Nasihat Kewajaran Nafsu Berahi, Ingatlah Kau Berpengetahuan Allah







Taufik, nafsu berahi yang berada dalam dirimu, itu adalah kewajaran bahwa kamu adalah manusia, yang memang telah ada, tapi tetap ingatlah bahwa kau berpengetahuan tentang ‘Allah’, atau berpengetahuan tentang atas nama islam: setidaknya engkau telah belajar, bahwa Allah itu Maha Hidup, Allah itu Maha Mengawasi, Allah itu Maha Mengetahui. Ingatlah itu, Taufik.

Zaman memang semakin maju, lelaki dewasa mulai berhubungan dengan perempuan dewasa, zaman sekarang di sebut dengan pacaran. Sudah! Jangan kau sibukkan dengan hukumnya pacaran, jangan kau sibukkan dengan bagaimana kalau menjalin pacaran, atau pacaran yang baik bagaimana: tetaplah ingat, bahwa kau itu senantiasa di awasi oleh-Nya, Allah itu tidak tidur, Fik.

Terlebih saat ini, saat pintu-kesadaranmu terbuka, pengetahuan islam mulai ‘mengerat’ dan ‘mengikat’ dalam akal dan hatimu, maka tetaplah ingat bahwa Allah itu Maha Mengawasi, Fik.

Malah aku mendukungmu mendekati perempuan, karena dengan begitu, engkau lebih mempunyai tujuan terhadap hidup, engkau termotivasi akan pentingnya pengetahuan, engkau termotivasi akan pentingnya ‘keberadaan’, dan engkau termotivasi akan makna cinta yang sesungguhnya:

Bukankah sebelum ini, engkau tidak mengerti tentang bagaimana cinta yang sesungguhnya dan engkau senantiasa mencari sesuatu yang itu benar-benar cinta dan itu membangkitkan dirimu untuk mengerti esensinya cinta, dan engkau selalu tidak menemukan ‘cinta’ yang benar-benar engkau layakkan untuk dicinta?

Dan kini, engkau dipertemukan ‘waktu’ tentang sosok perempuan yang itu mengajarkanmu tentang ‘esensi’ hidup bahwasanya hidup itu adalah sarat idealis dan sarat egois, yang terlebih lagi, responmu kepadanya bukan tentang ‘kenafsuan’ yang kemudian menjelma percikan nafsu karena engkau teringat akannya.

Namun, aku menyarankan:

Hati-hati terhadap kecintaanmu tersebut, jangan sampai engkau tergoda terlalu dalam kepadanya, yang itu mampu membutakan bahwa ada Allah yang maha ada. Jadikanlah dia motivasi, dan jangan urusi tentang ‘gejolak’ hati ingin bersamanya, kenanglah, dia adalah pendamping hidupmu, yang memotivasimu tanpa perlu dia berkata-kata: “Ayolah sayangku, semangatlah, ada aku, ayolah semangatlah.”

Saat dia menyeru namamu berulang-ulang, dan kau menjalin kata kepadanya, maka bisa jadi engkau ‘terjebak’ pada tali nafsu kepada sosoknya, bukan kepada yang menciptakan-Nya. Hati-hati terjebak pada hasrat kepadanya, bukan kepada yang menciptakan-Nya. Dan engkau belum layak benar mendekatinya, karena engkau belum siap secara materi maupun ruhani untuk meminangnya, oleh karenanya, tancapkan dalam kening pengetahuanmu: ada dia yang menunggumu untuk dipinang, untuk menjalin waktu bersama. Maka lesatkanlah pengetahuanmu, selamatkanlah hartamu, kejarlah sesuatu untuk mengokohkan ruhanimu, kejarlah sesuatu untuk mengokohkan materimu.

Bahagia itu, harus cukup, Fik, cukup secara materi dan cukup secara ruhani; kebutuhan materi adalah alas untuk menjalin waktu, dan kebutuhan ruhani adalah tentang control dunia yang sebentar ini. yang pada dasarnya, manusia tetap saja pada jerat ‘egoisnya’, biarkan dirimu menjadi dirimu, dan dirinya menjadi dirinya: jika kalian hidup bersama, maka adalah dua sosok yang berbeda namun saling melengkapi satu sama lain, karena hal itu telah ditakdirkan oleh-Nya.

Percayalah bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh-Nya, engkau tidak bisa protes tentang sesuatu yang telah ditakdirkan oleh-Nya, terimalah kenyataanmu, menjulangkanlah dirimu: dan ingat, ada dia yang menemanimu. Ada dia yang menemanimu. Biarkan dia menjadi inspirasi buat hidupmu! Biarkan dia menjadi ‘penyemangat’ buatmu.

Di zaman yang serba telekomunikasi, janganlah sering berhubungan dengannya, ingat, saat kau terjebak oleh ‘nafsu’ kemanusiaan; pastilah engkau akan digiringkan ‘kerinduan’ yang lebat akannya, dan engkau akan terjebak dalam rona-rona kata yang mampu menghambur-hamburkan nafsu-kemanusiaanmu. Dan terlebih parah lagi, nafsu-rindu itu akan menjadikanmu ingin bertemu, dan menyegerakanmu ‘memecahkan’ tentang kerinduanmu, yakni nafsu berahimu. Sebab, ‘rindu’ itu mengganjal pada dirimu, dan tiada obat selain bertemu, lantas apa yang akan kau lakukan? Karena dia lawan-jenismu, maka kau akan memecahkan sesuatu yang ‘mengumpal’ dalam hatimu, yang itu mewujud pada kelaminmu.

Zaman sekarang, banyak orang yang terjebak pada ‘ranah-ranah’ rindu yang diumbar, ranah-ranah ‘cinta’ yang sarat berkenafsuan.

Jangan ikut-ikutan manusia yang mengumbar nafsu berahi—kau kini telah tersadarkan pengetahuan islam.

Jangan ikut-ikutan merayakan mengumbar nafsu kerinduan—kau kini telah tersandarkan pengetahuan ‘keallahan’

Kau bisa melihatnya, puaslah dengan melihatnya. Kau bisa melihat saudaranya, puaslah melihatnya; dia itu adalah fragmen dari saudara-saudaranya. Suaranya adalah ‘percikan’ dari suara-suara saudaranya. Kulitnya adalah ‘serupa’ kulit-kulit saudaranya. Kalau kau merindukannya, dan ingin menyentuhnya, sentulah saudaranya yang laki-laki, bila perlu peluklah: puaslah dengan menyentuh saudara laki-lakinya, puaslah dengan memandang saudara laki-lakinya.

Sungguh, aku ingin mengajarkanmu tentang cinta yang lebih luhur dan tinggi, Fik, bukan sekedar cinta kepada mahluk, bukan cinta yang sekedar cinta; memang tidak salah kalau cinta sekedar cinta, tapi apalah daya, pemikiran kita tergiring untuk mengungkapkan itu. Kita tertakdirkan untuk masuk dalam bagian itu, dan kaulah yang mewujudkan apa yang menjadi buat pikirku. Engkaulah yakin, bahwa aku adalah cerminmu, maka ketahuilah bahwa keyakinanmu itu menguatkanku bahwa aku pun menjadi bagian dari dirimu.

Sekarang, kokohkan pengetahuanmu, seperti saranku sebelumnya: engkau harus selesai dengan kuliahmu, apapun aral melintang, engkau harus selesai. Itulah tugasmu. Karena itu, engkau harus ‘indahkan’ sarjanamu, engkau ‘harus’ kokohkan keilmuanmu. Setelah dirimu ‘siap’ materi sekaligus pengetahuan, lamarlah dia yang menjadi motivasimu. Tetap kencangkan dia menjadi ‘motivasi’ langkahmu: ingat, engkau pernah bermimpi tentang tiga pena yang kau berikan kepada orang-orang, dan sungguh pena yang paling utama pastinya kau berikan kepada isterimu, kepada pasanganmu.

Sekarang, terimalah realitasmu apa adanya. Nafsu-berahi yang melanda, itulah nafsu yang dimiliki manusia, tak usah khawatir, dengan nafsu itu, ukurlah ‘bagaimana’ orang-orang muslim membicarakan tentang nafsu, yakni, tentang hati dan akalnya—bukankah dasar nafsumu itu terjalin karena akal dan hatimu? Gunakanlah akal dan hatimu untuk mengukur itu.

Terakhir, nafu berahi, itu wajar, tapi ingatlah Allah itu selalu ada dan kau berpengetahuan tentang ‘keallahan’.

2017

Belum ada Komentar untuk " Nasihat Kewajaran Nafsu Berahi, Ingatlah Kau Berpengetahuan Allah "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel