Nasihat Zaman Informasi Mengajak Manusia manjadi ‘Manusia-Sempurna’ Yang itu Melompat-Lompat Pemikirannya





Sudah tidak bisa dihelak, bahwa zaman informasi mengajak manusia menjadi ‘manusia sempurna’ karena informasinya bertabur-tabur—informasi itu menawarkan, tawaran yang menggiurkan dan karakter dasar manusia, yang berkeinginan tertarik dengan tawaran tersebut; sebab yang menawarkan itu ‘memahami’ benar siapa yang ditawarkan itu, Fik—yang dengan itu, maka terjadilah lompatan pemikiran.

Apakah itu baik? Tentu tidak baik. Saat manusia melompat-lompat pemikirannya, maka tentu itu tidak sistematis, sementara dunia ‘mengharapkan’ apa-apa itu harus tersistem. Telah engkau rasakan, bahwa tatkala engkau tidak mengakui system, maka engkau kalah terhadap system. Oleh karenanya, engkau harus patuh terhadap system, sekalipun pengetahuan dalam dirimu—itu berdesak-desak pengetahuan—yang jelas engkau patuh terhadap system.

System, atau aturan yang ditetapkan manusia, itulah ukuranmu hidup.

System, atau aturn yang ditetapkan manusia, begitulah ukuranmu hidup.

Kau harus paham tentang hal itu, sekali pun dirimu diserbu dengan pengetahuan-umum yang itu sarat dengan informasi, yang penting engkau tetapkan adalah abaikan informasi tersebut. mengabaikan bukan berarti ‘melepaskan’ karena memang tidak bisa dilepaskan.

Begini, janganlah engkau tonton yang itu bukan pada tahap kesistemanmu.

Janganlah engkau belajar yang itu bukan pada tahap pembelajaranmu.

Janganlah engkau baca yang itu bukan pada ‘konsentrasimu’.

Janganlah engkau dengar yang itu bukan pada ‘penguatan’ apa yang engkau cari.

**

Hidup di zaman informasi, engkau harus cerdas terhadap ‘individu’, Fik. Selamatkanlah keindividuanmu, lejitkanlah yang itu adalah tugas ‘keindividuanmu’. Nikmatilah yang itu adalah tentang keindividuanmu. Jangan mudah terpancing atau terjerumus dalam lobang-lobang yang itu bukanlah hakmu.

Di zaman informasi orang-orang ‘teruntut’ keserakahan, dan engkau harus tetap ‘serakah’ terhadap apa yang engkau cari; sungguh keselamatan ada pada dirimu, Fik. Apakah dengan begitu, engkau tidak membutuhkan orang lain? Tetap saja, engkau akan membutuhkan orang lain, yakni orang lain yang ‘sepaham’ denganmu, orang lain yang selaras denganmu.

Ketahuilah, orang-orang yang seperti dirimu, yang ditekan dengan manusia yang tidak bertujuan, dan mendapatkan informasi secara gradual, itu banyak. Banyak sekali, hanya saja, engkau belum menemukan, hanya saja engkau ‘belum’ benar-benar memahami hal tersebut. namun, tetaplah engkau konsentrasi dengan apa yang menjadi tujuan utamamu:

Jangan serakah dengan pengetahuan yang bertebarang, carilah yang ‘penting’ engkau cari.

Namun, zaman sekarang memaksa untuk itu, Fik, oleh karenanya, cerdaskanlah dirimu, pandaikanlah dirimu, pandaikanlah dirimu dalam islam, sibuklah dengan ilmu islam, sungguh ilmu islam itu kokoh.

Sekarang, lebih giatlah terhadap hal-hal yang dasar, setelah itu, naiklah pada tingkatan yang lebih tinggi, terus menaikilah tingkata yang lebih tinggi, dan jangan lupa amalkan ilmumu, jangan di anggurkan, janganlah bermalas-malasan. Sungguh kalau kau ‘malas’ dengan dirimu; yang terjadi adalah ketiadaan, padahal ‘otakmu’ mampu untuk bergiat lebih kencang. Ini zamannya percepatan, kalau kau lelet, tentu akan ketinggilan. Kalau kau menggunakan metode yang lama, maka engkau akan ketinggalan; yang pasti, tatkala engkau mempraktekkan ilmumu sudah pasti itu hal yang kalah-cepat dengan dunia ide.

Pertahankanlah ‘praktek’ ibadahmu, carilah dasar-dasar engkau beribadah, sungguh, engkau orang yang berpengetahuan dan mendapatkan informasi secara acak. Tugasmu, penting menyusun keacakan itu menjadi sesuatu yang tersistem; jangan remehkan menyusun sesautu yang sederhana: penyusunan itu berguna buat dirimu, maksudnya, kencangkan tentang kefikihanmu, peganglah kuat-kuat madhab imam syafi’I, kalau engkau telah melejit dan engkau inginkan pengetahuan fikih yang lain, maka jika sudah masanya, maka kajilah yang lain itu, jika tidak mampu, tetaplah konsentrasikan kepada aliran-kefikihanmu.

Tuliskan, dasar-dasar ibadahmu.

Tuliskan, dasar-dasar pengetahuanmu.

Tuliskan, kegelisahanmu, bagikan kepadaku.

Kemarilah, biar kuberitahu dengan kencang dan deras, apa yang sesungguhnya menjadi soal besar darimu: kukatakan sekali lagi, soalnya adalah dirimu, Fik. Dirimu, itulah soalnya. Oleh karenanya, lejitkanlah keilmuanmu, jangan lupakan realitasmu, jangan abaikan praktek ibadah, dan jadilah manusia selayaknya manusia, dan tetaplah engkau tiru, Kanjeng Nabi, sebagai cermin utamamu.

Zaman informasi, boleh saja ‘taburan’ pengetahuan dimana-mana, dengan itu, manfaatkanlah pengetahuan yang banyak itu, jangan kau takuti, tapi ambillah hikmahnya. Tidakkah engkau ingat, perkataan Kanjeng Nabi tentang keilmuan yang bisa diambil dari siapa pun. Pakailah, janganlah takut, dan belajarlah, sekali lagi, takut kepada-Nya, karena Allah itu ada, dan Allah itu tidak mati, Fik. Ingat, Allah itu tidak mati, Fik.

2017

Belum ada Komentar untuk " Nasihat Zaman Informasi Mengajak Manusia manjadi ‘Manusia-Sempurna’ Yang itu Melompat-Lompat Pemikirannya "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel