Shalat dan Imajenasi-Pengetahuan

Atau, ketika Sang Imam membacakan surat Al-fiil. Maka, di dalam pikiran mereka sedang membayangkan gajah-gajah dengan traling dan gadingnya. Membayangkan gajah sebagai kendaraan perang. Membayangkan gajah mati di tempat. Menggambarkan tentang kematian dan kemenangan. Membayangkan ketakutan dan sorak kebanggaan.

Mungkin itu lebih baik daripada membayangkan diluar batas keislaman. Atau mungkin memang benar jika Tuhan mewajibkan mengenang masa lalu. Bahkan shalat pun adalah tempat rekreasi untuk membayangkan sesuatu.

Jadi, surat Al-fatihah adalah sentral dari imajenasi. Dengan kata lain, jika sampai pada ayat, “Ihdinasiratolmustaqim ..,” maka, di mulailah petualangan baru, tentang pasangan antara kebaikan dan keburukan yang bersandingan.

**

Tidaklah kau duga sebelumnya bahwa ibadahmu terjelmakan rangkaian imajenasi. Kau selalu tidak mengerti tentang makna khusuk berdekat diri kepada Tuhan.

Betapa maafnya, kalau kuringkaskan:

Tuhan adalah cerita masa lalu dan bayang-bayang semesta raya.

Dan itu memang tidaklah kau duga sebelumnya. Malah ibadahmu menjadi ‘mbuh, ketika kau mengetahui tentang arti dari suratan Al-fatihah.

Solatmu menjadi aneh ketika sang imam melantunkan Al-fatihan. Tepatnya sampai pada ayat, “Ihdinassyitalmustaqim …,” seketika itu, mendadak pikiranmu melayang ke masa yang tidak kau tahu.

Kau membayangkan kisah orang-orang yang baik.

Kau mereka-reka tentang Nabi Musa. Di hanyutkan ke sungai, lalu diikuti saudara perempuannya, lalu ditemukan oleh permaisuri Firaun, kemudian dicurahkan kasih-sayang. Dan kemudian permasuri itu membutuhkan orang untuk menyusui. Lalu didapatkanlah ibu kandung Musa, namun mereka tidak mengetahui bahwa perempuan itu adalah ibu kandung Musa. Kemudian, Nabi Musa kecil hidup di halaman (dalam-luar) kerajaan.

Kemudian sang imam menyerukan “Allahu akbar!”

Mendadaklah kami rukuk dan melafadkan pujian.

Namun dilain sisi, kau masih melanjutkan cerita, masih terngiang-giang akan kisahnya. Lalu membayangkan ia berlari riang di dalam istana. Mencandai orang-orang. Menjadikan senyum-senyum, Berbicara ini-itu lagi bertegur sapa dan suasana hangat di antara mereka.

Namun sang imam menyerukan, “Samingallahuliman hamidah!”

Mendadak kami berdiri dan melafatkan doa, “Kepada Tuhan pujian diberikan, yang menciptakan langit dan bumi,” bersamaan dengan itu tergambar jelas buminya tandus, langitnya biru, di negeri Mesir.

Namun di lain sisi tergambar jelas tentang lawan dari kebaikannya. Yakni Firaun. Sehingga keadaanmu benar-benar suasana tidak karuan: satu sisi bahagia, di lain sisi dongkol luar biasa. Mendadak terbayang ketakutan Firaun, mendadak terbayang pula ketakutan Nabi Musa yang mendekapkan kedua tangannya di dada.

Selalu kau jumpai berpasangan—saling melawan, atau wujud perlawanan—sehingga solatmu selalu tidak enak untuk dirasakan.

Kau risau jika solat.

Kau tidak tenang saat solat.

Bersamaan dengan itu, kau riang dengan solat. Kau senang terseret kedunia yang entah, yang intinya berpasangan antara kebaikan dan keburukan. Malah suatu kengerian adalah, ketika salah seorang menyerumu, “Ayo solat!”

Ketika itu kau jawab dengan manggut dan hatimu berkata,

“Mari kita ke dunia imajenasi, dan siapa yang akan kita bayangkan! Mungkin Nabi Ibrahim dengan Raja Namrudnya, atau Nabi Sulaiman dengan Ratu Balqis, atau Nabi Yunus yang dikagumi para wanita. Yiiiha…”

***


Dari itu. Telah kau nekatkan ingin belajar agama.

Selang beberapa bulan kau pindah ke pondok pesantren.

Suatu hal yang menggembirakan bagi santri adalah mengaji sore. Karena memang selain diampu langsung dari pengasuh, cara mengajinya berbeda. Kiai tidak membawa kitab. Dan santri tidak juga membawa kitab.

Kata Kiai, “Inilah ngaji realitas yang berkitab.”

“Jadi apanya yang berealitas?” tanya Murid.

“Posisimu adalah santri, maka jagalah perkataanmu!”

“Maksudnya, Pak Kiai”

“Pahamilah. Aku tidak mengajari kalian dengan kitab, tapi aku berharap kalian mengeluarkan kata-kata yang bersumber kitab. Itulah esensi para Kiai.”

Itulah ngaji perdana Pak Kiai. Namun kali ini ada yang berbeda. Salah satu di antara mereka ada santri baru. Ketika senja hampir habis.

Ketika itu kau bertanya kepada Pak Kiai, “Apakah solat mengisyaratkan untuk berkhayal: simaklah arti dari ayat, ‘Ihdinasiratolmustaqim…,’?”

“Lebih dari sekedar itu,” jawabnya singkat.



Kau adalah pengajak orang berkayal dalam solat: tidak hanya Pak Kiai yang mungkin berkhayal, tapi seluruh santri yang ada mungkin akan berkhayal. Membayangkan tentang pasangan beriman dan tidak beriman. Membayangkan tentang kengerian dan tentang kesenangan. Membayangkan tentang masa lalu yang dikarang-karang.

Mungkin mereka mengarang wajah-wajah sebagai peranan khayalan. Misal, ketika ia membayangkan orang yang bejat, seperti Firaun, atau mereka membayangkan perang Yamamah; membayangkan wajah Sahabat Nabi Abu Bakar, membayangkan kejamnya neraka, atau membayangkan betapa ngerinya orang-orang penghapal Al-qur’an mati dalam peperangan.

Atau, ketika sang imam membacakan surat Al-fiil. Maka, di dalam pikiran mereka sedang membayangkan gajah-gajah dengan traling dan gadingnya. Membayangkan gajah sebagai kendaraan perang. Membayangkan gajah mati di tempat. Menggambarkan tentang kematian dan kemenangan. Membayangkan ketakutan dan sorak kebanggaan.

Mungkin itu lebih baik daripada membayangkan diluar batas keislaman. Atau mungkin memang benar jika Tuhan mewajibkan mengenang masa lalu. Bahkan shalat pun adalah tempat rekreasi untuk membayangkan sesuatu.

Jadi, surat Al-fatihah adalah sentral dari imajenasi. Dengan kata lain, jika sampai pada ayat, “Ihdinasiratolmustaqim ..,” maka, di mulailah petualangan baru, tentang pasangan antara kebaikan dan keburukan yang bersandingan. Simaklah kedua pemuda yang baru pandai bahasa arab dan orang kampung yang sedikit pengetahuan.

“Jadi, bagaimana dengan shalatmu sekarang?” katanya.

“Ya, begitulah. Semakin aku pintar: ibadahku semakin aneh-aneh. Salatku yang paling ketara!” balasmu.

“Apakah dosa jika aku mengandaikan sepertimu?”

“Dosa! Itu bukan hakku. Itu hak Allah,” katamu.

“Jadi orang pinter itu shalatnya aneh-aneh ya?”

“Sesungguhnya ya! Menurut pengamatan saya, orang pintar itu adalah orang yang goblok,” katamu. “Lebih-lebih. Mereka itu tidak menerimanan: sudah diberi ini, mau itu. Sudah diberi itu, mau itu, dan seterusnya.”

“Tapi kita dianjurkan menjadi pinter?”

“Maka dari itu, orang yang kamu pikir pintar, sungguh! Aku mengakui bahwa ‘Aku goblok.’ Karena aku masih belajar,”

“Hanya orang goblok yang mengaku pintar,” Imbuhnya

“Jadi solat itu mengajak kita berkhayal?”

“Menurutku. Lebih dari sekedar berkhayal. Tapi kalau diterangkan semua, jelas membutuhkan waktu lama. Aku kabarkan dua fungsi solat yang mengena, yakni, olah raga dan olah jiwa—Pahamilah kedua kata tersebut ya. Aku pergi dulu.”


Di tulis November 2012 diedit 2017

Belum ada Komentar untuk "Shalat dan Imajenasi-Pengetahuan "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel