Kamar



Kau tidak menyangka bahwa akan diliputi oleh buku-buku. Buku-buku yang tersusun adalah akibat dari pembacaanmu dan kebodohanmu, tentunya, kau membutuhkannya karena kau akui kekurangannmu. Yakni, memberantas ketidaktahuanmu.

Ya, itu terjadi ketika kau semakin menyukai buku, seakan-akan yang terjadi adalah keinginan untuk terus mendapati kelengkapan-kelengkapan rasa ingin tahu yang membludak di dalam pikiranmu.

Sebenarnya tidak begitu adanya. Bermula dari keinginanmu untuk menjadikan buku. Itulah niatanmu. Didorong untuk menulis. Wal-hasil, ketika menulis, malah kian bertambah pembacaanmu. Bahkan, orang-orang sekontrakan heran sendiri dengan kamarmu.

Yang setiap keluar adalah menyangking buku, lebih dari satu.

Sebenarnya, teman-teman sekontrakan adalah sama. Sama-sama menyangking buku—wal-hasil tetap berbeda dengan kepemilikan bukumu. Ketika salah seorang di antara mereka mengunjungi kamarmu, mereka takjub bukan main melihat mbelarahnya buku di kamarmu, kamar sepetak dan buku bertaburan sementara gayamu adalah tumpuk menumpuk.

Jauh lebih herannya, mereka jarang melihat pakaian. Karena memang, kepunyaan pakaian sedikit, yakni 4 setel pakaian berserta 4 celana dalam, ditambah 1 almamater. Selain itu, kau sisihkan ketempat-tempat bila mendapatkan pakaian—entah itu mendapatkan dari buku atau hadiah pakaian.

Sangking takjubnya mereka berkata, “Ini kamar atau gudang!” begitulah ucapan dari sebagaian mereka, atau mereka hanya akan geleng-geleng kepala ketika melongok ke dalam kamarmu.

Tatkala bulan berganti, buku-buku bertambah jangan mengurangi. Karena ruangan semakin ramai, maka kau buatkan rak buku melekat dinding mulai lantainya.

Dua lanjur ke atas sekaligus—penuh: sesekali kau susun buku. Wal-hasil, kau tambahkan lagi—kau susun lagi, sehingga, satu dinding berisi deretan buku-buku.

Bulan berganti, tulisanmu meledak, dan buku bertambah pasti. Kini telah menjadi, ruanganmu adalah bagai gudang buku, buku-buku sesuai dengan mata pelajaranmu.
Pikirimu, “Sekarang adalah saatnya aku memfokuskan diri terhadap ilmu yang kukaji, dulu adalah pengalaman bagaimana aku bersantai tatkala semestinya bekerja keras meraih ilmu. Namun, sekaranglah saatnya meraih ilmu dengan keseriusan.”

Wal-hasil seluruh ruangan penuh dengan buku. Tatkala temanmu datang menghampirimu, ia terkagum dan berkata, “Ini kamar atau perpustakaan!”

Kau tersenyum mendengarnya.

“Bahkan, dindingmu penuh dengan buku,” imbuhnya.

Ya, dindingmu kini telah penuh dengan buku—semua dinding penuh dengan buku, jarang sekali ventilasi masuk dalam kamar, sebab kau sisakan dua lubang yang panjangnya setengah lengan dan lubangnya adalah dua lebar telapak tanganmu. Itulah udara yang bisa masuk dalam kamarmu.

Dinding—penuh. Ditambah lagi, buku-buku yang menumpuk di lantai: menjadi pemandangan yang menambahkan serba buku.

Kata temanmu, “Apakah sudah dibaca semuanya?”

“Sebagian kubaca, sebagian lagi sedikit-sedikit,” jawabmu, santai, sambil membuatkan kopi untuknya.

“Mengapa tidak kamu selesaikan baca, lalu berganti membaca yang lain?”

Ia bertanya karena tidak mengetahui bagaimana denganmu, bagaimana dengan aturan mainmu. Jawabmu, “Makanya rajinlah belajar, pasti kamu mengetahui maksudku.”

“Maksudnya?”

“Begini,” kau berupaya menjelaskan tentang pembacaanmu, “Ada buku yang penting untuk dibaca secara tamat dan ada buku yang penting untuk dibaca dikala mencari tujuan.”

Ia masih kurang mengerti apa yang kau katakan barusan, itu terlihat dengan mimik wajahnya yang menyipitkan mata sambil mengernyitkan dahinya, maka kau katakan sambil menarik buku,

“Ini buku yang penting untuk dibaca dan harus selesai dibaca, dan ini,” sambil kau tarik buku yang tebal, “Adalah buku yang kadang-kadang kubaca. Artinya membaca buku ini kalau ada perlunya saja, sementara buku yang ini,” sambil kau angkat buku pertama, “ini adalah buku yang hampir selesai di baca.”

Tapi ia masih juga kurang mengerti. Wal-hasil kau katakan, “Ini untuk fokus belajar, dan ini di luar belajar.”

Kautambahi lagi, “Ini bisa dijadikan esai, atau resensi. Sementara yang ini, adalah buku referensi pembuatan bukuku—artinya, buku ini yang kerap kujadikan referensi, sehingga pembacaanku adalah selingan-selingan belaka. Atau setidaknya mempunyai buku untuk dikoleksi, yang bakal digunakan untuk referensi buku. Singkatnya, untuk persiapan membuat buku.”

Ia hanya terkagum saja mendengar perkataaanmu. Mungkin, kurang memahami, atau entah. Tapi masih lebih-baik daripada kedatangan teman dari kampung, yang kebeteulan bekerja di kota ini, datang dengan pakaian yang mentereng dan terkagum sangat ketika masuk dan melihat buku.

Katanya, “Waw, bukunya banyak sekali,” Wal-hasil, kuterangkan lagi tentang buku-bukumu, tapi perkataanmu lebih singkat yakni, “Itulah buku-buku belajar.”

Ia tersenyum heran sambil berkata, “Manusia buku!”

Kau tersenyum mendengarnya.

Ia menambahi, “Buku benar-benar menjadi pemandangan harianmu, sampai-sampai kasur yang kecil pun terisi buku, Busyet!” katanya sambil menggaruk kepalanya, dan menambahi lagi, “Bahkan tumpukan lantai telah meninggi. Buyet!”

“Kamu tahu,” katamu, “Semakin membaca buku, aku semakin mengakui tentang kekuranganku. Sekarang, bagaimana denganmu?”

“Aku!” jawabnya kaget.

“Iya, kamu!”

Ia hanya terbengong, dan kemudian menyeruput kopi yang telah mengepul asapnya, dan mengatakan, “Bukannya kehidupan adalah secara praktek? Maksudnya, praktek dari ilmu yang didapatnya.”

Kau pun tersenyum mendengar pertanyaannya. Lalu, katamu, “Sejauh aku menulis: aku sedang berusaha menyatakan apa yang kutulis. Mungkin kebanyakan penulis demikian, yakni menyatakan apa-apa yang di tulis—itu kalau tulisannya yang berkaitan tentang ide. Tapi ada juga ada yang menulis adalah dari apa yang dipraktekkan.”

“Apakah” katanya, “kamu merasa pandai?” tanyanya.

“Bukannya telah kukatakan, bahwa semakin membaca buku, semakin mengakui kekurangan?”

Namun, tidak lama kemudian kau terangkan, “Sebenarnya banyak orang yang menyimpan buku-buku di dalam ruangannya, yang bahkan lebih banyak daripada bukuku—karena memang ia menang usia dariku. Bisa jadi, orang-orang penjual buku—toko buku maksudnya, kebanyakan adalah dari kalangan mencintai buku.”

Ya, sudah tidak dipungkiri. Tatkala siapa pun yang datang kepadamu, setiap pembicaraan selalu mengarah ke buku, yang itu selalu megarah ke isi buku, atau kita sering mengungkapkan kebaikan-kebaikan buku, atau bahkan mendiskusikan buku.

Selalu itu yang terjadi.

Dan bahkan, tidak jarang, melakukan curhat melalui perantara isi buku: artinya, kau bercerita, mengambil tokoh di dalam buku, yang sedang mengambarkan kondisimu, entah itu kondisi kejiwaan dalam apa-pun. Karena kami sepakatan untuk mengatakan, “Apa yang tidak ada di dalam buku, kecuali kita yang tidak mempunyai buku apa—bisa dibilang, segala apa, terangkum dalam buku!”

Ditulis 2013 diedit 2017

Belum ada Komentar untuk "Kamar"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel