Nasihat Waspadailah Kesombongan Di Dalam Diri

Apa yang kau ingat tentang ‘sombong’, Taufik? Apakah kamu terkejut dan meresa heran, jika dahulu kala tidak ada yang mengatakan kepadamu, dan saat kau bertanya kepadaku, kata-kataku, sangat mengherankan dirimu: batinmu, kenapa malah pengasuhku mengatakan begitu? Kenapa harus dia yang mengatakan begitu? Dan kemudian engkau mencari-cari apa makna yang aku gelontarkan, lewat buku-buku, lewat orang-orang yang engkau ketahui. Engkau mencari dengan kata kunci:

Sombong!

Engkau berusaha mencari esensi ‘makna’ yang aku gelontarkan kepadamu—dan engkau sangat giat mencari karena sejauh ini, jawaban dari teman-temanmu, dari orang-orang disekitarmu, tidak ada yang mengatakan bahwa: kamu sombong.

Sebab dirimu adalah lebih memilih mendengar dibanding bercerita.

Lebih memilih mengikuti dibanding membuat keputusan.

Lebih baik mengintai dibanding membuat keputusan.

Lebih baik mendengar keakuannya dibanding keakuanmu

Engkau menutupi dirimu dengan keberadaan orang lain, engkau menjadikan orang-lain adalah dirimu. Padahal, dirimu adalah dirimu, bukan aku, dia atau mereka. Engkau adalah engkau. 
 


Memangnya, sombong itu terletak pada ‘keakuan’ (perakuan diri) saja? Seperti iblis yang mengunggulkan ‘keakuannya’, atau seperti Firaun yang mengunggulkan ‘keakuannya’. Namun, tetap saja, kesombongan itu meletak pada ‘Keakuan’. Dan dulu, kau belum mengerti tentang apa itu keakuan:

Tapi sekarang, engkau telah memahami apa yang kukatakan—karena kau berusaha mencari—:

Kau sombong dalam ilmu—karena itu engkau ‘enggan’ mendapatkan ilmu.

Kau sombong akan jalinan keilmuan—karena itu engkau tidak mendapatkan ilmu.

Selanjutnya, engkau bergiat dalam hal-ilmu, engkau mencari sana ke sini, mengumpulkan ini dan itu, dan dalam waktu yang ‘ringkas’ engkau mendapatkan ini-itu, engkau mulai berbicara dan itu adalah sosok kedirianmu. Engkau menjelma:
Orang yang maunya, di dengar.

Orang yang maunya, sibuk dengan imu.

Orang yang maunya, di taati setiap katanya.

Orang yang maunya, mengunggulkan kemampuannya.

Orang yang merasa, tinggi tingkat ilmunya.

Orang yang merasa, tinggi tingkat imannya.

Orang yang merasa, bagus akhlaknya.

Orang yang merasa, terlindungi akhlaknya.

Orang yang merasa, layak berbicara.

Kukatakan kepadamu, itu bukanlah dirimu, hati-hati terhadap apa yang bukan dirimu, Taufik, rasa-sombong itu lembut itu lembut sekali Taufik.

Oleh karenanya, mintalah perilindungan kepada-Nya, senantiasalah berpegang pada tali Allah yang maha kuasa, maha perkasa. Kenanglah, bahwa dirimu adalah manusia, yang kecil ukurannya, bumi itu luas, Taufik. Bumi itu luas, Taufik.

Saranku, waspadailah ‘kesombongan’ yang ada pada dirimu:

Awasilah gerik-gerik pemikiranmu.

Awasilah gerik-gerik hatimu.

Awasilah letupan bibirmu.

Awasilah tatapan matamu.

Awasilah tangkapan telingamu.

Dan perhatikanlah gerik-gerik panca-inderamu, dari itu, susupan ‘sombong’ mampu mencuat seketika, karena sombong memang senantiasa menunggu adanya peluang dari individu Dan perhatikanlah gerik-gerik panca-inderamu, dari itu, susupan ‘sombong’ mampu mencuat seketika, karena sombong memang senantiasa menunggu adanya peluang dari individu yang lalai.

Kau memang masih termembarakan akan ‘keilmuan’, namun kenalilah, keilmuan itu pun adalah alat, taufik, alat untuk mempemudah tentang kehidupan. Janganlah engkau sombong dengan keilmuanmu.

Katamu sekarang, bahkan dalam tarikan keilmuan masih diselipi ‘kesombongan’, bahkan dahulu kala, saat aku tidak dalam ‘jangkar-hasrat’ keilmuan pun, kau katakan sombong. Aku seperti serba salah begini, mohonlah petunjuknya.

Jawabku, tentu saya bahagia, melihatmu, berkembang dalam keilmuan, Fik, tentu saya bahagia, sangat gembira mendengar kabarmu, yang saya sarankan, waspadailah terhadap keilmuanmu, Taufik, semakin tinggi pohon semakin banyak angin, dan itu tentu bukan berasal dari dirimu-sendiri, tapi lingukunganmu, dan engkau harus –atau mencobalah—untuk tidak memakai pakain sombong. Caranya? Ya tetaplah menjadi menjadi dirimu, atau lebih baik, engkau diam. Tempatkan sesuatu pada tempatnya, kalau bisa. Kalau keberatan.

Mintalah kepada-Nya, mohonlah perlindungan kepada-Nya, mohonlah petunjuk kepada-Nya, mohonlah mudahkanlah ilmu bagimu. Dan beranilah untuk berdoa Taufik, beranilah berdoa ‘sendiri’ Taufik: sudah saatnya engkau berani berdoa sendiri.

Nyatakan sesuatu yang memberatkanmu kepada-Nya.

Serahkan ‘renyeknya’ dalam-dirimu kepada-Nya.

Terakhir, tetaplah engkau waspadai ‘kesombongan’ di dalam dirimu, orang tidak berilmu, bisa sombong, apalagi orang yang berilmu, bisa tambah lebih sombong. Waspadalah. Waspadalah.

2017

Belum ada Komentar untuk " Nasihat Waspadailah Kesombongan Di Dalam Diri "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel