Tentang Guru: Shalat, Tentang Perjalanan Pemikiran

Tatkala salat bersamanya. Oh, gayanya imam, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Intonasinya agak pelan, sayangnya aku tidak pernah tahu apa yang dirasakan hatinya: yang ada, tenggorakanku bagai tertekan, tercekik, dan berusaha menyatukan teks dan makna.



Bukan! Teks dan makna telah lanyah: aku rasakan bahwa salat, adalah sekedar salat. Salat sekedar salat. Thok. Itu saja. Mataku berkaca-kaca mendengar beliau mengudarkan suratan-pembukaan. Mataku bertambah berkaca-kaca tatkala beliau membacakan surat-Al-insyirah.



Uniknya, tak ada desisan sama sekali dariku. Salatku kosong. Bahkan mengucapkan amin, sulit.



“Salat macam apa ini?” batinku terharu. “Cukuplah Allah saksiku,” jawabku cepat. Aku menambahi, “Wahai ahli fikih, jangan dengan cepat kamu menilai salatku: sesungguhnya, kami telah memenuhi syarat-syaratmu, insyaallah. Pertanyaannya: apakah kamu selalu mengetahui tentang perasaan (hati) orang-orang tatkala salat? Hati, itulah tema kami.”



Pokoknya, salat kali ini, begitu sangat menambrak apa-apa yang pernah kulaksanai. Benar-benar 180 derajat dari apa yang sering aku jalani. Jika diukur dalam hukum fikih, salatku, maka tidak sah. Karena aku berdiri sekedar berdiri, rukuk sekedar rukuk, dan sujud sekedar sujud: tapi, jika dikembalikan pada Al-Qur’an, maka jadilah.



Subhanallah, aku begitu sangat didekatkan dengan Al-Qur’an. Begitulah salatnya Quran: berdiri, rukuk, sujud. Intinya begitu, sayangnya, akan lebih mengena kalau ada tumakninah dan duduk tasyahud awal dan akhir, dan runtutannya.



Seakan-akan bersamanya, aku kurang melaksanakan salat, seakan-akan begitu simpel. Tapi begitulah yang harusnya terjadi, Allah sangat rapi dengan ciptaannya. Bahkan tatkala wirid, aku hanya kusut, tak ada kata yang ingin keluar kecuali tanda-tanda aku berusaha menelan lidah.



Dan ketahuilah, wahai kawanku, inilah kali pertama aku mencium tangannya dengan bibirku. Ya, biasanya tatkala bersaliman, maka kuletakkan pada keningku kali ini kucium tangannya dengan bibirku. Kurang begitu menikmati, tapi telah bangga bisa melakukannya.



Wal-hasil, ada doa yang baru yang kuterima. Seakan-akan doa itu terspesialkan untukku. Pak Guru benar-benar membacaku. Benar-benar mengajarkanku tentang kesunyian, pokoknya, diamlah. Pokoknya tubuh yang berjalan. Seakan-akan tatkala bersamanya, ditegur dengan keras, “Tak ada yang dikatakan, semuanya telah jelas. Tidak ada yang perlu disampaikan. Titik.”



Aku pulang masih menyisahkan sulitnya menelan lidah. Aku terharu dengan apa yang terjadi. Aku sangat yakin, ya, alasan merindukannya karena ada mutiara pada dirinya. Memang aku tidak yakin seratus persen bahwa Simbah Parno memimpikan melihat mutiara di dalam rumahnya, intinya aku menerima cerita itu, karena faktanya diriku sangat teryakinkan dengan sangat bahwa dalam dirinya ada mutiara hijau yang peting aku dapati.



Begini, alasan aku tidak yakin 100 %, karena bukan aku yang mengalami mimpi tersebut. Tapi, sekarang, karena aku telah mengetahui, maka aku sangat yakin bahwa ada mutiara hijau pada dirinya. Oleh karenanya, aku pun mengudarkan, “Innadhlina amanu waamilusolihati watawasaubilhqqi watawasbiisabr,” Wal-hasil, aku yang mengatakan itu pada ibuku.



Memang tidak layak menyampaikan hal itu kepada Pak Guru. Cukuplah kitab-Nya mengoreksinya. Paling-paling hanya begitu pada akhirnya.



2015 
 
*baca juga ini: Tentang Guru

Belum ada Komentar untuk "Tentang Guru: Shalat, Tentang Perjalanan Pemikiran "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel