Penulis Sejati


Adalah penulis sejati, yang aktifitas hari demi harinya menulis, dan bahan untuk kehidupannya adalah menulis, dan dari tulisannya tidak menghasilkan upah dari tulisannya. Itulah aku. Aku menulis beragam tema, mulai dari cerita-pendek, puisi, dan catatan harian, itulah kegiatanku sehari-hari. Ditambahi menulis pendidikan dan buku tentang keahlian itulah jadwal sepekan sekali, itulah yang memadati kegiatanku sehari-hari. Walhasil, kegiatanku dari 7 hari selalu menulis, dan menulis, hanya satu hari aku bagai libur menulis, itu dilakukan dengan mengirim tulisan, yakni mengirim cerita-pendek ke media-media. tapi, malamnya aku selalu masih menulis, yakni menulis catatan harian, tentang diriku sendiri, tentang aktifitasku sendiri.

Dari situ kudapati kata-kata seperti ini,

“Bahkan kehidupan sehari selalu kurang-waktu untuk menulis kejadian-kejadianku. Termasuk tentang nama, orang, dan beberapa kata-kata dilontarkan mulutku, dan kudengar adalah kejadian yang banyak sekali, tapi sayangnya, otakku tidak mampu—belum mampu—menyerap penuh seluruh diriku. termasuk kata-kata hatiku.”

Dan seperti ini,

“Kejadian yang kudapatkan adalah cermin nyata dari kesifatanku. Seperti kejutan misalnya. Ya. Terkadang kedatanganku membuat kejutan orang, sehingga, aku pun kerap mendapatkan kejutan dari orang. Begitulah contoh kecilnya. Dan banyak kejadian-kejadian lain yang mengejutkanku.”

Tapi inilah yang lebih mengena dariku,

“Catatan harianku, bagai memiliki hutang yang banyak, dan memiliki kekurangan yang banyak. Jika dalam satu hari tidak menyelesaikan catatan harian, maka hutangku semakin banyak untuk menulis catatan harian. Apabila catatan harianku teramat singkat, yakni satu lembar kertas folio, sungguh, itulah catatan yang cacat, sebab cacatan harian memiliki kejadian-kejadian dan pertemuan. Dari itulah kurasakan benar, Allah Maha Teliti terhadap sesuatu.”

Soal catatan harian, ini juga yang kian mengena isi dadaku, yang bagai memanah diriku untuk tersenyum yang dililiti rasa takut dan haru,

“Dan ya, aku telah menyibukkan kedua pengawalku, malaikat yang menemaniku saben-saben waktu, malaikat pencatatku, yang kusibukkan sebab aku banyak menulis, mungkin ia tersenyum juga memindai catatatku. Atau diakah menyalin catatanku? Oh, akukah bagai guru yang mengajikan catatan harianku kepada malaikat pengawasku? Mungkin, ketika aku semakin banyak menulis ia semakin sibuk dengan dirinya. Mungkinkah ia juga kehabisan tinta, dan pamit kepada allah, setidaknya membeli pena dulu, atau setidaknya mengambil pena dahulu. Atau, ia telah menyandingkan beberapa pena di sampingnya. Jadi, benarkah disekitarku banyak penanya, pena malaikat?”

Tapi aku bukan sekedar menulis yang telah kusebut. aku menulis yang lainnya, dan itu adalah pemenuh hari-hariku, yakni menulis dalam kitab. dari 7 hari, pun libur sehari. Yakni, malam jumat saja. Ya, sehari saya menulis beberapa lembar dari kitab-kitab yang kukaji. Tepatnya, kurang-lebih sehabis magrib sampai isya, saya menulis, mengaksarai kitab. Ditambah lagi dengan pagi, kurang-lebih mulai dari jam 6 sampai jam 7 pagi mengaji kembali, dan itu menulis kembali.

Ya. Malam aku menulis tentang makna kajian kitab tafsir jalalain, diteruskan, apabila isya telah datang, diteruskan dengan mengaji hadist, yakni buluhul marom. Tahulah kita pada kitab buluhul marom adalah kajian bab per bab dipecah-pecah. Sehingga, sedikit hadis yang dikaji setiap malamnya. Itu dilaksanakan, mungkin, kemauan guruku adalah teruntuk akhlak, teruntuk supaya dipraktikan. Sungguh banyak yang mengatakan dan banyak dibenarkan bahwa praktik adalah berat.

Dan di situ juga, kerap sekali saya hutang dalam pengaksaraan. Walau mungkin jika dikatakan, adalah telah mengetahui makna dari apa yang telah dikaji, akan tetapi, dari situlah, terkadang hal-hal yang membuat saya hutang. Yakni, mengetahui makna dan tidak mengartikan kata-katanya. Apalagi, di bab hadist, seakan-akan kata-kata kerap sekali terhafalkan, sehingga di kitab hadist tidaklah ramai dengan kata-kata, atau tulisan. Tapi itu bisa termasuk hutang. Itu terjadi sebab, satu, guruku cepat membacakannya: mungkin, harapannya adalah semakin lama orang megaji ilmu, maka banyak sekali ilmu yang dikaji. Atau tepatnya begini, kalau mengaji secara lamban dan pelan, maka aku akan kerap sekali mengajuhkan tanya, sebab penarasan dengan apa-apa yang dikaji. Sehingga sang guru ingin membacakan beberapa kita yang berkaitan dengan kejiwaaku, mungkin, atau, setidanya ia menawarkan diriku untuk lebih mendengar banyaknya hadist. Hingga terkadang kudapati kata-kata semacam ini,

“Semakin saya mengaji hadist, seakan-akan apa-aoa yang kubicarakan atau orang-orang bicarakan adalah menukil dari hadist. Bahkan diriku seakan-akan enggan untuk berkata-kata, tapi itu dalam posisi ngaji, jadi di dalam pikiranku adalah daya untuk mengingat apa yang ia pelajari dariku.”

Kemudian pagi, mengaji hadist kembali, dalam kitab muhtarul hadist nabawi, dan itu mengukuhkanku untuk kepenulisanku, sehingga setiap hari aku selalu bagai menulis. lebih dari sekedar penulis. Dan hari-hari bergelimpangan tulisan, yang meluncur dari tanganku. Bahkan pernah ku tulis, kusalin dari apa yang telah kukaji. Kebetulan pada sesion pendidikan kutiliskan yang intinya,

“Tekun belajar adalah sebelum memulai pelajaran mengkaji sendiri, dan seusai diajari dikaji lagi: trik untuk menguatkan pengajaran adalah dengan cara, menulis kajian sebelum memulai pelajaran dan menyalin kembali seusai diajari.”

Namun itu, membuatku seolah-olah lepas dari tujuanku. Bukan berati saya menolak gagasan tersebut, tapi gagasan tersebut adalah terkhususkan bagi pelajar yang posisinya adalah pelajar. bisa seperti orang kuliah, sma, smp, sd dan seterusnya. Sementara posisiku adalah pelajar yang terlepas dari posisi pelajar, artinya tidak berkaitan dengan dunia pendidikan formal. Artinya, telah tertuntut ekonomi untuk mencari bekal sebagai modal untuk belajar.

Hanya dari itulah, ketidak-lancaran kepenulisan saya yang membuat dan mengukuhkan sayalah penulis sejati, dan jiwaku saat ini adalah jiwa penulis sejati. Yang apinya telah dinyalakan oleh-Nya, yang diberi kesempatan dari-Nya, mungkin untuk dikenang banyak orang, bahwa akulah penulis sejati. Kebenaranya memang begitu. Akulah penulis sejati. Dan kadang yang membuatku heran adalah,

“Seberapa tebalkah sekarang catatanku di lauh mahfudz? Dan seberapa cepat si malaikat mencatat kejadianku? Ataukah aku dililiti malaikat yang lebih dari satu, dua, dan tiga? Bila setiap diriku, setiap organ-organku, diawasi oelh malaikat yang banyak—selalu sibuklah ia dengan diriku, yang tumbahkan padatkan aktifitasnku sebagai menulis saben-saben waktu. Atau, sekarang juga ia sedang mencatat diriku, yang merembetkan mencatatnya? Iakah tersenyum. Dan baiklah, kuhaturkan salam untukmu, wahai malaikat yang mengawasiku,

Assalamukum warahmatullahi wabarakatuh

Atau, bisakah kelak aku pada-samakan catatan harianku dengan catatan hariannya. Atau, masih banyakkah disana orang-orang yang membaca buku?”

Bahkan untuk menjadi penulis sejati, aku harus melewati beberapa ketakutan, cobaan-tulisan, dan ketakutan realitas, dan pembelajaran yang gagal, serta bacaan-bacaan yang mentereng, bagai filsafat, agama dan tentang kebudayaan. Bahkan dari catatan tersebut terjadilah rangkain cerita yang menceritakan tentang diriku dan catatanku, yang itu adalah selingan dari beberapa rangkaian catatan yang desak-desakan didalam pikiranku, untuk dicatatkan, untuk dikeluarkan. Seakan-akan mereka saling berebut untuk dicatatkan, sebab setiap hari, setiap kejadian, setiap indera bekerja: inilah penambahan daya untuk menjadi catatan. Bahkan, ketika tidur, bermimpi: menambahkan daya untuk menjadi catatan. Bahkan diriku, kepalaku, seolah-olah penuh dengan catatan. Mereka—bagai antri untuk dicatatkan. Mereka—bagai bayi yang hendak dilahirkan, sementara jalan keluarnya cuman satu: maka bersabarlah. Sungguh, aku pun menikmati diriku sebagai penulis sejati.

2013

Belum ada Komentar untuk "Penulis Sejati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel