NASIHAT Islam ‘Jaringan’ Internet






Engkau telah membaca postmodern, telah membaca tentang bagaimana perlajuan dunia-internet, efek-efek dari biasa internet, dan engkau juga ‘melihat’ efek-efek si muslim menggunakan internet: mulai dari jejaring sosial, dan bahkan tuntutan untuk ‘menguasai’ keilmuan internet, atau alat-alat teknologi—begitulah zaman sekarang, Taufik.

Manusia sekarang dituntut untuk pandai alat technology, computer; bersamana dengan itu, maka melejitlah komunikasi demi komunikasi, yang itu ditandai dengan internet, yang selanjutnya, zaman sekarang ditawari dengan adanya alat-komunikasi (media komunikasi) dan orang tidak bisa menghindari untuk menggunakan itu, gunanya tentu banyak, dampaknya juga tentu banyak. Dan manusia-muslim pun menggunakannya, manusia muslim memakainya, karena muslim itu adalah sesautu yang menyelimuti diri yang bernama manusia.

Memang begitulah kehidupan Taufik, selalu perpasang-pasangan—ingatlah tentang ayat-ayat-Nya, ingatlah tentang tanda-tanda-Nya; semua itu memang begitu, berpasang-pasangan. Dan telah dijodoh-jodohkan, dan itu pun adalah karena kehendak Allah, Taufik.

Kita tidak bisa menyangkal atau menahan bahwa orang-orang ‘muslim’ dilarang menggunakan internet: lha wong zaman sekarang serba kuota, bagaimana tidak menggunakan internet? Maka kuoto yang digunakan itu menanggur! Anggaplah kalau engkau memang tidak menggunakannya, tapi bagaimana dengan anak-anakmu: apakah engkau mampu mencegah anak-anakmu untuk lepas dari internet? Apakah engkau mampu menahan anak-anakmu untuk ‘tidak’ mengabaikan internet? Jikalah anakmu akan sibuk dengan dunia-ilmu, tentu saja, dia pasti akan menggunakan internet, dia pasti akan menggunakan apa-apa yang ditawarkan dunia. Apa-apa yang menjadi ‘trend’ dunia; sebabnya apa?

Keberadaan informasi.

Bersama dengan adanya informasi, maka tubuh si muslim pun membuat jaringan kemuslimannya, membuat komunitas demi komunitas kemuslimannya; sekali pun dia sibuk dengan ‘sesuatu’ yang dicarinya, tetap saja, mereka berkumpul dalam atap kemuslimannya.

Percayalah, bersamaan dengan kemajuan zaman, bukankah orang-orang yang menyandarkan kepada islam masih banyak, malah semakin banyak; soal beda-beda, itu wajar.

Soal perbedaan pendapat itu, wajar.

Yang pasti dia masih islam, itu sudah cukup, Fik. Janganlah dimuluk-mulukkan engkau menjadi penguasa di dunia—itu adalah mustahil. Engkau adalah sekedar mata yang mengamati mereka, ingat, dunia itu luas, dan jumlah manusia itu banyak, Fik. Banyak!

Oleh karena itu, sibukkan dirimu dalam keislaman, sekali pun pada jaringan internet: gunakanlah jaringan internet untuk ‘mengasah’ ilmumu. Anggap saja, sebagai ajang untuk belajarmu, begitu saja: belajar yang dipublikasikan, belajar yang dikabarkan, belajar yang informasikan. Latihlah tentang perlajuan keimananmu, kokohkan keimananmu:

Aku pikir kau mulai ‘goyah’ keimanan karena tawaran ‘zaman internetan’ dan mengetahui efek-efeknya; ingatlah, Fik, kalau kau percaya bahwa Allah Meliputi setiap mahluk-Nya, maka dimana-mana ada Allah, dan semua itu atas kendali-Nya. Yang pasti, tetap sibukkan dirimu untuk belajar lebih dalam tentang ilmu keislaman; jangan lupakan tentang syariat islam—syariat yang mana; jalankan kitab-kitab fikih dasar, pertahankan perjalanan kitab-kitab fikih dasar: saat waktunya shalat, maka shalat. Saat waktunya puasa, puasa. Saat waktunya mencari pengetahuan, cari pengetahuan. Jika mengomunitas pada internet, berkomunitaslah, yang pasti, jangan lupa tujuanmu hidup itu apa: yakni kembali kepada-Nya, yang kelak engkau mempertanggung jawabkan apa-apa yang engkau lakukan di akhirat.

Terakhir, tancapkan sekali lagi tentang keimananmu; yakni, tanamkan sekali lagi, lebih dalam, bahwa kamu percaya kepada Allah, dia yang mengusai seluruh langit dan seluruh bumi titik.

2017

Belum ada Komentar untuk " NASIHAT Islam ‘Jaringan’ Internet "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel