebih lekat ke dada manusia, bukan muluk-muluk teori. Sekali pun banyak yang mendarus al-quran, namun al-quran lebih dominan tersimpan pada dada manusia. Begitulah al-quran turun dengan masanya, di masa Nabi Muhammad.

“Pada permulaannya,” kataku, “Keluarga menjadi ukuran satu yang lain. Makna ‘satu’ kemudian meluas ‘kan? Yah, acapkali Matematika realitas memang terkesan lucu.”

Kami tertawa. Pembicaraanya meluas-luas ke lingkungan RT, Desa, sampai negara, lalu ke internasional, lalu bumi, lalu tata surya, kemudian semesta.

Mereka memang cocok. Sangat cocok.

Pembicaran terus mengalir. Ruangan laksana hamburan kata-kata sarat pengetahuan. Tidak hanya terbatas semesta, sampai juga kepada akhirat, surga dan neraka. Lalu kepada kisah-kisah yang ditawarkan islam dalam al-quran, dikaitkan dengan sejarah umum. Ditambah lagi dengan perkembangannya.

Mereka terkesan gembira. Meledak-ledak tentang ilmu.

Akhirnya, di sela perjalanan pulang kau hanya teringat akan ini:

“Sesungguhnya tanpa dipikirkan tentang pemikiran, maka orientasi pemikiran adalah satu, karena memang manusia berada di area yang satu.”



Ditulis 2014 diedit 2017


Belum ada Komentar untuk "Pemikiranmu: Tentang Yang Satu "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel