NGAJI MABADI FIKIH: Ingatlah, Tugas dari ‘Pelaku ‘Wudu’





Apa yang wajib dilakukan pewudhu ketika hendak menunaikan shalat?

Wajibnya mensucikan pakaian, tempat, dari najis serta dan menutupi aurat dan menghadap kiblat dan mengetahui masuknya waktu shalat.


Saya menerangkan, yang sebenarnya juga, mengingatkan—lagi-lagi, saya mengunakan diksi mengingatkan, karena memang, apa yang kita pelajari ini tentang ‘pengingatan’ pengetahuan yang telah kita dapati, yang telah kita ketahui, yang umum telah kita ingati. Artinya, hal ini memang sangat ‘umum’ buat kita, karena sangking umumnya, sehingga kita acapkali ‘lalai’ dalam hal ini; faktanya, kadang kita mengabaikan tentang sucinya pakaian—karena memang telah tergambar atau teridentifikasi dengan jelas, apa-apa itu tentang sucinya pakaian.

‘Lalai’ bukan berarti kita lupa.

‘Lalai’ bukan berarti kita mengabaikan.

‘Lalai’ bukan berarti kita menyepelakan.

Tapi, keadaanlah yang menjadikan diri kita ‘lalai’ akan hal yang telah diketahui, hal-hal yang sangat menjadi umum. Karena memang juga, karakteristik hokum-islam, senantiasa seperti itu, dan kita telah mengetahui dan bahkan hapal tentang hal tersebut.

Dari itu, inilah pentingnya, mengaji, yakni mengingat ulang ‘pengetahuan’ yang telah kita ketahui; dengan mengaji ini, maka kita teringatkan kembali akan pentingnya, pakaian, tempat dari najis serta menutupi aurat, menghadap kiblat dan mengetahui masuknya waktu shalat.

Itu semua, sebenarnya, di zaman yang semakin maju, zaman internetan, zaman technology, zaman islam telah ‘menang’, islam telah kokoh dalam pengetahuannya; maka menjadi sesuatu yang sangat akrab. Seakan-akan:

Tentang najis, telah jelas.

Tentang pakain, telah jelas.

Tentang kiblat, telah jelas.

Tentang waktu shalat, telah jelas.

Apaloh sekarang yang payah terhadap keislaman?

Jawabnya, bagiaman individu ‘menjalankan’ pengetahuan keislaman. Itulah asal-usul permasalah utama kita, pada hari ini:

Kita telah mengetahui, namun kita mengabaikan tentang pengetahuan kita.

Kita mengetahui, tapi kita melalaikan apa yang kita ketahui.

Kita mengerti, tapi kita tidak menjalankan apa yang kita mengertikan itu.

Oleh karenanya, telah saya sampaikan sebelumnya, kita penting sekali lagi mengingat tentang asal-usul syahadatain kita, asal-usul keislaman kita, akhirnya yang terpenting adalah tentang keimanan kita kepada-Nya, sehingga dikemudian hari, kita bisa benar-benar menjaga tentang proses-peribadahan, seperti bab wudhu ini.

Pertanyaan kan simpel: apa yang diwajib dilakuakan seorang pewudhu ketika hendak melaksanakan shalat?

Syarat-syarat itu telah kita ketahui.

Jawaban-jawaban itu telah kita ketahui.

Alasannya, karena kita berada dalam lingkungan keislaman, lingkungan mempengaruhi kuat tentang perjaluan ‘keislaman’ kita. Kita mendidik kita anak-anak, kita melihat anak-anak praktik ibadah, kita melihat orang masih praktek ibadah. itulah yang menjadikan diri kita semakin akrab dengan ‘keilmuan islam.

Karena sangking akrabnya dengan ‘pengetahuan islam’, dan melihat ‘penampakan’ wujud atau praktek dari ‘pengetahuan islam’ acapkali kita ‘lalai’ terhadap fungsi dari keislaman kita sendiri. Dan zaman, mengajak kita ‘sibuk’ dengan seluruh pengetahuan: kadangkala di saat sama kita disibukkan oleh praktek-praktek perbedaan agama (yakni, tentang ilmu fikih), selain itu, kita belum mantap benar terhadap keislaman kita. Memang,semuanya harus selaras, namun, saran saya, yang penting diutamakan adalah tentang keimanan; bersamaan dengan keimanan, maka juga harus keislaman. Maksudnya, ingat rukun iman, ingat juga rukun islam.

Begini-begini:

Kita penting sekali lagi mengingat tentang keislaman kita, mengingat mengapa kita terpentingkan terhadap agama, menangkap ‘damai’ yang ditawarkan agama, dengan cara ‘mengolah’ kembali tentang ‘pengetahuan’ agama. Dan senantiasa ‘menjaga’ apa-apa yang kita ketahui tersebut dengan cara ‘dipraktekkan’. Jika dulu, wudhu sekedar wudhu, maka sekarang wudhu harus mengerti mengapa berwudhu? Alasan pokoknya, karena kita penting melaksanakan itu dengan berupaya mendapatkan ‘damai’ dari yang Allah tawarkan.

Wudhu adalah bagian dari efek-efek keimanan; efek-efek dari keislaman. Cabang atau bahkan ranting untuk mencapai tujuan dari keagamaan; yakni mendapatkan ‘damai’ dan ‘bahagia’—sebagaimana telah saya paparkan pada bab sebelumnya, bahwa agama adalah untuk menunjukkan dan membahagiakan manusia—

Akhir kata, saya di sini mengingatkan, mari kita sekali lagi, lebih memahami tentang keimanan dan keislaman kita dengan pengetahuan yang telah ‘meresap’ dalam diri kita, guna mencapai kebahagiaan.

Mudah-mudahan kita ditambahkan ilmu oleh-Nya, dan menjadi golongan yang mendapatkan bahagia dari agama, khususnya islam. Amin.

2017


Belum ada Komentar untuk "NGAJI MABADI FIKIH: Ingatlah, Tugas dari ‘Pelaku ‘Wudu’ "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel