NGAJI MABADI FIKIH: IFTITAH: Kita penting sekali lagi Menghayati ‘Makna’ dari Pembukaan Shalat



Apa yang dibaca ketika sesudah takbiratul Ihram?

Bacalah doa pembuka (iftitah) dan inilah arti dari doanya: Allah Maha Besar, sungguh sangat besar Allah, dan seluruh pujian diserahkan kepada-Nya bersamaan dengan sebanyak-banyaknya, dan maha suci Allah diwaktu subuh dan waktu sore (seluruh hari; subuh sebagai permulaan waktu dan sore sampai penutupan hari) dan menghadapkan wajahku dan seluruh perwajahanku kepada dzat yang menciptakan langit serta bumi, dengan lurus (kepada-Mu) dan pasrah, dan saya bukanlah orang musyrik (yang keluar dari atas kepasrahanku kecuali kepada-Mu). Sungguh! Shalatku, ibadahku, hidupku, matiku karena Allah yang menguasai alam semesta, tidak menyekutukan-Mu dalam (shalatku, ibadahku, hidupku, matiku) yang diperintahkan kepadaku, dan saya adalah orang muslim (orang yang berpasrah kepada-Mu)



Pasrah bukan berarti malas-malasan,

Pasrah bukan berarti tidak berjuang.

Pasrah bukan berarti tidak melakukan apa-apa.



Sebenarnya, kalau kita memahami makna dari iftitah, bukankah itu teramat keren, apalagi di zaman sekarang, harusnya kita ngelotok terhadap pengetahuan-pengetahuan hal tersebut; mengetahui makna-makna yang tersirat dalam teks-teks shalat, kalaulah kita mengetahui ‘maknanya’ tentu saja; diri kita menjadi tenang. Lha kok bisa?

Apaloh yang diresahkan di dunia ini? harta! Itu telah takdir allah, kita telah berusaha mencari harta, tapi bagian kita memang sedikit.

Apaloh yang diresahkan di dunia ini? kehilangan sanak keluarga? Jawabnya, sanak keluarga adalah salah satu manusia yang dijadikan-Nya, toh masih banyak mahluk yang lain.

Semua ini sudah di gariskan kepada-Nya, harusnya kita santai menjalani hidup, kita tenang menjalani hidup.

Tapi namanya juga manusia, sedih, senang, takut, kehilangan, resah, gundah, itu adalah wajar. Oleh karenanya, kita harus ingat lagi, bahwasanya ada Allah yang menguasai semesta. Ada Allah yang menakdirkan semua.

Oke, kembali ke kitab.

Doa iftitah, kalau kita mengetahui ‘maknanya’ maka kita persis orang bicara kan. Cobalah diresapi ulang. Gak usah terburu membacanya. Cobalah diresapi tiapan kata yang ditawarkan. Pasti mendapatkan sesautu yang lain—dan tentu hal tersebut, didukung oleh pengertian tentang bahasa.

Bahasa shalat memang harus menggunakan bahasa arab. Kenapa? Saya menilai, karena bahasa arab memang indah dan bagus. Oleh karenanya, kita penting untuk memahami bahasa arab, khususnya sholat, terlebih lagi al-quran, sebab al-quran adalah buku petunjuk alias kitab petunjuk buat orang muslim.

Yang dengan al-quran, maka orang muslim akan gembira, kenapa? Karena ukuran muslim itu bukan tentang harta, jabatan, dan ketampanan, tapi ketakwaan; dan takwa itu letaknya di dalam diri manusia. Sementara harta, jabatan, serta ketampanan atau perwajahan, adalah bentuk-bentuk, sementara takwa tersimpan di dalam bentuk, yakni sesuatu yang berada di dalam dirinya.

Kembali ke kitab.

Zaman sekarang, untuk memahami ‘arti’ dari doa iftitah itu sangat mudah; yang jadi pertanyaan, maukah kita mencari untuk dipahami tentang doa ifittitah? Lha belajar saja males, bagiamana mendapatkan ‘esensi’ dari ibadah? syarat untuk mendapatkan kedamaian dari ‘shalat’ yakni memahami diksi-diksi yang disholati. Dan ini, masih dalam proses ‘tataran fikih’ atau hal-hal penampakan. Setelah orang-orang memahami teks, maka orang tersebut, laksana berbicara menurut bahasa-ibunya, sekalipun arab bukan bahasa ibu-kita, kalau kita semakin memahami bahasa arab (bahasa shalat) maka, bahasa arab mempu ‘menjelma’ bahasa ibu, artinya, tidak perlu diterjemahkan lagi, tidak perlu embel-embel tentang rujukan kamus-kamus dan hafalan makna, tapi telah menjelma makna. Artinya kita paham.

Ringkasnya, kalau kita paham makna ifitatah, lalu kita mengonsentrasikan atau menghubungkannya dengan akal dan hati kita, hingga kemudian, lamat-lamat kita shalat benar-benar meresapi bahwa shalat adalah doa yang beruntai indah. Begitu.

Rabbi zidni ilma, warzuqni fahma. Rabbana latuzihg qulubana ba’da idhadaitana wahablana minladunka rahmah innaka antal wahabb. Amin.

Belum ada Komentar untuk " NGAJI MABADI FIKIH: IFTITAH: Kita penting sekali lagi Menghayati ‘Makna’ dari Pembukaan Shalat "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel