NASIHAT: Ingatlah Kanjeng Nabi, Sekali Lagi Lebih Dalam




Kau telah dibekali dengan kesibukan dengan al-quran, mengapa engkau tidak memperhatikan ‘seseorang’ yang menerimanya itu, dialah Kanjeng Nabi, Fik, orang yang memiliki akhlak yang mulia, orang yang penting menjadi panutan. Manusia yang menjadi cermin untuk menjalani hidup.

Tidakah engkau mengetahui tentang beliau? Hidupnya sarat realitas

Tidakkah engkau mengetahui tentang beliau? Kau telah mengaji hadist.

Tidakkah engkau mengetahui tentang beliu? Kau telah mengaji al-quran.

Ingatlah Kanjeng Nabi, Fik, sekali lagi lebih dalam—jika agama islam itu memberatkan dirimu: hapuslah ‘diksi’ tersebut dalam ‘memori’ ingatanmu, dan berjalanlah seperti apa yang kanjeng Nabi jalankan:

Janganlah berdusta—berjujurlah

Janganlah khiatan—amanatlah

Janganlah menyembunyikan—sampaikanlah

Janganlah bodoh—cerdaslah.

Telah engkau ketahui bahwasanya fungsi agama islam adalah teruntuk jalan menuju kedamaian, bukankah yang kau inginkan adalah tentang kedamaian? Damai seperti apa? Yakni, damai dunia dan damai akhirat.

Kanjeng nabi itu tidak melalaikan keduniaan, fik, selain itu, kanjeng nabi tidak melalaikan akhirat. Namun, yang penting kau jalankan adalah janglah lalai terhadap duniamu, jangan lalai akan kebutuhan pokok keduniaanmu, sungguh, engkau terbentuk—karaktermu—bersamaan dengan lingkunganmu, yang mau tidak mau, engkau menyerupai lingkunganmu tersebut, hanya saja ada perbedaannya, yakni dirimu. Dan ingatlah, bahwa setiap individu itu berbeda dengan individu yang lainnya. Tidak sama plek. Serupa, tapi tidak sama.

Dan kendalikan pembicaraanmu, karena engkau si pengkaji al-quran dan hadist, tunaikanlah hal itu, jika bahasa arab membuatmu angker, mengapa harus disampaikan dengan bahasa arab? Sampaikanlah menurut bahasa yang mana lingkunganmu itu digunakan, agama islam itu hadir untuk seluruh umat, Fik. Tidak hanya terbatas di daerah arab, hanya saja, allah menakdirkan di daerah arab, karena memang allah telah menseting untuk itu, terimalah kenyataan itu; Indonesia itu berbeda dengan arab, fik, terimalah status itu. Indonesia itu bukanlah arab, fik, terimalah itu.

Dan kau bukan kanjeng nabi, ingatlah itu! kau juga bukan orang-orang yang ahli dalam keilmuan keagamaan: akuilah itu, fik. Dan kau juga belum paham terhadap islam, akuilah: mengakulah kepada dirimu sendiri, selanjutnya, janganlah malas-malasan untuk mengetahui itu.

Telah terang yang hak dan yang batil. Dan engkau tahu, mana yang harus dipilih!

Pendalaman itu, tidak harus ‘sesuai’ atau plek dengan data-data, taufik, engkau dulu, telah melihat data-data tentang kanjeng nabi, telah melihat tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Kanjeng Nabi, sekarang, realitaskan pembacaanmu dan hidupkanlah ‘kanjeng nabi’ dalam realitasmu.

Bukankah objeknya Kanjeng Nabi denganmu masih sama: yakni berada di bumi, yang sarat dengan jalinan manusia dan berkeluargaan?

Kalau kau berat dengan diksi ‘agama’, hapuslah diksi itu dan jalankanlah apa-apa yang berhubungan yang sudah sewajarnya manusia islam menjalankan: jangan lupa shalat, zakat, dan puasa, dan haji bila mampu, begitulah fik: kalau sekarang, masamu lagi payah dengan sesuatu itu, terimalah dengan sabar, Fik.

Sungguh, hidup itu tentang hal-hal yang sebenarnya sederhana begitu, fik, sabar dan syukur, menerima atas apa-apa yang telah ditentukan oleh-Nya.

Begini saja, ‘terapkan’ saja dalam pikiranmu bahwa kamu menjadi ‘Kanjeng Nabi’, dengan begitu, engkau termotivasi kencang untuk mengabarkan kepada dirimu tentang ilmunya Kanjeng Nabi; dengan begitu, engkau akan meninggalkan sesuatu yang itu di larang pada kanjeng nabi—dalam posisi apa: jangan dulu tentang kekuasan atau tentang pengetahuan yang lebih, melainkan: aktifitas harianmu laksana kanjeng nabi. Sebab, kanjeng nabi adalah cerminmu. Maka kuat-kuatlah bercermin tentang kanjeng nabi. Ketahuilah, orang-orang yang mengkaji islam juga begitu, Fik, mereka ‘mencerminkan’ dirinya kepada kanjeng nabi, dengan itu, maka engkaulah ingat: ulama adalah pewaris para nabi. Apa itu ulama, tentu dalam hal ini adalah orang yang mengetahui islam, Fik.

Dengan cara seperti itu, engkau akan semakin melejit kekurangan data-data tentang kanjeng nabi, tapi begini saja: aku yakin kamu tahu banyak tentang kanjeng nabi, hanya saja engkau tidak menjalankan ‘kebanyakan’ yang engkau tahu. Oleh karenanya, jalankanlah pengetahuanmu. Jalankan sambil direnungkan.

Selanjutnya, kalau realitasmu buruk, bersabarlah. Kalau realitasmu buruk, tetaplah engkau mensyukuri apa yang terjadi padamu, itu memang perjalanan waktumu. Begitu ya…

Belum ada Komentar untuk " NASIHAT: Ingatlah Kanjeng Nabi, Sekali Lagi Lebih Dalam "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel