Nasihat: Eksistensi Kemanusiaan dari Keagamaan: ‘Gelar’ itu Penting.







Taufik, aku tidak pernah melarangmu untuk mencari sesuatu yang engkau ingin cari, aku membebaskanmu terhadap apa yang engkau cari, yang pasti, jangan lalaikan agama, jangan lalaikan dari tugas keagamaan. Dan aku juga tidak menyuruhmu untuk berketat-kuat dalam ranah agama, tidak, aku menyuruhmu untuk ‘selamatkan dirimu’ dari cengkraman ‘realitasmu’. Tamatkan kuliahmu. Tamatkan belajarmu.

Kalau kau merasa tertekan dengan sesuatu yang bernama ‘uang’, maka carilah.

Aku tidak mengajakmu deras dan kencang tentang keagamaan, yang pasti, jangan lupakan agama, jangan lalaikan tentang keagamaan. Ketahuilah, keagamaan itu, semakin engkau dalami, maka akan semakin dalam, lebih dalam, semakin rinci, semakin rinci. Dan aku membacamu, gelegat-gelegat sejarahmu bukanlah dalam ‘kental’ keagamaan yang dalam, tapi sebagai pelaku keagamaan.

Ingatlah statusmu, sebagai pelaku keagamaan. Jalankanlah sesuai peranmu. Jangan repotkan tentang ‘dasar-dasar’ keagamaan, yang pasti, jalankanlah sebagaimana peranmu: pelaku keagamaan.

Selamatkanlah eksistensi kemanusiaanmu: apa itu? Hal-hal pokok tentang keduniaan! Dan engkau jangan sampai diombang-ambing tentang hal-hal pokok tentang keduniaan, soal keagamaan, perlahan-lahanlah—aku tahu kau berharap mendapat ‘derajat’ yang tinggi dalam keagaamaan: tepiskanlah prasangka itu. Tepiskanlah. Ingatlah backgrone awalmu:

Orang pandai keagamaan itu telah banyak, dan kekurangannya adalah menjalankan dari kepandaiannya. Dan aku adalah orang yang berusaha kencang menjalankan ‘keagamaan’ sekalipun ‘kepandaian’ dalam beragama kurang, aku akan menjalankan tentang keagamaan.

Tetaplah engkau eksis dari keagamaan, dan jangan lupa statusmu sebagai apa: pelaku. Dan jangan lupa tentang study-realitasmu: ini penting, kuliahmu penting di urusi, zaman membutuhkan itu, fik. Kau telah tahu diriku, sudah tidak bisa melanjutkan ‘belajar-formal’ lagi, karena terbentur usia—tujuannya apa? Gelar.

Zaman sekarang, gelar itu penting sekali—kenanglah pembacaanmu terhadap Ibnu Khaldun, gelar itu penting-- bersamaan dengan gelar, maka orang itu akan dihormati dan lebih dihormati, karena mempunyai gelar, dan engkau melihat orang-orang yang kurang-bergelar, apakah mereka lebih dihormati dibanding orang yang tidak bergelar? Ini bukan soal ‘pamer’ tentang gelar, Fik. Tapi zaman, mengajak orang-orang ‘harus’ mempunyai gelar. Zaman menuntut, dan lebih mendengar tatkala dipameri dengan gelar—walau sebenarnya, gelar itu tidak menjamin orang lebih hebat dibanding dengan gelar, namun system menganjurkan untuk itu, Fik. System kemanusiaan menganjurkan untuk itu.

Tatkala engkau mempunyai gelar, maka engkau mengajarkan ilmu-ilmu, dan terlebih lagi, engkau akan dipertemukan dengan orang-orang yang berstatus tentang keilmuan: jangan sombong atau salah-duga terhadap orang-orang yang berpengetahuan, Fik, dengan sandangan orang-orang yang bergelar, dengan gelar engkau akan ‘berkutat’ pada gelaranmu itu, dengan gelar engkau akan berjumpa dengan orang-orang yang hebat, dengan gelar, engkau akan mudah diperingati: dan zaman sekarang mengajak untuk itu, Fik. Zaman mengajak untuk eksis, namun, tetap ingatlah, bahwa Allah itu senantiasa mengawasi, ada malaikat di sampingmu—apakah kau mau menghelak tentang kitab-Nya? Allah itu dekat, lebih dekat daripada urat lehermu dan juga malaikat ada disamping kanan kirimu. kau boleh eksis, tapi ingat, kau senantiasa diawasi, oleh karenanya, belajarlah sekali lagi tentang adab-adab yang ditawarkan kanjeng Nabi, kajilah sekali lagi, lebih lama, tentang hadist-hadist; sebagai pacuan engkau bertingkah. Sekarang, yang penting adalah eksistensimu, engkau penting meraih gelar, kemudian menggelar apa yang telah enggau gelarkan tersebut.

2017

Belum ada Komentar untuk " Nasihat: Eksistensi Kemanusiaan dari Keagamaan: ‘Gelar’ itu Penting. "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel