WEJANGAN Kau Boleh Mencintai Mahluk, Tapi Ingatlah Siapa Yang Menguasai Mahluk!






Cinta kepada mahluk itu boleh, fik, tidak dilarang, tidak dicegah, itu manusiawi, fik, namun kau harus ingat fik, siapa yang memiliki mahluk? Siapa yang menguasai mahluk? Ingatlah, mahluk itu adalah sebagian ‘kecil’ atau ‘sedikit’ dari mahluk yang ada, jumlah mahluk atau manusia, itu banyak, fik, banyak sekali. Janganlah gusar terhadap cinta kepada mahluk, gusarlah kalau cintamu luntur kepada yang mengenggam jiwanya mahluk: bukankah kau percaya kepada-Nya? Ataukah mulai pudar kecintaanmu kepada-Nya? Ataukah engkau semakin hilang arah untuk mencintai-Nya?

Ambil hikmah dari apa yang kau pelajari karena mencintai mahluk, fik, yakni, engkau menjadi semangat akan kemanusiaan, berarti kamu mulai siap menjadi menjadi orang, fik: ingat nasihat abahku, menjadi orang itu, kelak, kalau usia telah mapan, barulah dikatakan menjadi orang, kalau masih sekarang, masih belajar untuk menjadi ‘orang’. Dan kukatakan padamu, tentang kehidupan ‘keorangan’—dan saya menyampaikan ini, karena sekarang saya telah menjadi orang, fik.

Menjadi orang itu, harus:

Memahami bahwa individu itu membutuhkan yang lain

Individu itu bertalian dengan individu yang lain

Hidup pada dasarnya adalah tentang individu, tapi juga sosialis, Fik.

Hidup itu membutuhkan makanan, oleh karenaya setiap orang harus bekerja

Hidup itu membutuhkan agama, oleh karenanya harus ibadah.

Hidup itu membutuhkan peringatan, oleh karenanya penting mengingatkan.

Hidup itu membutuhkan pelajaran, oleh karenanya penting mengajar.

Hidup itu membutuhkan jalinan, oleh karenanya penting seserawungan.

Hidup itu harus dijalani, oleh karenanya janganlah pantang semangat.

Hidup itu ada alasannya, oleh karenanya bertujuanlah.

hidup itu sarat masalah, oleh karenanya jawablah.

Hidup itu sarat eksistensi, oleh karenanya bereksislah.

Kalau engkau sudah siap dengan itu semua, jadilah manusia, fik, yakinilah bahwa engkau adalah manusia, dan engkau memahami seluk-beluk karakter manusia: begitulah karakter manusia, fik:

Ada yang sabaran, ada yang tidak. Ada marah, ada damai; kadang santai, kadang lambat. Ada menggebu ada biasa, ada yang berapi-api, ada yang berdingin-dingin. Begitulah kehidupan, fik. Dan itu semua, engkau harus cinta, fik, karena itu semua adalah kuasa-Nya, Allah: begitulah kalau orang-orang mengetahui tentang-Nya, dan engkau harus meyakini itu, karena engkau berpengetahuan tentang keallahan.

Apa tanda engkau mengetahui tentang kellahan?

Jawabnya, engkau belajar tentang agama islam. engkau belajar tentang rukun iman. Engkau belajar tentang sifat-sifatnya Allah. walau-pun sedikit, engkau telah mengetahui, Fik. Bukankah walaupun sedikit, tetap saja, engkau mengetahui; tidak ada alasan kamu tidak mengetahui, sungguh, kamu telah mengetahui.

Dan untuk menguatkan pengetahuanmu, maka engkau penting belajar sekali lagi, lebih lama, tentang Allah, fik. Kalau tidak, maka yang penting kamu lakukan, adalah membuka kembali apa-apa yang telah kamu lalui bersamaan dengan ilmu tentang keallahan—sungguh, telah banyak ‘pengetahuan’mu tentang keallahan, tapi kamu lalai menerapkan dalam pemikiranmu, kamu lalai, menjerit pengetahuan itu dengan ‘rasiomu’—sekarang, jiretlah.

Lihatlah tentang manusia-manusia itu, fik: mereka semua adalah milik-Nya. Mereka semua ada dalam kuasa-Nya. Cintailah mereka, Fik. Jika cintamu terhenti kepada salah-satu diantara mereka: perhatikanlah baik-baik nasihatku ini, Fik:

Jalinanmu adalah kebutuhan, tapi hati-hati disanalah sarangnya nafsu kemanusiaan

Jalinanmu adalah kedamaian, tapi hati-hati disanalah gudangnya kelalaian

Jalinanmu adalah kebahagian, tapi hat-hati disanalah gudangnya bala-kenestapaan

Kau boleh mencintainya, tapi kau tidak harus lalai bahwa ada Allah yang memiliki dirinya. Kau bisa menutupi ‘cara pikirmu’ dan menyembunyikan bahwa kau tidak memikirkannya, tapi ingatlah Allah itu maha mengetahui, allah itu maha mengerti, seluruh yang tersembunyi, fik.

Lintasan pemikiranmu itu diawasi, fik.

Gerak-gerikmu itu diawasi, fik.

Dan kau boleh mencintai mahluk, dan itu tidak dilarang, atau bahkan di haramkan, tapi tetap ingatlah, siapa yang menguasai mahluk yang kau cinta itu? Ingatlah siapa yang menguasai seluruh mahluk? Kalau pelajarannya, sebenarnya, ini adalah pelajaran kelas anak-anak: tentang sifat-sifatnya Allah, yang Maha Menguasai, terakhir, cintailah apa-pun itu sesukamu, Fik, tapi ingatlah, tujuan kita berada adalah untuk kembali kepada-Nya.

Begitu ya…

Belum ada Komentar untuk "WEJANGAN Kau Boleh Mencintai Mahluk, Tapi Ingatlah Siapa Yang Menguasai Mahluk!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel