Dialog Malam



“Kau ingin kaya-raya dan membagikan harta demi harta. Tujuannya mereka mendengarkan pembicaraanmu. Benar ‘kan?”

Robit terdiam. Membatin, masak begitu!

“Kau ingin memberi mereka peluang kerja, dan kelak setiap kau berkata mereka menuruti perkataanmu. Benar ‘kan?”

Robit masih terheran. Sedih. Tidak mempercayai.

“Kau ingin membahagiakan mereka, bahagia tidak sekedar materi tapi juga hati. Benar ‘kan?”

Cukup...! Cukup...!

“Kau inginkan setiap orang berpemikiran satu, yakni hatinya condong kepada akhirat tapi secara materi tercukupi. Benar ‘kan?”

Stop...! Stop...!

“Kau inginkan kalau orang-orang teguh pendirian dengan islam, kelak berperang bersama dan kau menjadi ahli strateginya. Benar ‘kan? Atau kan yang menjadi pemimpinnya. Benar ‘kan?”

“Kau ingin terkenal! Popularitas! Benar ‘kan?”

Robit hanya terdiam. Seakan-akan serba salah. Ingin disangga, kayaknya itulah yang meningkring dalam hatinya.—

**

Hanya malam, sunyi, sendiri, menjadi keramaian buat Robit di kamarnya.

“Aku awasi kau masih memburu keingininanmu!”

Lagi-lagi, kau, aku sungguh geram kepadamu. Kenapa kau begitu perduli kepadaku. Dan datang begitu mengusik kepadaku. Aku ingin tidur. Lelah.

“Aku awasi kau masih mengingkan unsur kebaikan buat orang lain!”

Pergilah, aku ingin tidur. Hilang.

“Kau masih menyukaiku, tidak rela kalau aku meninggalkanmu. Ada apa denganmu?”

Robit mengabaikan dirinya, ia malah teringat kisah demi kisah yang merembet kepaada dirinya, tentang kemanusiaan dan bagaimana unsur kemanusiaan. Tentang nasib diirnya, yang lamat-lamat tidak jelas arahnya.

Aku benar-benar laksana tak punyai arah di antara hidup ini, atau jangan-jangan aku merasa malas-malasan terhadap hidup ini, sebenarnya, mengapa hal ini terjadi padaku? Apakah orang lain juga merasakan apa yan kurasa? Inikah yang disebut dengan galau akan cinta? Akukah galau akan cinta? Cinta kepada siapakah diriku? Oh akukah cinta kepada hidup. Hai hidup, akukah cinta kepadamu?

“Kau memang begitu cinta kepadaku. Faktanya berulang-ulang kau memanggilku! Kau benar-benar laksana mati. Laksana mati.”

Robit tentu terkejut bukan main: lantaran dikatakan mati. Dibalaslah seketika, mengapa kau nyatakan bahwa aku laksana mati, bukankah aku adalah hidup? Masih bernapas dan menjalani sebagaimana orang-orang menjalani? Makan dan minum. Bersedih dan tertawa. Bertemu dan berpisah. Bukankah seperti itu hidup? Bukankah hidup selalu seperti itu.

“Kau memang hidup, tapi kau telah mati. Dirimu mati. Faktanya, kau sering bertanya tentang apa itu hidup? Yah.. mengapa kau bertanya tentang itu kalau sekarang kau hidup?”

Aku... a...a...kku... balasnya terbata-bata. Sulit mengungkapkan apa yang hendak dikatakan.

Aku tidak mengerti mengapa aku selalu ingin bertanya tentang hal itu. rasanya selalu mengganjal dalam otakku, mengganjal dalam diriku, istilah itu, seakan-akan ingin dilontarkan dan terus menerus dikabarkan, sekali pun telah kurumuskan berulang-ulang, telah kujawab berulang-ulang, masih juga ndongol juga. Aku pun heran, siapakah yang menaruk istilah itu padaku dan njerat seakan-akan ndongol terus. Siapa?

“Kau bertanya siapa? Seakan-akan ingin menyalahkan yang lain!”

Tapi aku, balasnya sedikit canggung ingin meneruskan. Karena yang bakal digelontarkan adalah sesuatu yang sekiranya sangat sakral tapi tetap saja diteruskan. Demi kebenarannya. Demi memperoleh kebenaran. Demi mendapatkan pertolongan. Hasilnya ia menjawab seraya agak malu, mendudukan kepala dan menjawab lirih, lirih sekali:

Aku sangat percaya bahwa Allah adalah yang menciptakan segalanya, Allahlah yang mengatur jalannya cerita, termasuk cerita yang mengikat dalam diriku untuk saat ini, tentang istiliah ini, hidup, kurasa ini adalah kehendak-Nya (Hampir terpeleset ia menggunakan bahasa ulah).

“Jadi kau menyalahkan Allah?” balasnya cepat seraya geleng-geleng, “Bukankah kau pun menyadari bahwa Allah telah melepaskan manusia setelah manusia di bumi?”

Aduh, istilah itu lagi. Pembahasan itu lagi. Mengapa harus kau kontraskan pembahasan itu. Aku berusaha menyerah, malah kau tawarkan manusia itu berindak atas pergerakannya sendiri, Allah tidak ikut campur.

“Bukankah kau percaya tentang hal itu?”

Hanya malam, sunyi, kesendirian, mampulah terjadi hal-hal seperti itu, meramaikan sendiri, menarungkan khayalan dengan realitas, seakan-akan sarat akan nilai-nilai imajenatif, bahkan perihal Tuhan, kehendak-Nya atau bahkan kekuasaan-Nya, diurai-uraikan.

“Apakah kau tahu, alasan engkau berpikiran demikian, Kawanku?”

Robit menggedek.

“Sesungguhnya karena kau banyak pemikiran dan itu diluar batas kenyataan. Ingatlah, kenyataan adalah sesuatu yang nyata di sekitar hidupmu dan apa yang kamu jalani, itulah nyata, tapi pemikiranmu lebih dari itu, pemikiranmu sibuk akan akhirat dan nilai surga, kau begitu ambisi ingin ke sana, padahal sekarang kau di sini, di dunia, mengapa kau tidak pikirkan tentang di sini, lebih nyata, mengapa? Itulah salahmu. Aku tidak mau tahu.”

Sesungguhnya itulah yang ingin kutanyakan, mengapa diriku mengabaikan di sini, dunia ini, padahal aku berada di sini, mengapa aku kerap mengabaikan ini, mengapa?

“Kau terlalu berambisi mendapati sesuatu yang tinggi. maka nikmatilah kejadian ini! nikmatilah proses ini! nikmatilah!”

Robit terdiam. Terbengong. Heran! Malu! Kurang yakin!

“Kau malu mengakui itu?! Malu!”

Robit dibuai takjub dan sedih.

“Kau tidak mau dituding bahwa kau inginkan jabatan yang tinggi dan disegani. Padahal itu kamu! Benar ‘kan?”

Robit menggarukkan kepala.

“Kau ingin kaya-raya dan membagikan harta demi harta. Tujuannya mereka mendengarkan pembicaraanmu. Benar ‘kan?”

Robit terdiam. Membatin, masak begitu!

“Kau ingin memberi mereka peluang kerja, dan kelak setiap kau berkata mereka menuruti perkataanmu. Benar ‘kan?”

Robit masih terheran. Sedih. Tidak mempercayai.

“Kau ingin membahagiakan mereka, bahagia tidak sekedar materi tapi juga hati. Benar ‘kan?”

Cukup...! Cukup...!

“Kau inginkan setiap orang berpemikiran satu, yakni hatinya condong kepada akhirat tapi secara materi tercukupi. Benar ‘kan?”

Stop...! Stop...!

“Kau inginkan kalau orang-orang teguh pendirian dengan islam, kelak berperang bersama dan kau menjadi ahli strateginya. Benar ‘kan? Atau kan yang menjadi pemimpinnya. Benar ‘kan?”

“Kau ingin terkenal! Popularitas! Benar ‘kan?”

Robit hanya terdiam. Seakan-akan serba salah. Ingin disangga, kayaknya itulah yang meningkring dalam hatinya. Ia hanya sekedar membatin, dengan perasaan luka, sangat luka, parah, mengatakan, “Mengapa itu terjadi padaku? Mengapa harus terjadi padaku? Mengapa aku tidak terrelakan menjadi orang biasa saja! mengapa karakterku tidak mudah menerima kenyataan! Mengapa harus mempunyai perasaan untuk menolak? Dan mengapa terluangkan waktu untuk memikirkan hal-hal itu? Mengapa situasi dan kondisi mendukung untuk memikirkan seperti itu? Sekarang, siapakah yang patut di salah ‘kan?

Apakah aku penting menyalahi diriku sendiri? Padahal sekarang telah koyak-moyak dirundung perasaan-perasaan yang campur baur dan amburadul. Masih tegakah diriku menyalahkan diriku sendiri? padahal waktu telah menghukumku. Aku dikembalikan di suatu masa yang semestinya aku mempunyai pekerjaan atau siap untuk menikah malah digandrungi perasaan ingin menjulangkan ilmu. Masihkah aku tega menyalahkan diriku sekali lagi? Setega itukah aku dengan perasaanku?

Bukankah bila setingnya, keluargaku tidak mampu, maka selepas lulus SMA aku akan merantau ke ibu kota, Jakarta dan sebagainya, melamar di perusahaan demi perusahaan dan bakal mendapat gajih setiap bulan dan kelak menembak perempuan, pacaran, dan mempunyai rencana untuk menikah? Dan bukannya kalau orang-tuaku dari dulu tidak-mampu maka aku tidak bakal meneruskan sekolah SMA dan akhirnya menjadi kuli di sekitar rumah? Menjadi kuli angkot-angkot Semen, Tanah, kerja di Sawah lalu kalau ada tawaran kerja bangungan, maka aku berangkat dan ikut di sana—menanggapi islam dengan sederhana, malah bahkan sholat jarang, mengaji atau membaca al-quran terlewatkan kecuali membaca Surat Yasin.

Aku bakal kerja, dari pagi sampai siang, lalu dilanjutkan ba’da dhuhur sampai asar. Lalu malamnya main Gaple, sesekali totoan sambil mabok. Dan esok pagi-pagi bangun lagi, dan kerja lagi, ngumpulin duit dan kelak pulang dengan gagah mempunyai uang sendiri. Dan tubuhku, tidak lembek seperti sekarang ini, tubuhku kekar karena setiap hari mengeluarkan keringat dan ongkot-ongkot. Malamnya aku tidak begitu pusing dan tidak begitu banyak pemikiran.

Tentu, aku tidak pusing-pusing mikirin tentang bagaimana membuat peluang usaha, tidak pusing memikirkan arahnya bagaimana. Aku sekedar mengikuti alur dan bekerja, intinya mendapatkan uang. Tidak begitu mikirin tentang agama.

Agama, ya selayaknya belaka, kalau lebaran, ikut puasa, kalau aku menjadi kuli bangunan, puasa Full satu bulan itu sudah hebat. Sangat hebat. Sebab, dunia kuli itu kasar, Boi. Perut itu harus senantiasa kenyang, kalau tidak kenyang bakal loyo. Beda dengan orang-orang ilmuan itu, Boi.

Aku, sekarang, dapatlah dikatakan ilmuwan, kuceritakan bagaimana porsi makanku, kadangkala sehari mampu makan sekali saja. Itulah dunianya ilmuwan, pusingnya itu bukan karena lapar, tapi otakknya yang serasa keriting. Jika para ilmuwan itu sombong, coba di suruh angkat-angkat batu, pasti sehari badannya pegel semua, alasannya sederhana, karena tidak terbiasa.

Jadi, kalau aku berpikiran seperti itu, seperti yang kau tuduh-tuduhkan, Kawan, itu salah siapa? Salahkan waktu yang menempatkanku? Salahkah sejarahku? Salahkah orang-tuaku karena dia mampu? Haruskah aku menyalahkan diriku, padahal diriku telah mengaku salah dan hatiku telah koyak-moyak dirundung kegelisahan akan makna hidup, cinta dan tentang semuanya? Haruskah aku menyalahkan diriku? Tega!

Hanya malam, sunyi, kesendirian; Robit tak mampu mengubah malamnya. Ia ingin menjadi manusia biasa, sederhana, tapi rupanya alur waktu, perjalanan, selalu tidak mengarah pada hal itu. Ia terlahir bukan untuk biasa, tapi di luar biasa. Malam pun menjadi dialog panjang, bersama dirinya, yang lain, tapi tetap sama: Robit juga.


***

Belum ada Komentar untuk "Dialog Malam "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel