Nasihat Tentang Wajah Dalam Pikiranmu








Rindu adalah angan-angan dalam kepalamu, yang berusaha untuk dipecah dengan cara bertemu, begitulah kerjanya nafsu, yang berasaskan diksi ‘rindu’. Dan cinta adalah sesuatu yang membuatmu senang yang itu adalah tenang hasrat di dalam dirimu, klaim bahwasanya engkau ‘cinta’ dan engkau adalah pelaksana dari objek ‘cinta’, maka engkau dikatakan pecinta; padahal saat engkau menunaikan cinta itu adalah proses menyinta.

Jika kau bingung dengan kalimatmu. Ringkasnya; cinta, rindu yang bersemayam dalam dirimu, adalah tentang suatu kondisi ‘aktifnya’ akalmu untuk mengklaim yang berdiksi itu. Ingat, diksi atau kata itu digunakan guna mempermudahkan sesuatu yang sebenarnya tidak harus dikatakan.

Sesuatu yang tidak harus dinyatakan. Melainkan di jalani.

Harusnya diam tidak berkata, sehingga tidak ada perbedaan.

Perbedaan adalah tanda bahwa adanya pertikaian diantara keduanya.

Perbedaan ada, untuk menandai adanya sesuatu yang berbeda.

Perbedaan ada untuk lebih memahamkan bahwa memang harus beda.

Dan wajah-wajah yang kau bayangkan itu, yang berbeda-beda itu, yang kemudian menjelma laksana layar dalam bola-matamu—kamu laksana dibayang wajah-wajah mereka—sesungguhnya ini adalah proses engkau menjelma manusia, proses menjadi manusia yang sesungguhnya, bahwa manusia itu saling menyaling dan jalin menjalin; yang secara otomatis mempunyai sanat karakter, kesamaan sifat, dan pembagian sifat, bagi dirinya yang menjalani hidup. Ringkas kata, bayang-bayang itu, selain menggembirakanmu, sesungguhnya itu adaah godaanmu terhadap sesuatu yang sebenarnya adalah satu. Sesuatu yang sebenarnya tidak harus kau petak-petakan; di sinilah arti dari kekosongan pikiran.

Tak ada kenangan.

Tak ada gambaran masa depan.

Sekarang.

Realitas yang sebenarnya.

Bersama itu, tentu engkau akan bahagia, engkau akan menikmati jalinan-waktu yang menimpamu, proses-waktu yang itu adalah bagianmu. Proses-waktu yang engkau tidak bisa lepas dari sesuatu kecuali kenyataan. Dan kenangan, menjadi ‘cermin’ untuk tindakan, cermin yang mengarah kepada kebaikan. Sebab setiap kita di-takdir-kan mengarahkan pada kebaikan. Dan wujud dari kebaikan adalah tentang moral; moral yang seperti apa? Tentu moral yang bersandar pada nilai-nilai universal; dan kenanglah, tawaran Kanjeng Nabi itu adalah tentang universal: di mulai memikirkan yang universal dan bersifat sangat individual.

Jangan sempitkan menilai dari ‘sudut’ system keagamaan. Sekarang pun, system keagamaan islam menjelma sesuatu yang sukar, dan sangat jeli, sangat ribet, seakan-akan memasukinya adalah sesuatu yang angker dan harus ‘kompleks’ pengetahuan; andaikata engkau berpikir tentang ‘keuniversalan’ tentu engkau akan berpikir tentang aklak keindividual. Sebab, memikirkan akhlak keindividual teramat sukar, maka harus ada ‘subjek’ yang ditiru: di situlah rasullullah di lahirkan (ingat, rasul allah itu adalah ‘wujud’ dari pemikiran yang universal dari Allah; dan allah adalah zat yang menguasai tentang hal keberadaan)

Bersamaan dengan itu, maka engkau laksana ditekan untuk membayangkan wajah-wajah yang telah tersistem sedemikian tahun itu, telah berderet-deret waktu tersebut; kenanglah, taufik, seluruh manusia muslim itu, menyandarkan kepada terkaan wajah-wajah, dan ini pun masih awal, masih tingkat tentang ‘perwujudan’ belum kepada tingkat tentang sesuatu yang tidak harus dilukiskan tentang wajah, melainkan sekedar diterima tentang sebuah nama.

Jika wajah-wajah itu melekat dalam dirimu, maka wajar.

Jika wajah-wajah itu menggoda dirimu dan payah berkonsentrasi, wajar.

Kataku, tetaplah kembali kepada realitasmu. Tetaplah menyandarkan kepada realitasmu. Bukankah engkau mempunyai realitas, dan setiap realitas ada wajah-wajah yang nyata? begitulah wajah, adalah tentang kesementaraan yang menjadi kenangan, karena tertangkap oleh memori yang disediakan untuk menangkap sesuatu data. Terimalah. Terimalah.

2017

Belum ada Komentar untuk "Nasihat Tentang Wajah Dalam Pikiranmu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel