Muslim Akademisi




Kalau kau sibuk dengan teks-teks ilmiah, sibuk dengan dunia baca, sibuk dengan tautan sejarah, dan pada akhirnya engkau juga sibuk dengan ‘dirimu’, sibuk dengan ‘kecintaan-kecintaanmu’ dan sibuk dengan teks-teks ilmiah. Padahal hidupnya muslim, bukan sekedar keilmiahan. Bukan sekedar tentang teks-teks keilmiah. Bukan sekedar pembagian teks-teks keilmiah.

Kaum muslim, terperintahkan melakukan shalat wajib, itu harus.

Kaum muslim, terperintahkan untuk melakukan wudhu, itu harus.

Kaum muslim, terperintahkan untuk mencari ilmu, itu harus.

Terlebih lagi, Taufik, aku tidak menganjurkanmu menjadi ‘hebat’ atau ‘sangat-cerdas’ dalam hal pengetahuan. Namun, saya menganjurkan kepadamu: selamatkan dirimu, selamatkanah duniamu, selamatkan keislamanmu.

Engkau hidup di dunia: apakah engkau mau menjadi orang yang miskin tentang dunia?

Meminta, meminjam, apa-apa yang teman kamu punya. Apakah hidupmu mau seperti itu?

Engkau hidup sebagai orang muslim: sudahkah engkau mengetahui tentang ‘kemusliman’ dirimu?

Tentang kedamaianmu

Tentang keparahanmu

Tentang penyerahanmu

Ketahuilah, saat engkau menjadi muslim, maka engkau adalah orang yang sarat dengan penyerahan—ingat, penyerahan—kepada Tuhan yang merajai semesta. Ingat, yang merajai semesta. Karena engkau orang akademisi, orang intelektual, orang yang mempunyai kesempatan berkutat dengan teks, maka harusnya rasa imanmu semakin melambung dan semakin meninggi sehingga efeknya, praktekmu tentang agama semakin ‘indah’ dan semakin rajin. Sebab engkau mengetahui, bahwa islam adalah damai. Islam adalah pasrah. islam adalah kesejahteraan. Bukankah engkau tahu uraian dari: damai, pasrah. sejahtera? Engkau juga tahu, dan paham dengan kalimat: yang merajai semesta? Oleh karenanya, terapkan dalam hatimu, dalam cangkang pemikiranmu: semua tentu berada dalam kuasa-Nya. Oleh karenanya, janganlah khawatir, jangan bersedih: Allah itu maha perkasa, Taufik.

Jika orang-orang akademisi atas nama islam, perilaku mereka jauh dari ‘perilaku’ keislaman—engkau jangan ikut-ikutan.

Jika orang-orang akademisi sibuk dan ketat dengan teori, namun jarang mengaplikasikan keilmuannya—engkau jangan ikut-ikutan. Sibuk teori, sibuk juga dengan praktek.

Ingatlah, islam selalu menyeret ‘manusia’ ke arah realitas, ke arah praktek realitas.

Ukuran shalat adalah kekuatan yang dahsyat dari agama islam.

Jika orang-orang akdemisi tidak sibuk mendatangi masjid, dan lebih memilih ibadah di rumah—jangan ikut-ikutan, tetaplah datang ke masjid. Masjid adalah tempat ibadah.

Dan ketahuilah, Taufik, bersamaan dengan ‘pengetahuan’ ilmiah, dapatkanlah tentang kelezatan beribadah, kelezatan tentang makna hidup, kelezatan dalam beragama: itulah sasaran dari keilmiahan, jika keilmiahan membutuhkan tentang objektifitas, berikanlah keobjektifitasan tersebut. Namun, bersamaan dengan karaktermu yang memberikan issu-realitas: berikanlah isu realitas, bahwa umat islam sering terjadi masalah, yakni ketidak-sesuaian antara keilmuan dan praktek keagamaan.

Harusnya, jika banyak kajian tentang islam.

Maka masjid-masjid tentu sangat ramai.

Jika seluruh muslim-akademisi, sibuk berkumpul dan mendiskusikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, di masjid-masjid—maka lihatlah betapa ‘kokoh’ kuat dan dahysat system pengetahuan islam.

Jika engkau tidak melihat muslim-akademisi sibuk berdiskusi tentang keilmuan—janganlah khawatir.

Jika engkau tidak melihat muslim-akademisi sibuk berdiskusi tapi lalai menjalankan keilmuan islam—tetap janganlah khawatir.

Khawatirkan dirimu, tatkala engkau tidak menemukan teman diskusi. Khawatirkan dirimu tatkala engkau berpengetahuan islam tapi tidak menjalankan pengetahuan islammu. Benar! Yang saya tekankan adalah tentang dirimu, Taufik:

Tentang dirimu yang berada di dunia.

Tentang dirimu sebagai orang muslim.

Oleh karenanya, sibukkanlah dirimu tentang keduniaan, selain itu, sibukkanlah dirimu tentang kemusliman. Jangan resah terhadap technology, sains, dan alat-alat elektronik terhadap pengaruhnya: ambillah positifnya. Kenanglah, islam itu berada dalam diri manusia. Damai itu berada dalam diri manusia. Sejahtera itu berada dalam diri manusia.

Sekali lagi, lesatkan kemuslimanmu, lejitkan keakademismu: begitulah zaman sekarang, Taufik.

2017

Belum ada Komentar untuk "Muslim Akademisi "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel