Tetaplah ‘Genggam’ Keakuanmu






Bukankah engkau telah mengetahui ‘keakuanmu’, tunaikanlah keakuanmu, hati-hati godaan itu sangat lembut dan menggodamu lepas dari ‘keakuamu’, jadilah keakuanmu kabur dan engkau menjelma takabur, engkau menjadi sok-berilmu, sok-pengetahuan, sok-handal dalam berbicara. Kenanglah, tak ada yang berfaedah sungguh tatkala obrolongan angin, engkau harus kenal lebih jauh mana yang layak dikatakan tentang keilmuan dan mana pembicaraan kilasan, atau obrolan basa-basi, kau harus tangkap itu dengan jaring pengetahuanmu—ilmu filsafat adalah induknya pengetahuan, tidakkah engkau paham dengan diksi itu, Taufik; induk pengetahuan, mampu menerobos ke ruang-ruang ‘ilmu’ yang lain, dengan metode-metode yang beragam. Jangan terpaku, terfokus, pada satu metode, dan tetaplah menjadi dirimu.

Tetaplah jadi dirimu, hati-hati godaan datang padamu.

Tetaplah kendalikan dirimu, hati-hati godaan menyerbumu.

Tetaplah gunakan metodemu, sekaligus menjadi dirimu.

Ketahuilah, apa yang kusampaikan adalah sesuatu yang sederhana, namun tidak sesederhana yang engkau pikirkan. Ringkasnya, tetaplah jadi keakuanmu berserta metode-metodemu.

Jika ada yang menolak perkataanmu—terapkan dalam dirimu, menggunakan metode yang pas untuk menerima, selanjutnya tetaplah jadi dirimu.

Apakah dalam hal ini aku mengajakmu untuk menjadi tukang-debat?

Tidak! Sebagaimana karaktermu, yangmana kau klaim dirimu bukanlah juru debat, melainkan diskusi dan mencairkan suasana.

Tak apa bila suasa sunyi.

Tak apa bila suasana tanpa kata.

Tak apa bila semua diam.

Itu bukan salahmu! Itu bukan salahmu! Dibanding tatkala kau curahkan dirimu pada realitas dan mereka mampu menghardikmu dan engkau merasa ngelentruk lalu mengadu padaku, lebih baik:

Engkau tetap tenang.

Engkau tetap damai.

Engkau tetap bertambah bahagia.

Lalu engkau disibukkan dengan ‘sistem-sistem’ pengetahuan, engkau sibuk pada halaman-halaman pengetahuan, sibuk dengan kata, dan menjaring makna, sungguh itu lebih bermanfaat buat dirimu sendiri. Lebih bermanfaat buat hatimu, buat kehidupanmu.

Engkau mampu menahan, tahanlah.

Engkau mampu terdiam, diamlah.

Engkau mampu membuat isyarat, isyaratlah.

Engkau mampu meracik kalimat simpulan, raciklah.

Engkau mampu memberikan simpulan, simpulkanlah.

Selanjutnya, tetaplah engkau diam, lalu meneruskan, dan biarkan mereka bercerita tentang diri mereka sendiri, biarkan mereka menjadi pembicara untuk dirinya sendiri, dan engkau tetaplah menjadi sebuah cermin yang memantulkan dirinya sendiri, dan dengan begitu engkau merasa bahagia, maka bahagiakanlah hatimu.

Jika ia bicara dan itu mencarimu, jawablah menurut apa yang ia minta.

Jika ia mengorekmu lebih dalam, jawablah menurut apa yang ia minta.

Jika ia mengorekmu jauh lebih dalam, dan jika engkau enggan menjawab, diamlah; jadikanlah isyarat yang terang untuknya.

Dan tetaplah engkau menjadi ‘dirimu’, menjadi dirimu, itulah kebahagiaanmu. Itulah tujuanmu. Selain itu, tetap ingatlah tentang nafsu-nafsu yang dimiliki, manusia, dan itu, gampang juga bersinggah dalam dirimu. Sangat renyah nempel dalam dirimu.

Dan ingatlah, apa itu realitas? Yakni sebuah percakapan yang simpel, praktis, dan pasti: pakailah rumus itu dalam waktu-realitasmu, jangan campurkan waktu-realitas dengan realitas-ilmu; jika dudukmu dalam forum ‘keilmuan’, disitulah ruang-ruang yang sungguh, engkau berkata banyak, mampu menggurui, menasihati, mengarahkan, dan dapat tanggapan.

Terakhir, jangan lupakan ‘keakuanmu’, dan hati-hati ‘terseret’ pada ‘keakuan’ yang itu bukanlah hakmu, sungguh itu bukan dirimu, padahal engkau memahami bagaimana dirimu. Kenanglah!

2017

Belum ada Komentar untuk "Tetaplah ‘Genggam’ Keakuanmu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel