Jubah




Mending dia berjubah, daripada tidak: telanjang dan benar-benar membuat resah. Mending dia berjubah, walau tatkala sehari dua hari jubahnya dilepas dan menggunakan pakaian kebisaannya. Mending dia berjalan menuju masjid, menyemarakan ramadhan, menggembori orang-orang yang benar merasakan ramahdan. Aku memang agak kesal. Agak kesal dengan orang-orang yang menggunakan jubah keislaman. Tapi rupa-rupanya, aku pun masih mengenakan jubah keislaman. Tepatnya, masih berusaha menjadi orang islam.



Atau sesungguhnya setiap orang adalah berusaha menjadi islam. Islam adalah pasrah. Orang yang belajar pasrah kepada-Nya. Oh Dia yang maha cinta, agaknya selalu kusandarkan supaya aku bisa mencintainya. Tapi ya, cintaku pada-Nya adalah sepercik cinta atau cinta-cintaan padanya. Nyatanya, masih juga ada larangan yang terlaksanakan. Kataku, “Terima kasih, Allah, telah menjadikanku berusaha untuk mematuhimu. Berusaha menerima segala macam perbedaan yang terindra. Kepadamu aku mohon ketabahan. Maka kuatkanlah hatiku dengan perbedaan tersebut. Perbedaan yang sementara. Yang mengantarkan pada titik temu yang satu. Selalu mengarah pada-Mu.



Sekarang, apa yang tidak mengarah pada-Nya?



Bahkan perkembangan zaman. Selalu mengarah pada-Nya. Dibawah lindungan langitmu. Diapung bumi yang milikmu. Ah semua itu benar-benar milikmu. Tapi ya tapi. Semua telah menjadi kotak-kotakan urusan manusia. Manusia telah mengotak-kotakan yang ada dihamparan bumimu. Maka dari itu, tabahkan hatiku menerima takdirmu.



Bahwasanya, telah Engkau takdirkan perjalanan waktu. Mendekati zaman yang bakal pudar. Pudar untuk mengingat-Mu. Beberapa kali aku teringat. Tentang kemunginkan-kemungkinan. Satunya adalah bahwa solat-mesin. Yakni, seluruh gerakan tubuh diapit dalam mesin. Jadi, lekukan-lekukan tubuh digerakkan ke sistem mesin.



Teknologi canggih. Kiamat semakin dekat. Semakin dekat.



Langit tetap ramai. Bahkan saingan. Antara burung dan pesawat terbang. Antara capung dan helikopter. Hampir, segala jenis ciptaan-Mu. Hendak ditiru, digunakan mesin. Supaya tidak mati. supaya kekal. Aku baru sadar. Zaman firaun mulai merembet dan berkembang biak dengan cepat. Baru-baru ini kudengar, manusia menciptakan robot ikan. Dia melakukan penelitian bertahun-tahun. Aku tidak melihat secara langsung. Tapi aku melihat siaran di televisi, menyakini, sudah tidak umum langi bahwa manusia berusaha menyempurnakan alam semesta dengan ciptaan manusia. Dan aku tetap masih percaya, bahwa engkaulah yang menghendaki manusia untuk berpikir yang demikian. Maka, tabahkanlah hatiku dengan apa yang terjadi. Jangan biarkan aku terjerembab dalam zaman yang melalaikanmu.”



Ah masih mending dia berjubah. Daripada tidak. Dia menggunakan jubah karena gegap-gempita orang-orang merayakan. Seperti ramadhan. Orang-orang menyambut puasa dengan suka-cita. Tak ayal rumah-rumah bagai menjadi baru. Bahkan tempat ibadah menjadi seakan-akan baru. Katanya, “Ini persiapan puasa.”



Masjid di cat. Perlengkapan masjid mulai di cek. Sajadah dibersihkan.



Ramadhan tiba. Manusia berbondong beribadah. Dari langit terekam. Manusia berpakaian takwa. Berkerudung, menyangking mukena. Melangkah ke masjid. tatkala magrib tiba. Anak-anak berkumpul di halaman-halaman yang luas. Mereka bermain bersama. Mereka menyulutkan mercon. Bunyi jedar-jedor terdengar. kataku, “itulah bom pembuka, untuk peperangan. Yakni, perang melawan hawa-nafsu.”



Batinku menjawab, “Bukannya mestinya kita melawan hawa-nafsu setiap hari?”



“Aku manusia. Tidak luput dari dosa.”



“Tapi kamu manusia. Bisa menghindari dosa.”



“Bagaimana bila Tuhan...”



“Bila tuhan apa?” balasnya memotong pembicaraanku.



“Dia menghendaki untuk mendekati dosa. Bukannya segalanya adalah kuasa-Nya?”



“Maka renungkanlah tentang peraturan-Nya?”



“Tapi, bagaimana dosa bisa datang bila dia mengizinkan: apakah Dia, seusai menciptakan membiarkan begitu adanya? Supaya menusia berjalan sendiri menurut kehendaknya. Manusia disuruh mikir untuk menjauhkan diri dari setan.”



“Kata-katamu,” balasnya serius. “Membuatku tertawa. Tapi mengapa kamu tidak melakukan dosa-dosa. Untuk apa kamu tobat, ibadah, dan lain-lain sebgainya tentang agama. Untuk apa?”



Tak ada kata yang terbang dariku. Tenggerokanku berat. Menelan lidah susah. Balasnya begitu menendang hatiku.



“Kalau berani: cobalah menuruti kehendakmu sendiri. jangan ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Jangan ada. Ketahuilah, Tuhan itu cuma satu. Orang-orang yang menyeru tuhan selalu berkaitan satu-sama lain. Maka, kuperintahkan: lepaskan dirimu dari tuhan! Lepaskan!”



“Aku tidak bisa. Tidak bisa. Dunia telah terpasari dengan agama. Orang-orang goblok menyemaraki agama sampai ketelingaku. Aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa.”



Tiba-tiba Zahid datang mengetuk pintuku. Dia bertanya, “Kapan kita mulai puasa?”



“Tunggulah. Sesunggunnya aku pun orang yang menunggu.” Jawabku enteng. Tapi batinku berkata lain, “Menunggu. Keluarkanlah kehendakmu. Mengapa kamu masih menunggu?”



“sssttt... diam...! Jangan ikut campur urusanku.”



“Tidak bisa. Kita telah ditakdirkan selalu bersama.”



“Aku tidak mau.”



“Sepakat!” Zahid menjawab dengan tegas. “Kita manut saja dengan pemerintahan. Kapan pemerintahan menetapkan. Disana kita patuhi.”



“Kita, Hid. Agamanya adalah islam pemerintahan.”



“Bukan, tapi Islam keluarga sunah dan jamaah, serta pemerintahan.”



“Aliran apa itu?”



“Pokoknya melu!”



“Ah kita itu, Hid. Agamanya Cuma ikut-ikuta.”



“Lantas, kalau tidak ikut-ikutan mau bagaimana? Kita tidak bisa menentang orang-orang: kalau kita menentang, pasti menjadi bahan pergunjingan.”



“Ah sudah biasa, Hid. Hidup selalu jadi bahan pembicaran. Lebih anehnya lagi, kadang-kadang aku memperhatikan pemerintahan itu juga orang-orang ahli fikih, Hid.”



“Tapi menurutmu,” nadanya mulai serius. “Mereka ahli fikih atau teori kefikihannya doang?”



“Aku tak tahu. Mudah-mudahan mereka adalah ahli fikih tulen. Yakni, orang yang pandai teori juga pandai praktek.”



Matahari mulai senja. Pembicaraan ditunda. Tapi tidak pada diriku. Diriku selalu mempunyai teman istimewa untuk diajak berbicara. Walau pada dasarnya aku enggan, tetap saja dialah yang teristimewa dibandingkan yang lainnya. Dia menemaniku kalaku kesepian, kedinginan, sakit, dan lain sebagainya. Dialah teman setia. Batin namanya. Ya, kunamain batin.



Memang, aku tidak tahu rumahnya. Tapi aku merasakan dia dekat sekali denganku. Kataku, “Entah rumahnya disebelahan hatiku. Atau didalam kepalaku. Di kanan atau kiri otakku. Aku kurang dia, dia bersarang di mana. Tapi dia kerap mengajakku untuk berdialog. Dia membuatku tertawa. Tersenyum. Gembira. Bahkan membuatku terluka. Itulah sebabnya, aku jarang mempunyai teman spesial. Kecuali, aku yang dispesialkan teman-teman. Maksudnya, mereka mendatangiku karena membutuhkanku.”



Balasnya, “Akulah teman kesetiaanmu. Yang mengairkanmu serta mengapikan pikiranmu.”



“Mengapa tida mengairkan saja? Supaya pikiranku selalu dingin.”



“Kamu manusia. Yang diberi nikmat darinya. Yakni, masih mempunyai api dan air yang menyatu dalam dirimu. Ketahuilah, bila salah satu hilang. Maka kamu bukanlah lagi menjadi manusia.” Ia menutup dengan segera, “Sekali pun api, ada manfaatnya.”



Azan telah memanggilku. Ada kertas yang terbang. Mendatangiku. Terbaca,

“Bila manusia tidak berbaju. Tidak mengenal pakaian.”



Aku tercengang.



Sambil melangkah. Dia berkata lagi, “Dunia adalah perhiasan. ingat, seperti orang mempunyai perhiasan—maka waspadalah. Maling mengincar-incar pameran hiasanmu.”



“Aku tidak pamer.” Balasku.



“Kamu menampakan.” Dia membalas. “Ingat. Orang-orang berebut, perang, dan cek-cok karena hukum penampakan. Selain itu, jarang sekali.”



Hingga iqomat. Tidak dapat menghentikan kesetiaan kami. Tidak bisa menghentikan diskusi kami. Tidak bisa menyumbat perkataan-perkataan kami. Karena iqomat, solat, dan seterusnya adalah berkaitan dengan kata-kata. Dari kata-kata itulah, bisa menjadi bahan diskusi kami. bahkan jubah didepan saf kami. Menjadi pembicaraan lebar dalam solatku. Tentang sejarah arab dan penggunakan jubah. Selepas salam. Kami serukan ampunan (astagfirullah...) tiga kali.



**

Belum ada Komentar untuk "Jubah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel