Pancaran



Aku terpikirkan para pecinta tuhan. Terpikirkan sufi. Dan hal-hal yang baur cinta pada-Nya. Cinta pada-Nya. Sehingga batinku berkata,

“Bahkan orang-orang tua pun, turut berpacaran. Bahkan orang renta, masih juga cinta-cintaan.”
 Sangking penarasan istilah pacaran. Aku cari kamus besar. Kudapati. Pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin, biasanya untuk menjadi tunanangan.

Akan tetapi, aku rasa pacar adalah pancaran. Yakni cahaya yang memancar dari hati ke tujuannya. Sebab keberadaannya adalah membuat memancarkan kasih-sayang pada dirinya. Lebih dari itu. Seakan-akan mendedel-duelkan tentang diri kepada yang dipancari.
**

Aku masih memikirkanya. Dia masih terbayang dalam pikiranku. Seakan, ada-ada saja untuk bisa mengenangnya. Dahulu, kami berkasih-sayang. Kasih-sayang? Tidak. kami sekedar berbagi cerita. Ngeluh. Dan berbicara bagai tidak mempunyai arah. Tapi dari pembicaraan itu terdapat arah. Banyak arah. Tentang rencana. Tentang penyeledikan keingintahuan. Istilah umum. Kami pacaran. Pernah kukatakan, “aku mencintaimu. dia mencintaiku.” Sah. Status kami dari teman menjadi pacar.

Kami pancarkan cerita tentang diri. Saling mengoreksi satu sama lain. Saling ingin tahu satu sama lain. Kami menjaga malam. Ngantuk entah kemana larinya: yang ada dirinya memancarkan daya untuk terjaga. Kata-katanya serasa betah. Benar. Kami betah. Pembicaraan kami tidak tenang. Ke sana-ke mari.

Dan malam menjadi pagi. Orang-orang mulai terbangun. Kami putuskan pembicaraan. Bahkan dalam hal memutuskan pembicaraan. Kami berebut. Seolah-olah dikatakan,

“Tidaklah usah dihentikan pembicaraan ini. Tidak usah. Biarkan aku tetap bersamamu. Bersama kata-katamu.” Selalu itu yang bagai dikatakan.

Tatkala kami kurang. Kami lanjutkan pagi hari. Bahkan seluruh aktifitas padam, kecuali keinginan bersamanya. Bersamanya. Seakan-akan gambaran tentang segala hal adalah samar, kecuali bersamanya. Bersamanya.

Lambat laun. Keinginan kami pudam. Tapi adalah bahagia bersamanya. Seakan-akan percikan bahagia tidak pernah padam. Selalu ada nyala. Walau kadang membara. Walau kadang kecil. Tapi tetap menyala. Tetap menyala. Aku terpikirkan tuhan. Terpikirkan para pecinta tuhan. Terpikirkan sufi. Dan hal-hal yang baur cinta pada-Nya. Cinta pada-Nya. Sehingga batinku berkata,

“Bahkan orang-orang tua pun, turut berpacaran. Bahkan orang renta, masih juga cinta-cintaan.”
 
Sangking penarasan istilah pacaran. Aku cari kamus besar. Kudapati. Pacar adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin, biasanya untuk menjadi tunanangan.

Akan tetapi, aku rasa pacar adalah pancaran. Yakni cahaya yang memancar dari hati ke tujuannya. Sebab keberadaannya adalah membuat memancarkan kasih-sayang pada dirinya. Lebih dari itu. Seakan-akan mendedel-duelkan tentang diri kepada yang dipancari.

Sayangnya hari ini tidak ada matahari. Hari tidak mempunayi mata. Langit suram. Mendung. Tidak turun hujan. Aku akan bergegas untuk mengampirinya. Untuk mempertanyakan cintanya.

Di depan rumahnya. Hatiku jedag-jedug. Katanya, “Dia bukan Tuhan. Belum bertemu. Jantungku berdegub kencang. Bagaimana bila bertemu dengannya. Padahal dosaku melimpah. ah...” aku mulai ragu. Aku pernah mengatakan padanya, “Apakah kita termasuk dalam hal dosa? Sebab banyak hal yang kita singkirkan namun sedikit sekali disadari?”

“Memangnya,” katanya penasaran.

“Ingatkah kamu pernah menipu ayahmu? Padahal kita jalan bersama.”

“Tapi kemudian hari telah kujujurkan bahwa waktu itu aku bersamamu.”

“Kita berdua-duan tanpa status pernikahan. Alangkah baiknya kita sudahi hubungan ini? Aku khawatir dosaku kian menumpuk banyaknya.”

“Kita harus percaya.” Imbuhku. “Jodoh di tangan Tuhan.” Tutupku dan sekarang kuulang lagi kata-kata terakhirku. “ Jodoh di tangan Tuhan. Mengapa aku khawatir dia pergi meninggalkanku. Dan aku mesti mempertanyakan cinta untuknya? Toh, aku tidak segera ingin melamarnya, atau menikahinya.” Batinku mulai gelisah. Aku berdiri menatap pintu rumahnya. Silih berganti berakata, “Masuk. Tidak.”

“Sudah sampai di depan rumahnya,” batinku mengimbuh. “Aku harus masuk,” tutupku. Menyandarkan kendaraan. Mengetuk pintu ditemani jedug jantungku.

Dia membukakan pintu. Tak ada kata yang melayang. Tatapan takjub. Terkejut.

Kami duduk membisu.

Dia berkata, “Ada apa?” kujawab seperti apa yang telah kurencanakan. “Apakah kau masih mencintaiku?”

Dia menggelangkan kepala. Segeralah kuayunkan ke bawah dua tangan yang telah mengepal dan berkata. “Yes!”

“Kalau begitu,” imbuhku. “Aku permisi dulu,” tutupku.

Dia terkejut. Matanya seakan-akan bertanya-tanya. Aku tidak memberi alasan lebih. Kecuali tersenyum. Tatkala aku berdiri. Dia berkata, “Kamu kenapa?” tanyanya seakan-akan hendak tersenyum. seakan-akan hendak tertawa. Pokoknya suaranya lemah. Lembut. Yang diteruskan, “Sebenarnya,” jawabnya malu. Dia menggukan kepala.

“Yes!” jawabku lagi.

“Kalau begitu.” Imbuhku. “Aku permisi dulu.” Tutupku.

“Kamu ini kenapa?”

“Aku telah mendapati apa yang kuinginkan. Aku telah sampai pada tujuannya. Yakni, ingin tahu apa jawabanmu. Jadi, ya sudah. Toh, telah direncakan bahwa tatkala sudah mendapati jawaban. Maka aku undur diri.”

“Kamu selalu egois.”

“Memang!”

“Kamu...” dia segera menghentikanku. Menarik lenganku.

Aku duduk membisu. Tak ada senyum dibibirku. Dia pun merengut karena kesal denganku. Aku bahagia. Tapi entah mengapa senyumku hilang dari wajahku. Kebagiaan telah merenggut cerianya wajahku. Aku menundukan diri. Jedug jantung kian kencang. Hingga kemudian kukatakan.

“Aku miskin,” kataku lirih. “Bukan karena miskin harta. Tapi masih miskin ilmu. Dari itu, aku telalu khawatir bila terus bersamamu. Bukannya pernah kukatakan: tatkala aku bersamamu. Seakan-akan selalu kamu yang kuingini. Selama saya bersamamu. Selalu kami yang kuingini. Aku tidak menjaga naluri bersamamu. Selalu ingin mengetahui bagaimana denganmu. Selalu itu. Seakan-akan lupa segala hal, kecuali kamu. Semua menjadi bayang-bayangmu, bahkan aktifitas (sebutlah pekerjaan) terjalin penduaan. Yakni, masih juga memikirkanmu,” kataku panjang.

Dia melelehkan air mata. Haru sampai membisu. Dia angguk-anggukan kepala berulang-ulang. Hanya itu yang dia mampu.

“Bukannya telah kukatakan aku ingin melanjutkan study. Tapi bila bersama-mu. Seakan-akan aku merasa sedih. Namun, tatkala kutahu kamu mencintaiku: hatiku lega. Sangat lega.”

“Jadi,” Balasnya lirih. “Aku harus bagaimana? Tidakkah kamu memikirkan bagaimana perasaanku. Aku bagai dianginkan olehmu.”

“Dianginkan!” sentakku seketika.

“Apanya yang dianginkan? Tidakkah kamu ingat bagaimana perasaanku waktu kau kejar study-mu. Bagaimana dengan perasaanku.”

“Agaknya, apakah mas dendam?”

“Dendam. Sungguh, tidak ada niatan untuk dendam. Tidak terpikirkan untuk membalas bagaimana perasaanku waktu itu. Akan tetapi, begitulah hukumnya. Allah mengetahui apa-apa tentang makhluknya. Allah bakal membalas tiap-tiap perbuatan kita. Mungkin, Allah menunjukan bagaimana perasaanku tatkala kamu sedang study. Dan kini berbalik padamu,” balasku menguraikan penjelasan. Dan pamit telah lalai dalam peredaraan. Tatkala dia mengingatkan tentang pamit. Kukatakan pula, “Apakah kau rela bila aku pamit padamu?” dia malah tersenyum.

Kami saling mengudarkan diri. Persoalan-persoalan yang terjadi, telah, dan akan. Aku menjadi pendengar. Pendengar dia berkata ini-itu panjang lebar. Dia menjadi pendengar. Mendengar aku berkata ini-itu. Azan sore terdengar. Aku benar-benar undur diri. Dan gaya kami tetap: sekedar bersalaman. Cuma itu, kami bersentuhan. Tidak ada yang lain. Dan tanganku, ditaruh keningnya. Hal begitu. Membahagiakan. Membanggakan. Juga menyedihkan. Sebab aku teringat: Tuhan tidak tidur, dan malaikat mencatat dosa-dosa yang kami perbuat.

Juli 2013

Belum ada Komentar untuk "Pancaran"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel